Istri Comel Pilihan Abi

Istri Comel Pilihan Abi
Permintaan Terakhir


__ADS_3

Satu minggu lagi, Shelly akan menjalani operasi transplantasi sumsum tulang belakang. Zain akan mendonorkan sumsum tulang belakangnya demi kesembuhan sang adik. Adam, Zain dan keluarga mereka berharap, semoga operasi yang akan dilakukan satu minggu lagi berjalan dengan lancar sehingga penyakit Shelly segera bisa disembuhkan.


Pagi ini langit terlihat begitu muram, rintik gerimis mulai membasahi bumi. Meski langit sudah memberi pertanda bahwa akan turun hujan deras, tak mengurungkan niat Tiara untuk pergi menuntut ilmu. Begitu pun dengan Adam yang sudah nampak bersiap untuk mengantar putrinya ke sekolah terlebih dahulu, sebelum ia berangkat ke kantor.


"Ma, Tiara berangkat ke sekolah dulu ya," ucap Tiara sembari mencium punggung tangan Shelly.


Terukir senyuman di bibir Shelly. Ia belai jilbab putrinya dengan lembut. "Hati-hati ya Sayang! Semoga kelak Tiara menjadi seorang gadis yang sukses di dunia dan akherat," doa tulus Shelly.


"Aamiin, makasih Mama."


Shelly mengangguk pelan. "Iya Sayang."


"Shel, aku berangkat dulu ya! Jangan lupa diminum obatnya!" Adam mencium kening Shelly, menumpahkan perasaan cinta dan kasih sayang seorang suami terhadap istrinya.


"Iya Dam. Hati-hati di jalan! Aku mencintaimu, Dam." Shelly menatap manik mata Adam. Tatapan Shelly menyiratkan perasaan cintanya terhadap Adam yang mendalam.


Senyum terbit di bibir Adam tatkala mendengar ucapan sang istri. Andai saja tidak ada Tiara di ruangan itu, Adam ingin sekali memagutkan bibir mereka untuk memberi keyakinan kepada Shelly bahwa ia juga mencintainya.


"Aku juga mencintaimu Shel, lekas sembuh ya Sayang!"


"Aamiin, makasih Dam."


"Assalamu'alaikum, Mama."


"Wa'alaikumsalam Tiara sayang."


Adam dan Tiara melangkah pergi, meninggalkan Shelly yang masih berdiri terpaku.


.


.


Setelah Adam dan Tiara berangkat, Shelly berjalan ke balkon untuk menemui Aulia. Kebetulan tadi malam, Rani dan Aulia menginap di kediaman keluarga Rizal atas permintaan kedua mertua Shelly.


Aulia sudah terlihat duduk dengan santainya sembari membaca koran. Sedangkan Rani, tengah berbincang dengan Rahma di ruang keluarga.


"Dek Aulia," sapa Shelly sambil mendaratkan pantatnya di kursi, bersebelahan dengan sang adik.


"Mbak Shelly." Aulia melipat koran kemudian meletakkannya di atas meja.


"Dek, sebenarnya ada hal penting yang ingin mbak Shelly sampaikan kepadamu."


Aulia sedikit mengernyitkan keningnya. Entah mengapa tetiba perasaannya menjadi tidak enak.


"Apa yang ingin Mbak Shelly sampaikan?"


Shelly menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan perlahan. Seolah ia tengah menahan rasa sesak di dada.


"Dek, sampaikan surat ini kepada Adam, jika terjadi sesuatu pada Mbak Shelly!" Wajah Shelly nampak sendu. Ia keluarkan amplop berwarna merah jambu yang berisi goresan tangannya.


Netra Aulia memanas. Dadanya serasa sesak ketika mendengar ucapan Shelly, kakak yang sangat disayanginya.


"Aulia tidak akan menerima surat itu, Mbak. Aulia juga tidak akan memberikannya kepada Mas Adam. Tidak akan terjadi sesuatu yang buruk menimpa Mbak Shelly."

__ADS_1


Shelly menatap manik mata Aulia dengan intens. "Dek, beberapa hari ini, Mbak Shelly bermimpi di jemput oleh ayah dan Zidan. Mbak Shelly merasa, sebentar lagi akan tiba waktunya menghadap sang pemilik nyawa. Mbak sangat berharap, Dek Aulia bersedia untuk mengabulkan permintaan Mbak Shelly yang mungkin untuk terakhir kalinya." Lolos sudah buliran bening yang sedari tadi tertahan di pelupuk mata Shelly dan Aulia. Keduanya pun saling berpeluk erat.


"Mbak, Aulia mohon, bertahanlah! Mas Zain akan berusaha menyembuhkan penyakit Mbak Shelly."


"Dek, Mbak Shelly sudah berusaha bertahan. Namun entah mengapa, Mbak Shelly merasa bahwa bukan penyakit ini yang akan merenggut nyawa Mbak Shelly."


Tangis keduanya pun semakin pecah, seiring dengan derasnya air langit yang jatuh membasahi bumi.


🌹🌹🌹


Setelah mengantar Keanu ke sekolah, Abimana mengurungkan niatnya untuk berangkat ke kantor. Ia melimpahkan semua pekerjaannya kepada Rifky.


"Selagi suasana mendukung dan si kecil sedang tidak berada di rumah, aku pulang saja ahh. Kean, ayah dan bunda akan berikhtiyar untuk memberikanmu adik," Abimana bermonolog. Senyum penuh makna terlukis indah di bibirnya.


.


.


Kirana terkesiap saat tangan kekar memeluknya dari belakang. Kirana membalikan tubuhnya hingga berhadapan dengan si pemilik tangan kekar yang memeluknya secara tiba-tiba.


"Ayah, kenapa pulang? Ayah tidak jadi pergi ke kantor?" tanya Kirana dengan menatap wajah tampan suaminya lekat-lekat.


Abimana mengulas senyum. "Tidak Bund. Ayah sudah mempercayakan semua pekerjaan kepada Rifky. Selagi suasananya mendukung, kita akan berikhtiyar untuk memberikan Keanu adik. Semoga bukan hanya seorang, tapi dua orang adik."


Rona merah tercetak jelas di pipi Kirana saat mendengar jawaban suaminya.


Abimana menggendong istrinya ala brydal style. Kirana pun mengalungkan tangannya di leher sang suami.


Perlahan Abimana membaringkan tubuh Kirana di atas ranjang.


"Semenjak Keanu mengutarakan keinginannya untuk memiliki adik, bunda tidak pernah mengkonsumsi pil KB lagi, Yah."


"Hemmm, syukurlah kalau begitu."


Abimana mulai melepas jas dan kemeja yang ia kenakan. Ia kecup kening istrinya sembari mengucapkan doa sebelum bersenggama.


Seusai mengucap doa, Abimana menghujani wajah cantik istrinya dengan kecupan. Sentuhan tangan Abimana seakan menjadi candu bagi Kirana. Mereka pun semakin tenggelam dalam asmaraloka.


Gemericik air hujan mengiringi suara lenguhan sepasang kekasih yang tengah mereguk kenikmatan surga dunia.


🌹🌹🌹


PRANGG


Suara gelas yang terjatuh dari tangan Hana. Entah mengapa tetiba perasaannya menjadi tidak enak.


"Astaghfirullahal adzim," pekik Hana seketika.


"Ada apa, Humaira?" Fadhil berjalan mendekati sang istri. Sudah dua hari ini, Fadhil membawa istrinya ke kantor.


"Entahlah, Mas. Perasaan Hana tidak enak. Seolah akan terjadi sesuatu hal buruk. Naudzubillah min dzalik."


"Semoga Allah senantiasa melindungi kita dari segala keburukan, Humaira. Tenangkan pikiranmu! Sekarang duduklah Humaira! Biar Ipul yang akan membersihkan pecahan gelasnya." Fadhil menuntun istrinya untuk duduk di sofa.

__ADS_1


"Mas, sebenarnya ada yang ingin Hana sampaikan kepada Mas Adam. Namun, Mbak Shelly melarangnya."


Fadhil menautkan alisnya. "Maksud Humaira?"


"Mas, Mbak Shelly sedang mengidap penyakit leukemia. Mbak Shelly melarang Hana untuk menyampaikannya kepada Mas Adam. Hana takut, Mas Adam akan terlambat mengetahui kebenaran mengenai penyakit yang di derita oleh istrinya."


Fadhil terkesiap mendengar jawaban dari Hana. "Astaghfirullahal adzim. Mmm ... baiklah kalau begitu, biar Mas Fadhil saja yang akan memberitahu Mas Adam. Humaira jangan terlalu memikirkan Mbak Shelly ya! Kasihan dedek yang ada di dalam rahim. Mas Fadhil tau, Humaira sangat menyayangi Mbak Shelly."


Hana mengangguk pelan. "Iya, Mas."


Fadhil meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Ia pun melakukan panggilan telepon ke nomer handphone Adam.


"Assalamu'alaikum, Mas Adam."


"Wa'alaikumsalam. Ada apa, Dhil?"


"Mas, ada hal serius yang ingin Fadhil sampaikan."


"Hal apa, Dhil?"


"Mas, Hana berkata bahwa Mbak Shelly tengah mengidap penyakit leukemia."


"Iya Dhil. Shelly memang sedang mengidap penyakit tersebut. Lalu, apa hubungannya dengan Hana?"


"Syukurlah jika Mas Adam sudah mengetahuinya. Mbak Shelly melarang Hana untuk menyampaikan penyakit yang sedang dideritanya kepada Mas Adam. Hana menjadi kepikiran Mas."


"Sampaikan kepada Hana bahwa Mas Adam sudah mengetahuinya. Insya Allah, satu minggu lagi, Shelly akan menjalani operasi transplantasi sumsum tulang belakang. Doakan semoga operasinya berjalan dengan lancar ya Dhil!"


"Fadhil dan Hana akan mendoakan Mbak Shelly, Mas. Semoga operasinya berjalan lancar dan Mbak Shelly segera diberikan kesembuhan, aamiin."


"Aamiin, makasih Dhil. Oya, bagaimana kabar Hana?"


"Alhamdulillah, baik Mas. Saat ini, Hana tengah mengandung buah hati kami."


"Alhamdulillah, ikut berbahagia. Selamat atas kehamilan istrimu, Dhil. Semoga Hana dan calon bayi kalian selalu dalam lindungan-Nya."


"Aamiin, trimakasih Mas. Salam untuk Mbak Shelly dari kami. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam. Insya Allah, nanti akan Mas Adam sampaikan, Dhil."


Setelah mengakhiri teleponnya, Fadhil menatap wajah cantik sang istri lekat-lekat.


"Humaira, Mas Adam sudah mengetahui penyakit yang di derita oleh Mbak Shelly. Insya Allah, satu minggu lagi, Mbak Shelly akan menjalani operasi transplantasi sumsum tulang belakang."


"Syukur Alhamdulillah, Mas. Semoga penyakit mbak Shelly dapat segera disembuhkan, aamiin."


"Iya Humaira, aamiin yaa Robb."


🌹🌹🌹🌹


Insya Allah, dua atau tiga episode lagi ICPA end. Trimakasih bagi readers dan sobat author yang telah setia mengikuti serta mendukung ICPA. Mohon maaf jika ada salah ketik atau typo. 🙏🙏🙏


Jangan lupa untuk meninggalkan jejak like dan klik hadiah atau vote sebagai bentuk dukungan kepada ICPA. 💓💓💓

__ADS_1


Trimakasih dan selamat membaca 💓💓💓


__ADS_2