
Tanpa terasa waktu bergulir begitu cepat, kini usia baby Keanu genap dua bulan. Selama dua bulan Abimana selalu mendampingi anak dan istrinya, tinggal di desa W. Semua urusan perusahaan ia percayakan kepada Rifky dengan pengawasan Hasan, ayah Abimana.
Kini saatnya mereka berpamitan kepada kepala desa dan warga desa W. Bukan hanya Abimana dan Kirana saja yang berpamitan, namun Sindy beserta calon suaminya juga berpamitan. Sindy dan Fabian berencana pulang ke Jakarta untuk meminta restu kepada orang tua mereka. Keduanya berencana untuk segera menikah.
Derai tangis mengiringi kepergian mereka dari desa W. Meski baru beberapa bulan saling mengenal, nyatanya Kirana, Sindy, Fabian dan Abimana sudah mendapatkan tempat di hati seluruh warga. Mereka berempat berjanji, akan sering berkunjung ke desa W.
Sebelum masuk ke dalam mobil, Kirana mengedarkan pandangannya pada hamparan bunga amarillis. Bunga yang menjadi saksi awal mula pembangunan di desa W.
Kirana tidak pernah menyangka bahwa perpisahannya dengan Abimana yang hanya sementara, terselip kehendak Allah yang sangat indah.
.
.
Selama perjalanan menuju ke kota, baby Keanu tidak rewel. Bayi tampan itu tertidur pulas di pangkuan sang Bunda setelah puas menyesap asi.
"Bie, putra kita sangat lucu ya? Lihatlah, pipinya bertambah chubby!" Kirana mengusap pipi baby Keanu dengan lembut.
"Iya, persis bundanya. Terkadang lucu. Pipinya juga mirip Bunda, chubby." Abimana menoleh sekilas ke arah istrinya disertai senyuman.
"Achhhh, yang bener Bie? Pipiku chubby?" Kirana mengambil cermin kecil yang ada di dalam tas selempang, kemudian melihat pantulan wajahnya di cermin.
Raut wajah Kirana berubah sendu. "Kenapa pipiku bisa se-chubby ini? Aku sudah tidak cantik lagi ya Bie?"
Abimana tertawa mendengar ucapan istrinya, namun tetap fokus menyetir.
"Chubby, malah tambah cantik Bunda. Kecantikan Bunda tidak akan luntur hanya karena bertambah chubby."
"Benarkah?" tanya Kirana ragu.
"Hehem, perlu pembuktian?" Abimana menarik kedua sudut bibirnya hingga nampaklah senyuman yang menawan.
"Ya," jawab Kirana singkat.
"Baiklah, nanti malam akan aku buktikan, Bunda. Sudah selesai kan masa nifasnya?"
Kirana terkesiap mendengar ucapan suaminya. Seketika dicubitnya perut Abimana karena gemas.
"Awww.... Sakit Bunda. Aku baru menyetir lho...." pekik Abimana.
"Makanya jangan mesu*! Aku bertanya serius Bie," ucap Kirana dengan sebal.
"Aku dua rius malahan, Bund."
__ADS_1
"Nah kan, bercanda lagi."
"Aku nggak bercanda Bunda tercinta. Nanti malam kita dinner, Bunda memakai dress warna pink, so pasti akan menjadi pusat perhatian banyak orang terutama kaum Adam karena kecantikan Bunda yang terpancar. Itu maksudku," terang Abimana disertai seulas senyum. Rasanya ingin tertawa namun ia tahan. Sebenarnya ucapan yang baru saja dilontarkan hanya alibi supaya Kirana tidak merajuk.
"Hubby rela jika istrimu ini menjadi pusat perhatian pria lain?" Kirana mengerucutkan bibirnya.
"Nah kan salah lagi," batin Abimana.
"Bukan itu maksudku Bunda. Jelas aku tidak rela bila kecantikan istriku menjadi pusat perhatian pria lain. Sudah ya Bund berdebatnya! Aku mau fokus menyetir dulu. Nanti kita lanjutkan di rumah."
Wajah Kirana nampak cemberut. Ia edarkan pandangannya ke luar. Abimana menghentikan mobilnya karena lampu lalu lintas berganti merah.
"Cik... cik.. wik.. wik.. eweerr... ewerrr.... Kowe tak sayang-sayang saiki malah ngilang. Tresnamu karo aku kuwi mung kiasan. Kowe tak gadang-gadang tegane gawe wirang. Anggonku labuh kowe opo isih kurang."
Kedua netra Kirana membulat sempurna ketika melihat seorang waria dengan bulu mata yang cetar membahana. Kirana tergelak mendengar suara yang sangat familiar. Yapz, suara Miranda alias Maradona. Kali ini Miranda duet dengan seorang pria bule yang memakai pakaian khas jawa, lurik.
Kirana membuka kaca mobil dan mempersiapkan dua lembar uang berwarna merah.
"Mbak Miranda," panggilnya sedikit berteriak.
Miranda menoleh ke asal suara. Bibirnya mengembangkan senyuman ketika melihat seorang wanita cantik yang memanggil.
"Oh, my honey. Aku datang Sayang." Miranda berlari kecil ke arah mobil Abimana.
"Honey, aku merindukanmu." Mata Miranda nampak berbinar karena merasa bahagia bertemu kembali dengan Kirana. Jelas bahagia, karena Kirana sering memberikan uang yang cukup banyak untuk Miranda, jika mereka bertemu. Ahh dasar Miranda mata duitan. 😌
"Honey, apa kabar? Upssss tralala... Ternyata ada Babang Hito." Kedua netra Miranda membulat sempurna ketika melihat Abimana. Mulutnya yang menganga ia tutup dengan telapak tangan.
"Baik mbak. Mbak Miranda duet dengan siapa? Pacarnya ya?" tanya Kirana disertai senyuman.
"Aichhhhh, bukan pacar akuh Yang. Dia turis yang kesasar dan nggak tau jalan pulang. Honey pasti cemburu kan?" Miranda mengerjap-ngerjapkan matanya hingga bulu mata yang cetar membahana meliuk-liuk.
"Haisssshhhh, cemburu? Amit-amit Mbak Miranda." Kali ini raut wajah Kirana berubah masam.
"Ohhhh, yayang bebeb pasti bilang amit-amit karena ada Babang Hito kan?" canda Miranda.
"Terserah apa katamu, Mbak. Nih, nanti dibagi berdua sama babang bule ya!" Kirana memberikan dua lembar uang kertas berwarna merah kepada Miranda.
Miranda menerima uang pemberian dari Kirana dengan bersemangat, kedua netranya berbinar, mulutnya terbuka lebar.
Kirana segera menutup kembali kaca mobil.
"Honey, maacih. I love you Honey," ucap Miranda dengan menempelkan wajahnya pada kaca mobil.
__ADS_1
Beruntung lampu berganti hijau, Miranda pun berjalan menjauh dari mobil yang dikendarai oleh Abimana dengan melambaikan tangan.
Abimana segera melajukan mobilnya menembus keramaian jalanan kota Jogja. Abimana nampak senyum-senyum sendiri tatkala terngiang ucapan Miranda.
"Kenapa Hubby senyum-senyum sendiri?" tanya Kirana dengan menyipitkan matanya.
"Ohhh, aku keinget ucapan Miranda, Bund. Sepertinya Miranda alias Maradona, naksir Bunda." Abimana terkekeh.
"Huekkkkk, rasanya ingin muntah Bie mendengar ucapan Miranda alias Maradona."
"Mungkin Miranda hadir untuk menyadarkan Bunda."
"Maksudmu apa Bie?"
"Tadi kan Bunda ingin meminta pembuktian. Nah, tanpa kita sangka ternyata malah bertemu dengan Miranda. Nampaknya, Miranda tertarik dengan kecantikan Bunda. Karena kecantikan Bunda tetap sama dan tidak pernah memudar."
Kirana membuang nafas kasar. "Huftt, ditaksir Miranda, nggak bakalan bikin hati meleleh."
Abimana menghentikan mobil tepat di halaman rumahnya. Pandangan kedua netranya beralih menatap wajah cantik Kirana.
Abimana meraih dagu istrinya dan memberikan kecupan di bibir ranum wanita yang sangat dicintai.
"Biarkan Babang Hito saja yang naksir, Bund." Kirana mengulas senyum dan mengangguk pelan.
"Iya Bie."
Setelah ke luar dari mobil, Abimana membukakan pintu untuk istrinya. Dengan perlahan, Kirana ke luar dari dalam mobil dengan menggendong Keanu.
Kedua netra Kirana menampakan binar kebahagiaan, tatkala melihat rangkaian bunga mawar putih yang menghiasi teras rumah. Di atas pintu rumah terpasang papan yang bertuliskan, "Welcome Baby Keanu and Mom."
🌹🌹🌹🌹
Readers, jangan lupa untuk selalu menyemangati author, hingga ICPA end. ❤❤❤
Tinggalkan jejak like 👍
Beri komentar
Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Vote atau hadiah jika berkenan
Klik emote ❤ untuk fav karya
__ADS_1
Trimakasih dan happy reading