
Pagi nan cerah mengiringi langkah seorang pria berparas rupawan. Ia melewati jalanan desa yang masih berupa tanah merah bercampur batu-batu kapur. Kondisi tanahnya hampir mirip desa W sebelum desa tersebut dibangun atas prakarsa dokter Ayunda Kirana.
Adam menitipkan mobilnya di halaman salah satu sekolah dasar yang berada di desa Pule. Untuk mencapai rumah kepala desa, Adam harus berjalan kaki kurang lebih selama 15 menit.
Sesampainya di halaman rumah kepala desa yang bernama Wage, Adam disambut dengan suka cita. Tentu saja Adam disambut oleh Wage selaku kepala desa dan para warganya.
Setelah memberi bantuan berupa air bersih dan sejumlah uang untuk pembangunan jalan serta pengadaan fasilitas kesehatan, Adam dipersilahkan untuk beristirahat di rumah Wage. Rencananya, Adam akan tinggal di desa Pule selama tiga hari untuk mengawasi pembangunan jalan serta pengadaan fasilitas kesehatan. Setelah tiga hari, Abimana dan Raikhan akan berkunjung sendiri ke desa Pule untuk menggantikan Adam, karena sahabat Abimana itu tidak bisa berlama-lama meninggalkan pekerjaannya sebagai seorang CEO.
.
.
Lembayung mulai merona diiringi hembusan angin yang memberi kesejukan. Nampak seorang pria tampan tengah memandang langit yang terlukiskan warna jingga. Ia duduk dengan santai di teras rumah kepala desa sambil menikmati teh seduh khas desa Pule. Pria itu adalah Adam Rizal Syaputra. Pria yang berkali-kali mengalami kegagalan cinta karena kesalahan di masa lalu.
Pandangan netra Adam tertuju pada seorang wanita berparas ayu yang tengah tertawa lepas. Rupanya wanita itu sedang bercanda dengan seorang gadis kecil yang berusia kurang lebih tiga tahun.
"Mishel," lirih Adam. Netranya tidak terlepas dari objek yang sangat familiar. Tetiba hati Adam terasa sakit, melihat wanita yang sangat dikenalnya bersama seorang gadis kecil. Adam mengira bahwa gadis kecil itu adalah putri Mishel dan Farhan.
Adam beranjak dari posisi duduk kemudian ia berjalan mendekat ke arah mereka berdua, Mishel dan si gadis kecil. Langkah kaki Adam serasa berat, namun keinginannya untuk menemui Mishel teramat besar.
"Mishel," sapa Adam tatkala ia sudah berdiri di samping Mishel. Wanita yang selama empat tahun menghilang dari kehidupannya.
Perlahan, Mishel menoleh ke arah asal suara. Mishel terkesiap. Kedua netranya membulat sempurna, kala menyadari siapa yang menyapanya. "A-Adam? Benarkah kamu Adam?" tanya Mishel tak percaya.
"Iya. Aku Adam, Mis." Kedua netra Adam dan Mishel saling beradu. Binar-binar kerinduan nampak jelas terlihat pada tatapan netra mereka berdua.
"Bunda, siapa Om ini?" tanya si gadis kecil yang bernama Mikha.
DEG
Adam terkesiap saat Mikha memanggil Mishel dengan sebutan 'Bunda'. Ia semakin yakin jika Mikha adalah anak Mishel dan Farhan.
"Bunda? Ja-jadi benar, kamu dan Farhan sudah mempunyai anak, Mis?" tanya Adam ragu.
Mishel mengulas senyum kala mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Adam. "Mmm ... kenalkan, gadis kecil nan cantik ini bernama Mikha, Dam! Mikha, Om Adam adalah teman bunda. Salim sama Om!" titah Mishel seraya saling memperkenalkan keduanya. Tangan kecil Mikha meraih tangan Adam yang kekar. Gadis kecil itu pun mencium punggung tangan Adam.
Adam tersenyum getir. Ia usap rambut Mikha dengan lembut. "Putrimu sangat cantik Mis."
"Trimakasih Dam. Oya Dam, mau mampir ke rumahku?" tawar Mishel. Kebetulan rumah yang ditempati oleh Mishel selama ia tinggal di desa Pule, bersebelahan dengan rumah kepala desa.
Adam nampak sedikit ragu. "Iya Mis, tapi ... bagaimana jika Farhan marah bila aku berkunjung ke rumah kalian?"
Mishel tersenyum penuh arti. "Farhan tidak akan marah, Dam."
"Baiklah jika kamu memaksa, Mis," balas Adam sembari menarik kedua sudut bibirnya.
Adam meraih tubuh kecil Mikha. "Om gendong ya Sayang?"
Mikha tersenyum nyengir dan menganggukan kepalanya. "Iya Om."
Setelah Adam menggendong Mikha, mereka pun berjalan menuju rumah sederhana, tempat tinggal Mishel.
"Duduk dulu Dam!" titah Mishel begitu mereka sampai di teras rumah.
"Iya Mis." Adam menurunkan Mikha sebelum mendudukan pantatnya di kursi yang terbuat dari bambu.
"Aku buatkan teh dulu, Dam."
"Tidak usah Mis."
"Mikha sayang, masuk dulu ya Nak! Ada mama Lila di dalam."
"Hemmm, baiklah Bunda. Oiya Om ganteng, Mikha tinggal dulu ya?"
__ADS_1
"Iya Sayang," balas Adam sembari mengulas senyum.
Gadis kecil itu pun masuk ke dalam rumah dengan berlari kecil.
Mishel mendudukan pantatnya di kursi bersebelahan dengan Adam. Mereka berdua terlihat kikuk.
"Dam, bagaimana kabarmu dan Tiara?" tanya Mishel, memulai perbincangan.
"Alhamdulillah baik Mis. Tiara selalu merindukanmu. Oya, bagaimana kabarmu, Mis? Aku yakin, hidupmu pasti dipenuhi oleh kebahagiaan, karena sudah ada Mikha dan Farhan."
Mishel tersenyum getir mendengar ucapan Adam. Pandangan Mishel beralih pada langit yang masih menorehkan warna jingga dan sebentar lagi warna itu akan memudar berganti kepekatan malam.
"Kamu salah Dam."
Adam menautkan alisnya. "Maksudmu apa Mis?" tanya Adam yang diliputi oleh rasa penasaran.
"A-aku ... tidak jadi menikah dengan Farhan, Dam. Pada saat Farhan dan keluarganya datang ke rumah untuk meminang, aku tolak pinangan itu."
DEG
Tetiba jantung Adam berdegup kencang. Dadanya pun berdesir tatkala mendengar jawaban Mishel. Di dalam hatinya terselip pertanyaan, lantas siapa sebenarnya Mikha, jika Mishel tidak menikah dengan Farhan.
"Kenapa Mis? Lalu, siapa Mikha sebenarnya?"
"Dam, Mikha adalah anak yang aku temukan di serambi masjid ketika ia masih bayi. Entah siapa orang tua yang tega membuangnya. Sampai saat ini, aku dan para warga belum bisa menemukan kedua orang tua Mikha. Tentang Farhan ... aku menolaknya karena tidak ingin menyakiti hati Najwa. Farhan dan Najwa hampir menikah, sebelum Farhan berencana untuk meminangku. Hanya karena kesalah fahaman, Farhan membatalkan pernikahan mereka. Alhamdulillah, Farhan sudah tidak salah faham lagi setelah Najwa mampu memberikan bukti-bukti yang meyakinkan. Farhan dan Najwa pun menikah di Jakarta, Dam. Pernikahan mereka hanya dihadiri oleh keluarga dan dilaksanakan secara sederhana, atas permintaan keduanya."
"Sebenarnya, apa yang membuat Farhan menjadi salah faham terhadap Najwa, Mis?" tanya Adam ingin tau.
"Mmm ... Sehari sebelum hari pernikahan mereka, Najwa terlihat berjalan dengan seorang pria di salah satu pusat perbelanjaan. Najwa dan pria itu terlihat saling melingkarkan tangan di pinggang. Farhan pun terbakar oleh api cemburu. Ia mengira bahwa Najwa telah berselingkuh. Ternyata persangkaan Farhan salah. Pria yang bersama Najwa, ternyata adalah kakak Najwa yang telah lama terpisah, karena kedua orang tua mereka bercerai. Najwa tinggal dengan ayahnya di Jogja, sedangkan sang kakak tinggal bersama ibunya di Kalimantan."
Adam manggut-manggut mendengar penjelasan dari Mishel. Binar bahagia terlukis jelas pada raut wajah Adam. Seolah mendapat angin segar, yaitu kesempatan untuk mendapatkan hati Mishel kembali.
"Lalu, bagaimana dengan hatimu saat ini Mis? Apa mungkin sudah terukir nama seorang pria?"
Senyum terlukis indah di bibir Mishel. Pandangan netranya beralih menatap lekat-lekat wajah rupawan Adam Rizal Syaputra. "Ya beginilah hatiku Dam. Tentu saja di dalam hatiku terukir nama seorang pria."
Blussss
Pertanyaan Adam sukses mencetak rona merah di wajah Mishel. "Hmmm ... mau tau aja atau mau tau banget?"
"Mau tau banget, Mis."
"Lebih baik kamu tidak usah tau Dam. Aku takut, luka lama akan terbuka kembali." Tetiba wajah Mishel berubah sendu kala teringat penolakan Adam empat tahun silam.
"Maaf Mis! Maaf atas kekhilafanku empat tahun lalu. Aku benar-benar menyesal. Aku salah, Mis," ucap Adam, lirih. Ia benar-benar menyesal karena pernah menorehkan luka di hati Mishel, wanita yang sangat tulus mencintainya.
"Sudahlah Dam. Aku sudah melupakannya. Lagi pula, itu bukan kesalahanmu. Justru aku salut, sebagai seorang pria ... kamu bisa menjaga kesetiaan. Aku yang salah, karena terlalu agresif menyatakan perasaanku pada pria yang sedari dulu tidak pernah memiliki rasa yang sama. Maafkan aku Dam!"
"Mis, kamu sama sekali tidak bersalah. Andai masih diberi kesempatan, aku ingin sekali membalut lukamu, Mis."
"Dam ...."
"Mis, ijinkan aku membalut luka di hatimu dengan ketulusan cintaku!"
Hati Mishel menghangat tatkala mendengar ucapan Adam. Mishel merasakan kebahagiaan yang tiada terkira. Meski, masih terselip setitik rasa ragu di dalam hatinya terhadap Adam.
"Dam, apa aku tidak salah mendengar?"
"Tentu saja tidak, Mis. Aku, Adam Rizal Syaputra ingin menjadikan Mishel Larasati sebagai pendamping hidup."
"Tapi Dam. Maaf ... aku masih meragukanmu."
Adam menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan perlahan. Wajar Mishel meragu, karena Adam pernah menolaknya bukan hanya sekali atau dua kali.
__ADS_1
"Wajar Mis, jika kamu masih ragu. Tapi, aku akan membuktikannya."
"Buktikanlah Dam! Agar aku yakin dan percaya kepadamu."
"Baiklah, Mis."
"Dam, kita belum menjalankan ibadah sholat maghrib, lebih baik ... kamu pulang dulu ke rumah Pak Wage. Insya Allah, besok kita akan bertemu lagi."
"Heem Mis, aku pamit dulu ya."
"Iya Dam." Adam dan Mishel beranjak dari posisi duduk. Adam mengucap salam sebelum melangkah pergi.
Mishel berdiri terpaku menatap punggung Adam, pria yang masih sangat dicintainya. Jujur, Mishel selalu melangitkan pinta agar ia dapat melupakan seorang Adam Rizal Syaputra. Kepergiannya dari hidup Adam empat tahun lalu, hanya untuk berikhtiyar melupakan dan menghempaskan rasa cintanya terhadap Adam.
Sulit ku melangkah pergi
Bila kau masih di sini
Gagal diriku melupa
Tiap engkau menyapa
Aku masih menyayangimu
Aku masih cinta padamu
Bila masih saja kita bertemu
Semakin susah hati ini untuk
Melupakanmu
Telah kuhapus fotomu
Dari bingkai di kamarku
Tapi masih ada wajahmu
Singgahi mimpi-mimpi
Aku masih menyayangimu
Dan aku masih cinta padamu
Bila masih saja kita bertemu
Semakin susah hati ini untuk
Tuk melupakanmu
Selalu Kau buatku
Luluh dengan kata-katamu
Semakin kuhindari
Semakin aku ingin bertemu
(Rossa, Masih)
🌹🌹🌹🌹
Haiii ... haiii readers, maaf kemarin othor belum bisa menepati janji untuk UP, karena seharian tidak ada waktu luang untuk ngetik boncabe dan mampir ke karya keren sobat-sobat author. 😅😅🙏🙏🙏 Dan ... boncabenya masih bersambung, insya Allah 1 chapter lagi. Tadinya ingin author jadikan satu episode, tapi terlalu kepanjangan dan kurang dapet feelnya. 😌 So, semoga masih nggak bosen menantikan satu boncabe lagi..... 🙏
__ADS_1
Jangan lupa tetap tinggalkan jejak like dan beri komen penyemangat untuk mendukung ICPA. 💓💓💓
Trimakasih dan happy reading 😘😘😘