Istri Comel Pilihan Abi

Istri Comel Pilihan Abi
Mantan Terindah


__ADS_3

Usai mendengarkan tausiyah dari Ilham, para tamu undangan dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang tersedia di meja saji.


Abimana mengambil nasi beserta lauk dan juga teh hangat untuk istri tercinta yang sedang menggendong putra mereka.


Abimana berjalan mendekat ke arah wanita yang sangat dicintai, kemudian duduk bersebelahan dengannya.


"Yang, aku suapin ya?"


Kirana mengangguk pelan disertai senyuman. "Iya Bie. Kebetulan aku sudah lapar setelah memberikan baby Ke asi. Minumnya tidak mau berhenti sebelum tertidur pulas."


"Owhhh, berarti Sayang masuk ke kamar tadi, karena baby Ke minta minum?"


"Iya Bie. Nggak mungkin menyus** baby Ke di hadapan banyak orang."


"Hhhhehehe, iya. Sayang hanya boleh menyus** di hadapanku." Abimana mengerlingkan mata nakal.


"Hisss Hubby."


"Makan dulu Bunda Ke!"


Abimana menyendok nasi dan lauk kemudian mulai menyuapi Kirana. Sepasang mata memandang ke arah mereka disertai tarikan kedua sudut bibir hingga menampakan senyuman.


"Yang, apa yang sedang Sayang perhatikan?" tanya Raikhan dengan menatap wajah cantik Alya yang sedari tadi dihiasi senyum.


"Mas, lihatlah Mas Abi dan Mbak Kiran! Mereka teramat serasi." Tatapan kedua netra Raikhan beralih pada sepasang suami istri, Abimana dan Kirana.


"Iya Yang. Aku teramat bersyukur, pada akhirnya mereka dipersatukan dalam ikatan yang halal. Bahkan keduanya terlihat saling mencintai."


"Iya Mas," jawab Alya singkat. Menatap sang mantan yang tengah berbahagia, tetiba Alya kembali terkenang kisah lama.


.


.


Flasback on


POV Alya


Mas Raikhan terus melajukan mobilnya. Di sepanjang perjalanan, dia hanya terdiam, wajahnya nampak cemas.


Sedangkan aku ... mencoba membuang resah dengan selalu melantunkan dzikir dan doa untuk keselamatan Mas Abi. "Semoga selalu Engkau jaga dia untukku ya Robb...," pinta seorang hamba mengiba dalam hati.


Setelah menembus keramaian kota, Mas Raikhan mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan lebih melewati jalan menuju pedesaan.


Benar apa yang dikatakan oleh sahabat Mas Abi, jalan menuju desa X, curam dan licin. Andai tidak hafal dengan jalanan yang akan dilalui, mungkin mobil atau kendaraan yang lainnya, akan mudah terperosok ke dalam jurang. Naudzubillah.


"Al, coba hubungi Bima!!" Suara Mas Raikhan tiba-tiba memecah keheningan.


"I-iya Mas, sebentar aku telepon Mas Abi."


Aku mencoba melakukan panggilan ke nomer handphone Mas Abi, namun di luar jangkauan. Beberapa kali mencobanya, tetap saja tidak mendapatkan hasil.


"Bagaimana ini Mas Raikhan?" tanyaku dengan bibir gemetar karena rasa khawatir yang amat sangat.


"Sabar Al, mungkin Bima sudah sampai di rumah Oma!" balas Mas Raikhan berusaha menenangkan.

__ADS_1


Aku terus mencoba mengirim pesan, tapi tetap nihil.


Mas Raikhan terus saja melajukan mobilnya...


"Astaghfirullah..." teriak kami seketika. Hampir saja mobil Mas Raikhan beradu dengan truck yang lewat dari arah berlawanan.


Nampak wajah Mas Raikhan pucat, namun ia terus saja berusaha menyetir dengan fokus.


Di jalanan yang berliku, kami kembali dikejutkan oleh bus dari arah berlawanan. Kembali mobil Mas Raikhan hampir bersenggolan.


"Ya Allah, ada apa ini?" ucapku lirih. Nampak wajah Mas Raikhan kembali pucat. Tangannya mulai gemetar.


"M-Mas Raikhan baik-baik saja kan?" tanyaku yang tengah diliputi kekhawatiran.


"I-iya Al. Aku baik-baik saja. Berdoa ya Al, semoga kita dan Bima diberi keselamatan!"


"Iya Mas, Alya selalu berdoa...."


.


.


"Mas, aku semakin mengkhawatirkan Mas Abi. Jalanan yang kita lalui sangat berbahaya..." Aku meremas kedua tanganku, perasaan khawatir dan takut berkecamuk.


"Positive thinking Al! Okay...."


"Iya Mas...."


Kuedarkan pandangan ke luar jendela, tiba-tiba tatapan mata ini tertuju pada segerombol orang yang tengah berdiri di pinggir jurang. Di sana juga terlihat beberapa polisi yang memasang police line.


"Mas, kita berhenti di sini ya!"


Mas Raikhan yang mengerti maksudku, seketika menghentikan mobilnya di sisi kiri jalan.


"Al, biar aku yang melihatnya. Kamu tunggu di sini ya!" pintanya dengan menatapku.


"Mas, aku ikut. A-aku tidak bisa menunggu."


"Alya, kali ini please jangan membantah!"


"Tetap tunggu di sini, jangan ke mana-mana!"


Tanpa menunggu balasan dariku, Mas Raikhan segera ke luar dari mobil. Pria itu mendekat ke arah sekumpulan polisi yang sedang berada di dekat police line.


Aku terus memperhatikannya dari kaca mobil. Nampak wajah Mas Raikhan berubah sendu. Aku semakin tidak tahan untuk mengetahui apa yang terjadi di sana.


Tanpa sabar, aku ke luar dari mobil. Terlihat polisi sedang menunjukkan sesuatu pada Mas Raikhan.


DEG


Semakin aku melangkah, barang yang ditunjukkan semakin jelas terlihat.


"Tasbih biru...." ucapku lirih.


Aku berlari kecil menghampiri Mas Raikhan.

__ADS_1


"Mas, ada apa ini? Tasbih biru? Itu bukan milik Mas Abi kan? Mas jawab aku!" Pertanyaan yang terlontar dengan nada tinggi, menarik perhatian banyak orang. Seolah mereka memandangku dengan tatapan iba.


"Mas jawab! Apa yang terjadi?" nadaku semakin meninggi.


Nampak buliran bening menetes dari kedua sudut mata Mas Raikhan.


"Al, tabahkan hatimu!" Sahabat Mas Abi berjalan mendekat padaku.


"Apa yang terjadi Mas? Please, jawab! Hiks, hiks..."


"Ini tasbih milik Bima kan Al?" Mas Raikhan menyerahkan tasbih kesayangan Mas Abi padaku. Aku menerimanya dengan tangan gemetar. Kuamati dengan seksama, ternyata memang benar milik Mas Abi.


"I-iya, ini tasbih kekasihku Mas. Apa yang terjadi padanya? Hiks, hiks..." Aku terus saja terisak, membayangkan hal buruk terjadi pada Mas Abi.


Mas Raikhan menghela nafas panjang.


"Al, apa yang kita takutkan terjadi. Mobil Bima masuk ke jurang dan meledak. Jasad Bima juga ditemukan hancur. Tasbih ini Al yang masih utuh..."


"Arghhhhh..." Badanku seketika lemas, seolah tanpa daya sedikitpun. Aku jatuh bersimpuh. Mas Raikhan mencoba menguatkan dengan merangkul pundakku.


"Al, kamu harus kuat, yang tegar Alya!"


"Tidak Mas, aku yakin itu bukan Mas Abi. Jasad yang ditemukan bukanlah Mas Abi. Aku yakin itu Mas. Hiks, hiks.... Pasti bukan dia. Itu bukan dia...."


"Al, itu Bima. Kamu harus kuat menerima kenyataan!! Ikhlas Al!"


"Tidak Mas, hatiku meyakini Mas Abi masih hidup. Dia sudah berjanji tidak akan meninggalkanku. Dia juga berjanji akan selalu menjaga Alya. Mas Abi berjanji tidak akan membiarkan calon istrinya ini menangis. Hiks, hiks..." Dadaku semakin sesak. Air mata semakin tertumpah. Aku memukul-mukul dada dan memanggil nama Mas Abi.


Mas Raikhan terus berusaha menguatkan aku. Nampak orang-orang yang melihat pemandangan ini, juga ikut menangis.


"Ndhuk yang kuat ya! Sik sabar, tawakal...!" Seorang ibu paruh baya, mendekati dan menepuk-nepuk pundakku.


Tangisku semakin menjadi. Tatapan penuh rasa kasihan terlihat mengitariku.


Tiba-tiba pandanganku menjadi gelap. Tubuhku semakin lemas.


"Alya..." Suara yang terakhir kali aku dengar sebelum diri ini tak sadar dengan apa yang terjadi setelahnya....


.


.


Flasback off


"Aku bahagia dan merasa lega, melihatmu kini telah memiliki keluarga kecil yang harmonis, Mas Abi," bisik Alya dalam hati.


Terkenang mantan terindah, bukan berarti masih mengharapkannya kembali. Apa yang pernah terjadi di masa lalu, biarkanlah menjadi sepenggal kisah "Kamu dan Kenangan."


🌹🌹🌹


Nah, episode kali ini menceritakan awal kisah cinta Abimana dan Alya yang harus kandas, ya readers. Bagi readers yang penasaran dengan kisah cinta segitiga Abimana-Alya-Raikhan, bisa membaca karya author yang pertama Cinta Gadis Biasa "Alya" 😅😅😅


UP pengantar tidur. Maaf jika banyak typo/salah ketik... Selamat malam dan selamat beristirahat. Jangan lupa tinggalkan like 👍 sebelum pergi ke alam mimpi 😘😘😘


Trimakasih dan happy reading ❤❤❤

__ADS_1



__ADS_2