Istri Comel Pilihan Abi

Istri Comel Pilihan Abi
Tamparan Bagi Diana


__ADS_3

Sejak terakhir kali Anggara berkunjung ke lapas dan memutuskan untuk tidak lagi menganggap Diana sebagai putrinya, hidup wanita itu kian dirundung kedukaan. Alden alias Tukiyo, sang kekasih yang padanya Diana menggantungkan segala harapan dan impian indah, sekalipun tidak pernah memberi kabar.


Ponirah dan para anak buahnya, masih tetap sama. Mereka selalu berusaha membuat Diana semakin tertekan tinggal di dalam sel. Beruntung, ada malaikat tak bersayap yang senantiasa menjadi penolong dan tempat Diana berkeluh kesah, Nurul.


Nurul merasa iba pada Diana, sehingga memindahkan wanita itu ke dalam sel tahanan lain. Kini, Diana hanya tinggal berdua dengan seorang nara pidana yang bernama Halimah.


.


.


"Di, apa yang membuatmu masuk ke dalam penjara?" tanya Halimah seusai membaca kalam cinta.


Diana mendesah, kedua netranya menatap langit-langit sel tahanan. "Hah, aku telah banyak berbuat kejahatan, Mah. Aku berusaha memisahkan sepasang kekasih yang saling mencintai, Pak Bima dan istrinya, Kiran. Aku menelanjangi tubuhku di hadapan Pak Bima, berharap pria tampan itu tertarik pada lekuk tubuh yang menggoda, namun ternyata aku salah. Pak Bima sama sekali tidak tergoda. Cinta dan kesetiaannya pada Kiran begitu besar. Aku sangat membeci Kiran, hingga berencana untuk menghancurkan hidupnya."


Diana menjeda ceritanya kemudian menghela nafas dan menghembuskan dengan perlahan.


"Aku menyuruh Kak Vano untuk menodai kehormatan Kiran. Kami pun menjalankan rencana jahat dengan dibantu oleh Tante Maria, ibu kandung Kiran. Istri Pak Bima berhasil kami sekap, kemudian Kak Vano mulai menodainya dengan memberikan ciuma* disertai nafsu pada kening dan bibir Kiran. Sebelum Kak Vano berhasil menodai seluruh tubuh Kiran, Pak Bima datang beserta teman-temannya. Mereka berhasil menggagalkan rencana yang sudah kami susun dengan rapi, menodai kehormatan Kiran agar Pak Bima merasa jijik dan tidak lagi mempunyai perasaan cinta terhadap istrinya."


Halimah terkesiap mendengar cerita mengenai kejahatan yang telah dilakukan oleh Diana. "Astaghfirullah, perbanyaklah memohon ampunan pada-Nya, Di! Kamu juga harus meminta maaf kepada Kiran dan Pak Bima!" pinta Halimah dengan menatap wajah Diana lekat-lekat.


Diana mengalihkan pandangannya menatap manik mata Halimah. "Mah, aku juga telah membunuh seorang ibu yang berusaha menjadi perisai putrinya. Aku berniat untuk membunuh Kiran dengan menghujamkan pisau belati tepat ke dadanya. Tanpa disangka, tiba-tiba Tante Maria menggunakan punggungnya sebagai perisai, hingga ia pun meninggal karena tusukan pisau belati yang aku hujamkan." Buliran bening mulai menetes dari kedua sudut netra Diana.


Halimah semakin terkesiap mendengar pengakuan Diana. Ia tidak menyangka, wanita berparas cantik yang kini satu sel dengannya, ternyata seorang wanita yang sangat jahat.


"Mah, bukan hanya itu dosaku. Aku telah berzina dengan Alden. A-aku tengah mengandung anaknya." Tubuh Diana berguncang hebat, deraian air mata semakin tak terbendung. Diusapnya perut yang sudah terlihat buncit.


Halimah mengusap-usap punggung Diana seraya memberi ketenangan.

__ADS_1


"Di, apa yang sudah terjadi, semoga menjadi pelajaran hidup bagimu. Bertaubatlah! Selama jantung kita masih berdetak, maka pintu ampunan-Nya masih terbuka lebar."


"Huuhuuu.... Tapi a-aku seorang pendosa, Mah. Bahkan, papa saja sudah tidak menganggap diriku sebagai putrinya."


"Di, Tuhan kita Maha Pemaaf. Insya Allah, jika kamu benar-benar memohon ampun dan bertaubat dengan taubatan nasuha, Dia akan mengampuni segala dosa-dosamu. Namun, kamu juga harus meminta maaf dengan tulus kepada orang-orang yang pernah terzalimi."


Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya. Mudah-mudahan Tuhanmu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu.


Diana menghela nafas dan perlahan menghembuskannya. Diusapnya jejak air mata dengan jemari tangan.


"Mah, ajari aku untuk memohon ampunan pada-Nya! A-aku sudah lama tidak pernah menyembah-Nya. Selama ini, aku hidup tanpa berbekal ilmu agama. Papa sibuk bekerja. Setiap hari aku dan Kak Vano menghabiskan waktu dengan bersenang-senang menikmati gemerlap kemewahan yang disediakan oleh papa. Sedangkan mama, sudah lama meninggal."


"Baiklah Di, kita akan belajar bersama. Bismillah, semoga Allah memberikan kemudahan, kesempatan dan keridhoan agar kita bisa menapaki kehidupan ini pada jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang diberikan kenikmatan, bukan jalan orang-orang yang mendapat murka dari-Nya."


"Iya Mah. Terimakasih atas ucapanmu yang membuatku semakin tersadar." Diana berusaha mengulas senyum, meski dadanya serasa sesak tatkala mengingat dosa-dosa yang telah ia perbuat, serta nasib malang yang tengah menimpa. Ditinggalkan Tukiyo alias Alden dalam keadaan hamil dan tidak dianggap putri oleh Anggara.


"Mah...."


"Ya...."


"Bagaimana bisa, wanita sebaik dirimu masuk ke dalam penjara?" Diana menatap wajah Halimah dengan intens, berharap wanita yang kini tengah duduk di hadapannya menjawab dengan kejujuran.


Halimah mengulas senyum, kedua netranya menyambut tatapan Diana. "Di, sebenarnya aku hanyalah seorang gadis desa yang berusaha mencari rejeki di kota. Belum genap satu bulan bekerja, Allah mengujiku."


"Mengujimu?"


"Ya. Majikanku menodai kesucian yang selalu aku jaga, ketika istrinya tidak berada di rumah."

__ADS_1


Kedua netra Halimah nampak berkaca-kaca, terbayang peristiwa yang membuat hatinya lara dan menyebabkan trauma terhadap pria.


"Cengkraman tangannya yang begitu kuat membuatku tidak bisa melepaskan diri. Pria itu terus saja menghujaniku dengan kecupan. Bahkan, bibir ini juga sudah tersentuh oleh bibir kotornya. Bukan hanya bibir, tapi leher dan bagian dadaku sudah dinodainya." Air bening mulai menetes dari kedua sudut netra Halimah.


"Dengan paksa, pria itu merobek pakaianku. Setelah ia berhasil melucuti semua pakaian, pria itu berganti melepas pakaiannya. Saat ia tengah melepas pakaiannya, aku meraih gunting yang berada di atas nakas kemudian menghujamkannya berkali-kali tepat di perut dan dada pria yang hampir berhasil merenggut kegadisanku, hingga pria itu jatuh terjerembab dengan berlumuran darah. Dengan tangan gemetar, aku memunguti pakaian dan segera mengenakannya kembali. Setelah memakai pakaian, tiba-tiba pintu kamar dibuka oleh istri pria yang telah menodaiku. Aku pun dijebloskan ke dalam penjara atas tuduhan pembunuhan."


DEG


Diana merasa tertampar mendengar kisah Halimah. Jika Halimah berusaha menjaga kesucian meski harus membunuh pria yang telah menodainya, berbeda dengan Diana yang dengan senang hati menyerahkan kesucian. Bahkan, Diana sangat menikmati sentuhan-sentuhan dari pria yang belum mempunyai hak untuk menyentuhnya. Kedua pria itu adalah Adam dan Alden.


🌹🌹🌹🌹


Readersss masih tentang Diana ya.... 😅😅😅 Semoga setelah berteman dengan Halimah, Diana benar-benar bertaubat dan merubah pribadinya menjadi seorang wanita yang berakhlak baik. ❤❤❤


Mohon maaf jika ada typo 🙏🙏🙏


Jangan lupa untuk meninggalkan jejak like 👍


Komentar


Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐


Vote atau hadiah jika berkenan dan kelebihan poin


Klik emote ❤ untuk fav novel


Trimakasih dan happy reading 😘😘😘

__ADS_1



__ADS_2