Istri Comel Pilihan Abi

Istri Comel Pilihan Abi
Curhatan Seorang Pemuda


__ADS_3

Sudah enam hari Kirana dirawat secara intensif di rumah sakit. Fabian sebagai dokter yang memantau perkembangan kondisi Kirana, memperbolehkan pasiennya untuk pulang ke rumah dan menjalani rawat jalan. Kini Kirana sudah bisa duduk meski harus bersandar pada bantal.


Sekembalinya ke rumah, Abimana sangat perhatian kepada sang istri. Pria itu juga sangat telaten merawat Kirana, meski kejahilan Abimana terkadang kambuh. Namun berkat kejahilan Abimana, justru Kirana merasa terhibur dan sejenak melupakan kesedihan karena rikmanya belum juga tumbuh.


Saat ini mereka tengah berbincang di atas ranjang dengan bersandar pada bantal.


"Bie, maaf membuatmu kelelahan merawat istrimu yang tidak berguna ini," ucap Kirana dengan sendu.


Perlahan Abimana menyandarkan kepala sang istri di dada bidangnya.


"Sayang, aku tidak akan pernah lelah, bahkan dengan senang hati melakukan apapun yang terbaik untuk istriku tercinta. Jangan bilang bahwa Sayang tidak berguna! Hatiku seakan tercubit bila Sayang mengucapkannya. Asal Sayang tau, tanpa kehadiranmu apalah diriku ini. Hanya seorang pria rapuh yang tak tau ke mana arah tujuan hidup." Abimana mengecup puncak kepala istrinya dengan hati-hati.


Kirana merasakan ada getaran yang mengalir hangat. Betapa ia tidak pernah mengira akan mendapatkan cinta luar biasa dari seorang sahabat yang kini telah menjadi suaminya. Takdir cinta yang penuh liku membawa mereka pada kenyataan yang tiada pernah terduga, tanpa disadari ternyata cinta sejati ada di depan mata, sahabat menjadi kekasih halal, in shaa Allah till janah.


Rembulan nampak malu-malu melihat kemesraan mereka berdua, meski keduanya hanya saling berpeluk dan memberikan kecupan tanpa melakukan penyatuan raga.


🌹🌹🌹


Di pendopo rumah milik salah seorang dokter yang terkenal di kota ini, nampak seorang pemuda sedang menumpahkan segala isi hati kepada ibundanya.


Pria itu menampakan raut wajah sendu, seolah hatinya tengah berperang melawan kenyataan yang menyakitkan. Ya, pemuda tampan itu Fabian, sedangkan ibundanya adalah Dokter Zahra.


"Bunda, apakah salah jika putra bunda mencintai seorang wanita yang sudah menjadi milik pria lain?"


"Bukan tentang salah atau tidaknya, Bian. Namun, cinta yang kamu miliki jangan sampai membutakan mata hati! Jangan pernah beranggapan bahwa cinta harus memiliki! Bila wanita yang kamu cintai belum mempunyai suami, berarti masih ada kesempatan untuk memperjuangkannya. Namun bila ia sudah memiliki suami, jangan pernah berharap dan menjadi orang ketiga di antara mereka!" Zahra mengusap punggung putranya.

__ADS_1


"Bunda, wanita yang Bian cintai sudah mempunyai suami. Dia sahabat Bian. Meski sudah berusaha melupakannya, namun Bian belum mampu. Bian masih sangat menyayangi dan mencintainya." Fabian melemparkan pandangannya ke langit yang dihiasi rasi bintang. Terbayang olehnya, masa-masa indah ketika menjalani hari bersama Kirana selama mereka masih duduk di bangku kuliah. Canda dan tawa Kirana masih lekat diingatan.


Meski Fabian sudah tidak lagi memasang bingkai foto Kirana di kamar, namun nyatanya tetap susah untuk menghempaskan rasa cinta yang terlanjur tertanam di dalam hati. Achhh, seandainya waktu bisa berputar kembali, Fabian ingin mengungkapkan rasa cinta yang terpendam pada sahabat sekaligus sang pencuri hati. Meski ia tidak bisa memastikan, bahwa Kirana akan menyambut perasaannya ataupun tidak.


"Bian, yakinlah suatu saat pasti kamu bisa melupakan wanita itu. Apalagi dia sudah mempunyai seorang suami. Kelak akan datang padamu wanita yang terbaik pilihan Allah. Percayalah bahwa pria yang baik akan mendapatkan jodoh seorang wanita yang baik juga. Sandarkan hatimu pada Sang Maha Cinta, karena dialah yang mampu membolak-balikan hati dan menghembuskan perasaan cinta dalam kalbu setiap insan."


Fabian menghela nafas panjang dan perlahan menghembuskannya. Ia berusaha menelaah semua apa yang telah dituturkan oleh ibundanya.


"Apa yang Bunda tuturkan sangat benar. Bian akan terus berusaha menghempaskan perasaan cinta ini. Bunda, mohon doa agar Bian segera bertemu dengan seorang wanita yang mampu mengalihkan perasaan putra bunda terhadap Kiran."


GLEG


Zahra terkejut tatkala putranya menyebut nama KIRAN.


"Kiran? Maksudmu Kiran siapa, Bian?" tanya Zahra dengan menatap lekat-lekat kedua manik hitam putra tercinta.


Zahra semakin terkejut mendengar nama wanita yang mampu membuat putra tercintanya jatuh hati.


"A ... apa??? Ayunda Kirana?"


"Iya Bunda. Wanita itu salah seorang dokter yang bekerja di klinik Bunda sebagai dokter obgyn."


"Astaghfirullah.... Dulu Bunda juga sempat berpikiran untuk menjodohkanmu dengannya, Bian. Namun, saat itu Bunda merasa ragu. Maafkan Bunda, sayang! Bunda tidak tau kalau kalian sudah saling mengenal, bahkan putra Bunda sangat mencintai Kiran," ucap Zahra sembari memeluk putra tercintanya. Nampak raut penuh penyesalan yang terlukis di wajahnya.


Fabian membalas pelukan ibundanya. Buliran bening lolos begitu saja dari kedua sudut netra Zahra dan Fabian. Berulang kali Zahra mengucapkan kata maaf kepada Fabian.

__ADS_1


"Sudahlah Bunda. Mungkin Kiran memang bukanlah jodoh Fabian. Meski seandainya dulu Bunda menjodohkan kami, belum tentu juga Kiran akan menerimanya. Apalagi setelah melihat Kiran dan suaminya yang selalu terlihat romantis, Bian sangat yakin bahwa mereka saling mencintai."


Perlahan Zahra dan Fabian melerai pelukan mereka dan menyeka buliran bening dengan jemari tangan.


"Bian, yang sabar ya! Bunda yakin, Bian akan mendapatkan wanita yang lebih sempurna."


"Bian tidak ingin melihat seorang wanita karena kesempurnaannya, Bund. Bian hanya menginginkan seorang wanita yang mampu membuat Bian merasa nyaman bila berada di sisinya."


Ucapan Fabian sukses membuat hati ibundanya merasa tercubit. Dulu Zahra menikah dengan ayah Fabian hanya karena pria itu terlihat sempurna dan bergelimang harta. Namun kenyataan yang tersirat, kesempurnaan hanyalah milik Dia Yang Maha menciptakan alam semesta beserta isinya. Sedangkan harta yang berlimpah hanyalah titipan dari-Nya. Pernikahan Zahra dan suaminya pun harus kandas karena adanya orang ketiga.


Pada kenyataannya, setiap insan itu tidak ada yang sempurna. Allah telah menutupi aib kita dengan limpahan kasih sayang. Bahkan harta yang kita miliki adalah salah satu bentuk ujian dari-Nya. Apa saja yang kita belanjakan di dunia, maka akan menuai balasannya di akherat.


🌹🌹🌹🌹


Readersss


Jangan lupa untuk like 👍


Beri komentar


Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐


Vote jika berkenan dan memiliki kelebihan poin 😂


Klik emote ❤ untuk fav novel

__ADS_1


Share juga boleh 😂


Trimakasih dan happy reading 😘😘😘


__ADS_2