
Saat ini, Arif, Asti dan putri mereka sedang berlibur ke Kalimantan Timur. Mereka berkunjung ke rumah orang tua angkat Asti yang bertempat tinggal di Samarinda. Selepas SMA, Asti memperoleh kesempatan untuk mengikuti program Pertukaran Pemuda Antar Provinsi atau sering disebut PPAP. Asti mengikuti program tersebut kurang lebih selama dua bulan.
Kedua orang tua angkat Asti sangat menyayangi putri angkat mereka seperti anak sendiri. Bahkan, ibu angkat Asti yang bernama Laela, sering kali memasak soto Banjar kesukaan putri angkatnya itu. Soto Banjar olahan tangan Laela sangat lezat dan membuat siapapun yang merasakannya akan ketagihan.
Asti, Arif dan Rifna, baru saja selesai menjalankan sholat tarawih berjamaah di Masjid Islamic Center Samarinda. Mereka teramat mengagumi bangunan masjid tersebut.
Islamic Center Samarinda terletak di Kabupaten Teluk Lerong Ulu, tepatnya di kota Samarinda, Kalimantan Timur. Masjid ini adalah masjid terbesar kedua di Asia Tenggara, dan juga salah satu masjid termegah di Indonesia.
Keunikan dari Masjid Islamic Center Samarinda adalah bangunannya yang menghadap langsung ke arah tepi Sungai Mahakam. Jadi, tidak heran apabila tempat ibadah ini digemari oleh wisatawan yang ingin beribadah sekaligus melakukan wisata religi.
Arif beserta keluarga kecilnya menginap di rumah Laela, selama mereka berada di Samarinda. Sebenarnya, Arif dan Asti ingin menginap di hotel, akan tetapi Laela, Hadi dan Puspa meminta ketiganya untuk tinggal di rumah mereka dengan alasan ingin menumpahkan kerinduan. Sehingga, Asti dan Arif pun tidak dapat menolak.
.
.
Rifna sudah tidur terlelap di kamar Puspa (adik angkat Asti), sedangkan Arif dan Asti masih bercengkrama di atas ranjang. Posisi mereka saat ini saling berhadapan dan berpeluk.
"Sayang, ceritakan pengalamanmu saat mengikuti program PPAP!" titah Arif sembari mencium kening istrinya.
Asti mengulas senyum. Ia berusaha memutar kembali memory beberapa tahun silam ketika mengikuti program Pertukaran Pemuda Antar Provinsi.
"Mas, selama mengikuti program PPAP, Asti memiliki sahabat dari berbagai provinsi. Bahkan, Asti juga mempunyai sahabat seorang pria yang berasal dari Suku Dayak. Ia bernama Piyu."
"Oya? Bagaimana kepribadiannya?"
"Dia sangat baik, Mas. Beberapa tahun lalu, Asti mendengar kabar bahwa Piyu sudah menjadi seorang mualaf. Piyu sering bertanya pada Asti mengenai islam dan ajarannya. Mas, Piyu tertarik dengan islam setelah bertemu dengan salah seorang sahabat kami, gadis berjilbab dan salehah. Namanya Asma."
"Alhamdulillah. Lalu, bagaimana hubungan Piyu dengan Asma sekarang?"
"Mereka sudah menikah, Mas. Alhamdulillah, mereka juga telah dikarunia dua orang putra. Setelah menikah, mereka tinggal di Jakarta, menempati rumah peninggalan kedua orang tua Asma."
"Semoga rumah tangga mereka sakinah, mawadah, warohmah, Yang."
"Aamiin ya robb...."
__ADS_1
"Mmm ... Sayang terlibat cinta lokasi tidak saat mengikuti PPAP?" tanya Arif dipenuhi rasa ingin tahu.
Asti terkekeh mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh suaminya. "Mmm ... kalau Asti pribadi sihh, tidak pernah naksir mereka, cowgan-cowgan teman seangkatan. So, Asti tidak terlibat cinta lokasi. Tapi, ada satu dua ... empat cowgan yang berusaha mendekati Asti. Bahkan salah satu di antara mereka ada yang berkeinginan menyusul Asti ke Jogja untuk meminta restu dari ibu. Namun, Asti melarangnya dengan berbagai alasan."
"Apa mungkin, dari dulu Sayang naksir Mas Arif ya?" Arif menoel hidung Asti.
Asti tergelak. "Ya enggaklah Mas. Dulu kan Mas Arif sahabat dekatnya mbak Alya, jadi ... Asti nggak berani naksir. Hanya ... mengagumi."
"Hmmm ... mengagumi awal dari mencintai. Ya kan, Sayang?" Arif mengecup singkat bibir ranum istrinya. Seketika wajah Asti menampakan rona merah setelah mendapat serangan tiba-tiba dari Arif, suami yang sangat dicintainya.
Asti mengangguk pelan disertai seulas senyum manis. Ia tenggelamkan kepalanya pada dada bidang Arif.
"Sudah larut malam, pejamkan mata dan mimpilah yang indah, Cinta!" Arif mencium puncak kepala Asti.
"Iya Mas. Aku sangat mencintaimu, Mas."
"Aku juga sangat mencintaimu, istriku."
Arif dan Asti saling mengeratkan pelukan. Seusai membaca doa sebelum tidur, mereka pun mulai memejamkan mata dan berlayar ke pulau kapuk. 😁
🌹🌹🌹
Meski tangannya gemetar, Adam tetap berusaha menggapai bel kemudian menekannya.
Ting Tong ... Ting Tong ...
"Assalamu'alaikum...."
"Wa'alaikumsalam." Terdengar suara balasan salam dari dalam rumah.
CEKLEK
Pintu terbuka perlahan. Nampak seorang wanita paruh baya berdiri dengan menatap tajam ke arah Adam.
"Adam...."
"Tante. Maaf Te, saya ingin meminta ijin untuk bertemu dengan Mishel," ucap Adam ragu-ragu.
__ADS_1
"Mishel sudah pergi, Dam. Untuk apa kamu ingin menemui putriku, hah?"
"Adam, ingin berbicara mengenai keinginan Tiara pada Mishel, Te."
"Ck, sudah terlambat Dam. Dan ingat ... jangan pernah hadir membayangi kehidupan Mishel lagi jika hanya akan menorehkan kembali luka dihatinya! Dam, biarkan Mishel hidup dengan bahagia tanpa mengharapkan cintamu yang semu!"
JLEB
Ucapan Melly bagaikan pisau yang menghujam tepat di jantung Adam. Hati Adam tercubit. Ia teramat menyesal karena telah menorehkan luka di hati wanita yang mencintainya dengan tulus.
Tubuh Adam serasa lunglai. Netranya panas. Bahkan titik-titik air bening sudah menganak di kelopak mata pria berwajah rupawan itu.
"Baiklah, Te. Adam akan pergi. Semoga Mishel dapat meraih kebahagiaan bersama Farhan. Adam pamit, Te. Assalamu'alaikum."
Adam berjalan dengan langkah gontai meninggalkan Melly yang masih berdiri terpaku. Andai waktu bisa berputar kembali, Melly ingin sekali melihat Mishel bisa bersanding dengan pria yang selama ini sangat dicintai oleh putrinya, Adam Rizal Syaputra. Namun, seolah keinginannya menguap begitu saja, saat Mishel memutuskan untuk pergi dari kehidupan Adam dengan membawa rasa yang masih terpatri di dalam hati. Akankah Mishel memilih Farhan sebagai perantara untuk melupakan Adam dan menghempaskan perasaan cintanya yang sudah mendalam? Hanya sang waktu yang akan menjawabnya.
Sesak. Dada Adam kini semakin sesak. Adam merutuki kesalahan yang telah dilakukannya.
Apa benar Adam seratus persen menjadi pihak yang bersalah? Tidak. Adam tidak sepenuhnya bersalah, karena ia berusaha untuk setia pada almarhumah istrinya. Dulu, memang Adam adalah pria brengse*. Namun, seiring bergulirnya waktu dan tempaan ujian yang berkali-kali hadir, Adam seorang pria brengse* mampu merubah dirinya menjadi pria yang teramat menghargai kesetiaan pada pasangan.
Adam melajukan mobilnya melewati jalanan kota Jogja diiringi lagu Muhasabah Cinta.
🌹🌹🌹🌹
Ehemmm, ada yang masih penasaran nggak nich dengan kisah cinta babang Adam?? 😁😁
Jangan lupa beri like 👍
Tetap favoritkan novel ini dengan klik ❤
Klik hadiah atau vote jika berkenan mendukung ICPA
Boleh share ICPA ke medsos jika kisah ini menginspirasi atau bermanfaat untuk amar makruf nahi munkar 🙏🙏🙏
Mohon maaf jika ada salah kata atau sudut pandang author yang kurang berkenan bagi para readers 🙏🙏🙏
Trimakasih dan happy reading ❤❤❤
__ADS_1