
Selama dua minggu, keluarga Ridwan mempersiapkan segala hal untuk pernikahan Ilham dan Kirana. Mulai dari pencetakan undangan yang dilakukan super kilat, memilih konsep pernikahan, fitting baju, penyewaan gedung, semua dilakukan dengan segera.
Keluarga Ridwan meminta Arya dan Suci untuk tinggal di rumah milik Ilham, agar lebih mempermudah persiapan pernikahan mereka. Ridwan mempertimbangkan beberapa resiko karena jarak rumah Arya yang cukup jauh dari rumahnya. Kebetulan Ilham sudah membeli rumah pribadi, meski ustadz muda itu masih tinggal bersama keluarganya.
Undangan pernikahan telah selesai dicetak. Abimana, Kiran, Ilham dan Suci, mulai menyebarkan undangan. Mereka mengundang keluarga besar, rekan bisnis Ridwan, rekan bisnis Hasan, rekan kerja, para sahabat, dan para tetangga.
Pernikahan mereka akan dilaksanakan di salah satu hotel berbintang lima. Dengan mengambil konsep elegant.
🌹🌹🌹
Mentari mulai menebarkan kehangatan. Semilir sang bayu memberikan rasa sejuk.
Pagi ini, Abimana dan Kirana mulai menyebar undangan, begitu pula dengan Ilham dan Suci.
Abimana melajukan mobilnya menuju rumah keluarga Abraham, untuk memberikan undangan pernikahan.
Sesampai di depan rumah Abraham, security segera membuka pintu gerbang. Abimana melajukan kembali mobilnya hingga sampai di halaman rumah Abraham yang sangat luas.
Setelah menaruh mobil, Abimana dan Kirana keluar dengan perlahan. Mereka berjalan menuju teras rumah.
Ting tong ... ting tong ....
Abimana memencet bel rumah, diikuti dengan ucapan salam.
"Asalamu'alaikum ...."
Setelah mengucap salam dua kali, pintu pun terbuka. Nampak wanita paruh baya berdiri dari balik pintu.
"Wa'alaikumsalam .... Ehhh, Mas Bima dan Mbak Kirana. Monggo silahkan masuk!" Wanita paruh baya yang bekerja di rumah Abraham, mempersilahkan masuk kedua tamunya.
Abimana dan Kirana melangkahkan kaki memasuki rumah Abraham.
Mereka bertiga berjalan hingga sampai ke ruang tamu.
"Monggo duduk dulu!"
"Trimakasih Bi Ijah," ucap Kirana setelah Ijah mempersilahkan duduk. Kirana dan Abimana duduk di sofa dengan bersebelahan.
__ADS_1
"Sami-sami Mbak Kirana, maaf saya panggilkan Mas Raikhan dan Mbak Alya dulu."
"Ya Bi. Jangan lama-lama ya Bi. Kalau lama nggak dapat mangkuk, cuma dapat gelas, hhhhehe," ucap Kirana disertai tawa.
"Asiaaappp Mbak Kirana, Bi Ijah memilih payung saja kalau ada," balas Ijah terseyum lebar. Ijah berjalan menaiki tangga menuju kamar tuan mudanya, Raikhan.
Tok ... tok ... tok ....
Ijah mengetuk pintu kamar Raikhan.
"Mas Raikhan, Mbak Alya .... Ada tamu. Mas Bima dan Mbak Kirana."
Suara Ijah membuat Raikhan terperanjat. Ia pun segera bangkit dari atas tubuh istrinya.
"Iya Bi. Sampaikan pada mereka, agar menunggu sebentar!" perintah Raikhan sedikit berteriak.
"Baik Mas Rai," balas Ijah. Wanita paruh baya itu segera berjalan menuruni tangga, menemui Abimana dan Kirana.
Raikhan dan Alya segera memakai pakaian lengkap, karena usai melakukan olah raga pagi. 🙈🙈
"Huffft, gagal lagi Yank," ucap Raikhan dengan nada kesal.
Alya terkekeh mendengar ucapan suaminya.
"Sayang, nanti kita lanjut ya!" Raikhan mengecup pucuk kepala sang istri.
"Hhhehe, iya Mas. Kalau tidak ada yang mengganggu." Alya mengerlingkan mata.
"Kita menginap di hotel saja Yank. Sudah cukup lama, aku merindukan saat-saat romantis penyatuan cinta kita kembali."
"Ide yang brilian Mas. Aku juga merindukan saat itu, setelah beberapa minggu menjalani masa nifas," balas Alya dengan bersandar di dada bidang suami tercinta.
"Achhh Sayang, ternyata kita sama ya ...." Raikhan tersenyum lebar.
"Huum. Mas, mungkin saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengembalikan cincin dan tasbih biru kepada Mas Abi," ucap Alya. Perlahan wanita cantik itu menengadahkan wajahnya dan menatap sepasang manik hitam Raikhan.
"Iya Yank, semoga Bima tidak tersinggung," balas Raikhan, sembari mengusap pipi istrinya.
__ADS_1
"Aku rasa Mas Abi tidak akan tersinggung Mas. Sebentar ya, aku ambil dulu cincin dan tasbih Mas Abi." Alya berjalan mendekat ke arah almari. Kemudian ia membuka almari pakaian, dan mengambil kotak berwarna merah, yang berisi cincin pemberian Abimana saat melamar dirinya, dan juga tasbih biru. Tasbih itu ditemukan oleh polisi di TKP, ketika kecelakaan tragis menimpa Abimana.
Alya membuka kotak merah, dan menatap cincin yang membuatnya teringat kenangan indah bersama mantan terindah, Abimana.
"Mas Abi, mungkin inilah waktu yang tepat untuk menghempas semua rasa yang masih tersisa, meski hanya setitik. Aku ikhlas dengan apa yang telah menjadi kehendak-Nya. Mas Abi, berbahagialah dengan kekasihmu yang baru. Kandasnya cinta kita, adalah mimpi buruk yang harus bisa terhempas," ucap Alya dalam hati.
Ia pun menutup kotak dengan perlahan.
"Ayo Sayang!" suara Raikhan menyadarkan
Alya yang tengah tenggelam dalam lamunan.
"Ehh iya Mas. Baby Alyra biar di sini saja. Kita minta Bi Ijah untuk menemani inces kecil," balas Alya dengan menampakan seulas senyum.
Mereka berdua berjalan keluar kamar, dan melangkahkan kaki menuju ruang tamu, untuk menemui Abimana dan Kirana.
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Readersss
Wahhhh Abimana dan Alya akan bertemu lagi yakkkk, haduh bagaimana perasaan Abimana ketika cincin dan tasbihnya dikembalikan oleh sang mantan???? 😅😅😅
Jangan lupa untuk selalu tinggalkan like 👍
Komentar
Klik emote ❤ untuk favorit
Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Klik Vote untuk memberi dukungan author
Happy reading dan trimakasih 😘😘😘
__ADS_1