Istri Comel Pilihan Abi

Istri Comel Pilihan Abi
Kabar Duka


__ADS_3

Tiga bulan kemudian, kepala Kirana sudah terhiasi oleh rikma. Kini wanita cantik itu sedang duduk di depan cermin sembari memperhatikan pantulan dirinya. Ada guratan kesedihan tatkala ia melihat bekas jahitan yang masih terlihat sangat jelas. Kirana tersenyum getir.


Abimana keluar dari dalam kamar mandi dengan rambut basah dan hanya berbalut handuk di pinggangnya.


Setelah berganti pakaian, Abimana melangkahkan kaki mendekati sang istri yang terlihat melamun di depan cermin.


Abimana mencium pucuk kepala istrinya dengan penuh cinta. Kirana terhenyak dan tersadar dari lamunan.


"Apa yang sedang Sayang lamunkan hemmm?"


"Rambutku Bie. Aku merindukan rambut panjangku." Raut wajah Kirana nampak sendu.


Kirana membalikan badan, kini keduanya saling berhadapan. Abimana duduk bersimpuh di hadapan sang istri dan menatap kedua manik hitam Kirana dengan intens.


"Yank, kata Dilan jangan rindu karena rindu itu berat. Jangan merindukan rambut panjangmu, tapi rindukanlah senyuman pria tampan ini!" Abimana terkekeh.


Kirana memutar bola mata malas dan menjapit hidung suaminya karena gemas.


"Awww sakit Yank," rintih Abimana sembari mengusap hidungnya yang memerah.


"Hehehe... Habisnya, kamu tambah gombal, Bie."


"Dan tambah tampan juga kan?" Abimana mengerlingkan mata.


"Hemzzzz.... Bolehkah aku kembali bekerja Bie?" Kirana menangkup pipi Abimana dengan kedua telapak tangannya.


"Lebih baik Sayang istirahat saja di rumah, biarkan suamimu ini yang mencari nafkah."


Kirana membuang nafas kasar, "Huffftt, aku kesepian tiap siang hingga sore di rumah sendiri." Kirana menarik perlahan kedua tangannya yang menangkup wajah sang suami. Ia pun beranjak dari duduk dan berjalan menjauh dari suaminya dengan menampakan raut wajah cemberut.


Abimana segera berdiri kemudian berjalan mengekor istrinya.


"HAPP ... aku menangkapmu Sayang." Abimana memeluk sang istri dari belakang. Pria tampan itu mulai menciumi tengkuk istrinya.


"Bie, lepas!!! Aku sedang sebal denganmu," ucap Kirana dengan menaikan sedikit intonasi suaranya.


"Oh ya? Masa sihhh?" Abimana terkekeh dan semakin mengeratkan pelukannya.


"Hubbyyy.... Aku mau tidur."


"Aku juga. Sebelum tidur, kita berikhtiyar untuk mendapatkan keturunan yuk Yank! Supaya Sayang tidak kesepian lagi bila berada di rumah sendiri."


"Bie, aku sedang tidak bercanda. A-aku benar-benar ingin kembali bekerja. Selain itu aku juga kesepian," ucap Kirana lirih.


Abimana melerai pelukannya dan membalikan tubuh Kirana perlahan hingga mereka pun saling berhadapan.


"Yank, jika merasa kesepian, Sayang bisa berkunjung ke rumah orang tua kita. Sebenarnya aku hanya tidak ingin Sayang kelelahan bila kembali bekerja."

__ADS_1


Kirana hanya terdiam dan masih menampakan raut wajah sendu. Ia benar-benar sudah merindukan pekerjaannya sebagai seorang dokter obgyn. Alasan Abimana seolah tetap tidak mampu menahan keinginannya yang membuncah.


Tes....


Buliran bening tiba-tiba menetes dari kedua sudut netra Kirana. Abimana merasa bersalah karena telah membuat istrinya menangis. Ia pun mendekap sang istri ke dalam pelukan.


"Sayang, maafkan aku karena telah membuatmu menangis! Baiklah, aku akan mengijinkan Sayang untuk kembali bekerja."


Ucapan Abimana seketika mampu membuat Kirana mengukir senyum.


"Benarkah Bie? Hubby benar-benar mengijinkanku kembali bekerja?"


"Iya Sayang, jika itu bisa membuat Sayang merasa bahagia."


"Trimakasih Bie." Kirana membalas pelukan suaminya, hingga mereka saling berpeluk dengan erat.


Drttt ... drttt ....


Terdengar suara getaran dari benda pipih yang tergeletak di atas nakas. Abimana dan Kirana melerai pelukan mereka.


Kirana meraih ponselnya dan segera menjawab panggilan telepon.


📞 "Asalamu'alaikum, ada apa Rif?"


📞 "Hiks ... hiks, wa'alaikumsalam Mbak Kiran. Nita, nita ...."


📞 "Nita sudah melahirkan seorang bayi laki-laki Mbak. Tapi, nyawa Nita tidak tertolong." (Suara tangis Arif pecah)


GLEG


Dada Kirana terasa sesak, tangannya gemetar, buliran bening seketika jatuh tanpa permisi. Abimana segera mendekati sang istri dan meraih ponsel dari tangan Kirana.


📞"Hallo."


📞"Ya Mas. Maafkan Arif karena mengabarkan berita duka ini, hiks ... hiks."


📞 "Maksudmu apa Rif?"


📞 "Nita meninggal Mas, setelah berhasil melahirkan putranya, hiks ... hiks."


GLEG


Mendengar kabar duka itu, dada Abimana pun juga merasa sesak.


📞 "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Kami ikut berbelasungkawa Rif. Kapan Nita akan dimakamkan dan bagaimana kondisi bayinya?"


📞 "Alhamdulillah bayi Nita dalam keadaan sehat. Insyaallah, Nita akan dimakamkan besok pagi, hiks ... hiks."

__ADS_1


📞 "Yang sabar Ya Rif! Ikhlaskan Nita, semua sudah kehendak Allah."


📞 "Iya Mas, hiks.... Mungkin Nita bukanlah jodoh Arif, hiks...."


📞 "Percayalah Rif, akan datang kepadamu seorang wanita pengganti Nita, sosok bidadari pilihan Allah, yang terbaik. Dibalik semua ujian, pasti ada kebahagiaan yang tengah Allah persiapkan untuk pria sebaik dirimu."


📞 "Aamiin, Insya Allah Mas." (Arif mulai bisa meredam emosi, isak tangisnya pun mulai mereda)


📞 "Rif, siapa yang akan menjadi orang tua angkat bayi yang dilahirkan Nita."


📞 "Aku, Mas. Karena semenjak masih berada di dalam kandungan ibunya, bayi itu sudah aku anggap sebagai putraku sendiri."


📞 "Masya Allah, Mas semakin kagum padamu Rif."


📞 "Mas, saya akan mengurus jenazah Nita dulu ya. Asalamu'alaikum."


📞 "Iya Rif, wa'alaikumsalam."


Setelah panggilan telepon dari Arif dimatikan, Abimana memeluk kembali istrinya yang terlihat sangat berduka. Kirana pun meluapkan kesedihannya dengan menangis dalam pelukan sang kekasih.


Setelah tangis Kirana mereda, Abimana melerai pelukan mereka dan menghapus jejak air mata dari wajah sang istri dengan jemari tangan. Kemudian, Abimana mengangkat tubuh Kirana serta membaringkannya di atas ranjang.


Abimana mencium kening istrinya dengan penuh perasaan seraya memberikan ketenangan.


"Bie."


"Ya, ada apa Sayang?"


"Kabarkan berita duka ini kepada Raikhan dan Alya! Karena mereka juga sahabat Arif."


"Baiklah Yank, aku akan segera menghubungi mereka."


Abimana meraih ponselnya dan segera menghubungi Raikhan.


Kirana menatap langit-langit kamar, terbayang olehnya kenangan saat bersama Nita, meski hanya sesaat.


"Nit, mengapa takdirmu semenyedihkan ini? Baru saja kebahagiaan akan menyapamu, namun Dia berkehendak lain. Mungkin surga adalah tempat yang terbaik untukmu, Nita."


Kehamilan pada remaja yang berusia kurang dari 18 tahun sangat beresiko, bagi ibu hamil maupun bayinya. Oleh karena itu, bagi para remaja putri, jagalah kesucian kalian hingga saatnya tiba! Jangan karena berlandaskan cinta, kalian rela menyerahkan harta terindah yang semestinya hanya dipersembahkan untuk kekasih halal, suami kalian. 😊😊🙏🙏


🌹🌹🌹🌹


Readersss semoga tidak bosan ya dengan alur ceritanya. 😅😅😅


Trimakasih dan happy reading 😘😘😘


__ADS_1


__ADS_2