
Malam ini terasa indah bagi dua insan yang baru saja dipertemukan untuk saling melepas rindu meski tanpa berpeluk. Dari kaca jendela kamar, Adam menatap rembulan bergelayut manja pada langit malam yang bertabur jutaan bintang, begitu juga dengan Mishel.
Adam nampak berpikir, bagaimana membuktikan cinta dan keseriusannya kepada Mishel. Sedangkan Mishel, meski masih memiliki rasa sayang dan cinta terhadap Adam, hatinya terselip oleh rasa ragu. Ia meragu karena penolakan Adam berkali-kali. Ia masih belum percaya bahwa Adam membalas perasaannya.
.
.
Di sepertiga malam, Adam dan Mishel mengambil air wudhu. Seusai membersihkan diri dengan berwudhu, mereka membentangkan sajadah. Adam mengenakan baju koko dan bawahan berupa sarung. Mishel mengenakan mukena berwarna putih dihiasi renda berbentuk bunga mawar.
Keduanya melakukan ritual sholat sunnah istikharah, di tempat yang berbeda. Adam dan Mishel melangitkan pinta, memohon petunjuk pada Illahi, mengungkapkan risalah hati.
.
.
Seusai menjalankan sholat sunnah istikharah dan melangitkan pinta, Adam merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Adam mengirim pesan pada Abimana. Ia meminta pendapat pada suami si comel, bagaimana cara membuktikan cinta dan keseriusannya kepada Mishel.
Drttt .... drttt ...
Ponsel Adam bergetar. Ternyata pesannya di balas dengan panggilan telepon oleh Abimana.
"Assalamu'alaikum, Bim."
"Wa'alaikumsalam, Dam."
"Maaf, mengganggu tidurmu."
"Santai saja Bro, kebetulan aku dan anak-anak baru selesai menjalankan sholat sunnah lail."
"Masya Allah, anak-anak juga kamu ajak menjalankan sholat sunnah lail, Bim?"
"Iya Dam. Aku dan Kiran membiasakan anak-anak untuk menjalankan sholat fardhu lima waktu dan sholat-sholat sunnah. Sebagai bekal mereka, Dam. Yaaa... meski ayah mereka bukan seorang ustadz apalagi kyai." Abimana terkekeh.
"Iya Bim. Semoga kelak aku bisa meniru kalian."
"Tirulah bang Ilham, Dam! Ilmu agamanya lebih luas, sedangkan ilmu ku dan Kiran masih sangat minim."
"Hemmm, aku akan meniru kalian dan bang Ilham. Bim, kembali ke topik utama. Beri aku saran untuk membuktikan cinta dan keseriusanku pada Mishel!"
"Mmm ... besok pagi, aku dan para sahabat akan pergi ke desa Pule untuk menyusulmu, Dam. Sore hari menjelang senja, kamu ajak Mishel ke tanah lapang."
"Katanya, kalian tidak bisa berkunjung ke desa Pule, Bim? Bahkan kalian memintaku untuk pergi sendiri ke desa Pule. Kamu bilang, akan menggantikanku setelah tiga hari."
Abimana tergelak. "Itu karena aku, Kiran, Raikhan, dan Alya sudah tau bahwa Mishel berada di desa Pule. Mishel mengabdikan dirinya sebagai seorang dokter meski tanpa mendapat bayaran."
"Bagaimana bisa kalian tau bahwa Mishel ada di desa ini?" Adam mengerutkan dahinya.
"Pada saat melakukan observasi di desa Pule, aku dan Raikhan melihat Mishel sedang melakukan tugasnya sebagai seorang dokter di puskesmas. Kemudian kami mencari informasi mengenai Mishel pada kepala desa. Dari penuturan kepala desa itulah, aku dan Raikhan mengetahui semua informasi mengenai Mishel. Tentunya selama gadismu itu bersembunyi dari seorang Adam, di desa Pule. Alhamdulillah, bapak kepala desa bersedia membantu, dengan tidak memberitahukan kehadiran ku dan Raikhan, sehingga Mishel tidak mengetahui jika kami pernah berkunjung ke desa Pule."
"Kalian dua pria yang super T O P banget. Hemmm ... karena mengetahui Mishel berada di desa ini, kalian sengaja memintaku untuk pergi sendiri?"
"Yapppzzz seribu untuk tebakanmu, Dam. Aku dan Raikhan ingin supaya si duda keren segera bertemu dengan jodohnya. Dam, gercep ... halalkan Mishel! Jangan sampai kamu menyesal untuk kesekian kalinya."
"Iya Bim. Bismillah, semoga Allah memberikan ridhoNya untuk aku dan Mishel."
"Aamiin yaa Robb.... Yasudah Dam, aku akan segera menghubungi Raikhan. Jangan lupa, ajak Mishel ke tanah lapang besok sore, sebelum senja!"
"Siap komandan cinta. Syukron ya Bim."
"Afwan, Dam."
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
.
.
Abimana segera menghubungi Raikhan dan para sahabatnya yang lain. Mereka mengatur sebuah rencana, sebelum datang ke desa Pule.
🌹🌹🌹
Sebelum senja menampakan wujud cantiknya, Adam membawa Mishel ke tanah lapang, seperti yang dititahkan oleh Abimana.
Betapa terkejudnya Mishel setelah mereka sampai di tanah lapang.
__ADS_1
Tanah lapang yang biasanya dipenuhi oleh rerumputan, kini disulap bagaikan taman istana. Pintu masuk taman tersebut berbentuk hati. Dan di sekelilingnya dipenuhi oleh rangkaian bunga berwarna-warni.
"Dam, apa ini?" Netra Mishel nampak berbinar. Ia begitu takjub dengan pemandangan yang tersuguh di hadapannya.
Senyum terlukis indah di bibir Adam kala melihat netra Mishel dihiasi oleh binar-binar kebahagiaan. "Ini pembuktian cinta untukmu, Mishel."
"Dam ...."
"Hehem, ayo kita masuk ke taman istana, Permaisuriku!" titah Adam disertai senyum khas yang menawan.
Dada Mishel berdetak tak karuan. Jantungnya pun seakan berloncatan tatkala Adam memanggilnya dengan 'permaisuriku'. "Aaaa ... mimpi apa aku semalam," batin Mishel dengan menangkup pipinya.
"Mishel." Suara Adam menyadarkan Mishel, sehingga ia pun segera mengurai tangannya dari pipi.
"Ya Dam."
"Ayo, Sayang." Huftttt lagi-lagi ucapan Adam mampu melambungkan angan-angan. Pantas saja ciwi-ciwi terpesona pada kharisma seorang duda keren. Adam Rizal Syaputra.
Adam dan Mishel berjalan memasuki pintu taman. Di taman itu, terdapat tempat duduk yang di dekor mirip dengan singgasana kerajaan. Mereka pun duduk di singgasana tersebut. Setelah Adam dan Mishel duduk, terdengar suara dua orang wanita yang sangat merdu, melantunkan lagu cinta. Mereka adalah Kirana dan Hana.
Pertama ku memandangnya
Tak ada rasa di dalam jiwa
Semua terasa seperti biasa
Tak ada rasa cinta
Waktu pun terus berlalu
Mengapa ku semakin merindu?
Inikah rasa pada dirinya
Yang tak bisa kusentuh?
Di dalam setiap hariku
Di waktu sepertiga malam
Bersujud, berdoa pada-Nya
Memohon petunjuk-Nya
Wahai sang pemilik hati
Sampaikanlah rinduku ini
Dekatkan kami, ya Rabbi
Waktu pun terus berlalu
Mengapa ku semakin merindu?
Inikah rasa pada dirinya
Yang tak bisa kusentuh?
Di dalam setiap hariku
Di waktu sepertiga malam
Bersujud, berdoa pada-Nya
Memohon petunjuk-Nya
Wahai sang pemilik hati
Sampaikanlah rinduku ini
Dekatkan kami, ya Rabbi
Di dalam setiap hariku
Di waktu sepertiga malam
Bersujud, berdoa pada-Nya
__ADS_1
Memohon petunjuk-Nya
Wahai sang pemilik hati
Sampaikanlah rinduku ini
Dekatkan kami, ya Rabbi
(Sepertiga Malam / Qhutbus Sakha)
Usai melantunkan senandung lagu cinta, Hana memberikan buket bunga mawar berbentuk hati kepada Mishel. Sedangkan Kirana memberikan kotak perhiasan berwarna merah kepada Adam.
"Dam, sematkan cincin yang berada di dalam kotak itu pada jari-jari Mishel! Lamar Mishel segera Dam! Gercep atuh," titah Kirana, tak sabar.
"Iya Mas, segera pinang Mbak Mishel dengan Bismillah," timpal Hana.
"Ayo Dam, buruan lamar Mishel!" sahut Abimana, Raikhan, Arif, Fadhil, Ilham, dan Fabian.
"Papa, segera halalkan tante Mishel!" pekik Tiara.
Pandangan mata Adam dan Mishel menyapu ke segala arah. Netra mereka dipenuhi oleh binar-binar kebahagiaan tatkala melihat Tiara yang berjalan semakin mendekat.
"Tiara," ucap Adam dan Mishel bersamaan. Keduanya pun beranjak dari posisi duduk. Adam, Mishel, dan Tiara saling berpeluk meluapkan kerinduan yang mendalam.
Perlahan mereka mengurai pelukan. Tiara menatap manik mata Adam dengan intens. Adam membalas tatapan putrinya. "Pa, jadikanlah tante Mishel sebagai mama Tiara!"
"Iya Sayang. Papa akan menjadikan tante Mishel sebagai mama Tiara. Semoga tante Mishel bersedia menerima pinangan papa."
Tiara mengembangkan senyuman. "Trimakasih papa."
Adam menganggukan kepalanya disertai senyuman yang merekah.
Adam berlutut. Ia membuka kotak perhiasan yang diberikan oleh Kirana, istri comelnya Abi.
Netra Adam dan Mishel membulat sempurna kala melihat sepuluh cincin yang tertata di dalam kotak perhiasan tersebut.
"Ran, mengapa ada sepuluh cincin?" Adam menatap wajah Kirana. Raut wajah Adam dipenuhi oleh tanda tanya.
Kirana tersenyum nyengir. "Dam, jika cincinnya hanya satu, aku takut ikatan cinta kalian kurang erat, oleh karena itu ... aku siapkan sepuluh cincin."
"Astaghfirullahaladzim." Adam dan Mishel mengelus dada. Sedangkan Abimana dan semua orang yang menyaksikan, tergelak. Abimana sangat faham sifat istri comelnya.
"Ya Allah, Bund. Meski sudah mempunyai tiga orang anak, masih saja kecomelanmu belum hilang," batin Abimana.
Adam memasangkan cincin di jemari tangan Mishel satu persatu. Suasana yang tadinya dipenuhi oleh rasa haru berubah menjadi riuh oleh gelak tawa. Apalagi setelah Adam memasangkan sepuluh cincin di jari-jari Mishel.
"Mishel Larasati, aku ... Adam Rizal Syaputra, meminangmu untuk menjadi istriku, dengan mengucap Bismillah."
"Dengan Bismillah juga, aku menerima pinanganmu, Adam Rizal Syaputra."
Semua orang yang menyaksikan pun bersorak gembira. Tetiba Adam dan Mishel dihujani ribuan bunga dari helikopter.
Ternyata yang menghujani mereka dengan ribuan bunga adalah orang tua Adam dan Mishel.
"Papa, mama...."
"Ayah, ibu...."
Kedua netra Adam dan Mishel nampak berkaca-kaca tatkala melihat orang tua mereka turun dari helikopter.
Rizal, Rahma, Raka serta Melly berjalan mendekat ke arah Adam dan Mishel.
"Kami merestui kalian berdua. Adam, Mishel," ucap Melly, disertai rasa haru.
"Papa dan Mama juga merestui kalian," sahut Rahma. Netranya terlihat mengembun.
Raka dan Melly memeluk putri mereka dengan erat. Begitu juga dengan Rizal dan Rahma, mereka memeluk Adam, menumpahkan rasa cinta beserta kasih sayang kepada sang putra.
🌹🌹🌹🌹
Sesuai permintaan beberapa readers, Insya Allah author akan memberikan satu bonus chapter lagi.
Trimakasih author ucapkan kepada para readers dan sahabat author yang telah mengunjungi serta memberi dukungan untuk ICPA. Tanpa dukungan para sobat ICPA, hasil kehaluan author serbuk gergaji ini, tidak ada artinya apa-apa 😅🙏
Author berharap semoga ICPA bukan hanya dapat menghibur, akan tetapi bisa memberikan manfaat bagi tiap orang yang membacanya.
__ADS_1
So, trimakasih dan happy reading 😘😘😘