Istri Comel Pilihan Abi

Istri Comel Pilihan Abi
Pernikahan A Dan A


__ADS_3

Hari ini merupakan hari yang bersejarah bagi Asti dan Arif. Setelah dua minggu yang lalu Arif resmi melamar Asti, kini mereka akan mengikat janji suci di masjid Al Mizan. Masjid yang letaknya tidak jauh dari rumah Asti.


Di hadapan penghulu Arif mengucapkan kabul.


"Saya terima nikah dan kawinnya Asti Ananta Putri Binti Alm. Hendro Saputra dengan maskawin yang tersebut di atas tunai.”


"Sah...," ucap Bapak penghulu, yang kemudian mendapatkan balasan dari para saksi.


"Sah...."


"Alhamdulillah...."


Setelah membaca doa, kedua mempelai dipersilahkan untuk menandatangani buku nikah. Kemudian dilanjutkan dengan serah terima mahar, dan tukar cincin.


Dengan perlahan, Arif menyematkan cincin pernikahan di jari manis sang istri, kemudian mencium kening wanita yang kini telah sah menjadi kekasih halalnya dengan lembut dan penuh perasaan. Asti merasakan ada getaran dan kasih sayang yang mengalir hangat di sekujur tubuhnya, karena ciuman pertama yang diberikan oleh Arif. Seumur hidup si gadis tidak pernah mengijinkan lelaki manapun untuk menciumnya, kecuali saat ini.


Dengan tangan gemetar Asti meraih dan mencium punggung tangan suaminya. Gadis itu mulai menengadahkan wajah untuk menatap Arif. Betapa tampan dan tanpa cela wajah pria yang ada di hadapannya.


Arif membalas tatapan Asti dengan tatapan yang penuh makna, di bibirnya terhias senyuman manis.


"Asti.... Bismillah kita memulai hubungan ini. In syaallah sakinah bersamamu. Aku berjanji akan menjaga dan mencurahi kasih sayang untukmu, wahai istriku..."


"Aamiin, trimakasih Mas. Asti akan berusaha menjadi istri yang terbaik untukmu suamiku...."


Tangis haru bercampur bahagia memenuhi seluruh ruangan.


Baby Dzaki terlihat tertidur dengan pulas dalam gendongan Kirana. Ya, Dzaki Rizal Saputra, putra dari almarhumah Nita, yang kini menjadi putra angkat Arif Rizal Saputra dan Asti Ananta Putri.


Kedua mempelai meminta doa restu serta memberikan penghormatan kepada orang tua mereka.


Pertama-tama Arif dan Asti meminta doa restu serta memberi penghormatan kepada Rizal dan Rahma. Kedua orang tua Arif pun memberikan restu serta pelukan hangat kepada kedua insan yang kini sudah resmi menjadi pasangan suami istri.


Kini tibalah Arif dan Asti memohon doa restu serta memberikan penghormatan kepada Fatimah.


"Bu, Asti mohon doa restu," ucap Asti sembari mencium punggung tangan ibunya disertai isak tangis. Sang ibu pun mengusap jilbab Asti disertai derai air mata bahagia seraya memberikan restunya.


"Ibu merestui kalian, semoga sakinah mawadah warohmah. Asti, sekarang kamu sudah menjadi seorang istri, hormati dan patuhilah suamimu!"


"Iya Ibu." Asti memeluk tubuh ibunya dengan erat. Fatimah pun membalas pelukan putri tercinta.


Perlahan mereka melerai pelukan. Kini, berganti Arif yang mencium punggung tangan ibu mertuanya seraya memberikan penghormatan.


"Bu, trimakasih sudah memberikan restu kepada kami untuk mengikat janji suci. Saya berjanji akan berusaha memberikan kebahagiaan kepada Asti dan menjadi imam yang terbaik bagi putri Ibu."


TES....


Kembali buliran bening menetes dari kedua sudut netra Fatimah.


"Nak Arif, sekarang Asti sudah menjadi tanggung jawabmu sepenuhnya. Ibu percayakan Asti kepadamu, Nak. Trimakasih karena telah menjadikan Asti pendamping hidup." Fatimah mengusap punggung Arif dengan lembut. Keduanya saling berpeluk dan menumpahkan air mata bahagia.


Usai acara sungkeman, Arif dan Asti duduk bersebelahan.


Raikhan, Abimana, Alya dan Kirana memberikan selamat kepada kedua mempelai. Lantunan doa pun terucap dengan tulus untuk keduanya.


"Bang Ilham dan Mbak Suci, tidak hadir Mbak?" tanya Arif kepada Kirana yang masih menggendong baby Dzaki.


"Insya Allah Bang Ilham dan Mbak Suci akan datang ke acara resepsi nanti malam Rif. Sekarang Bang Ilham sedang mengisi pengajian akbar di masjid Mutaqien," jawab Kirana disertai seulas senyum.


🌹🌹🌹


Saat ini Arif dan Asti sedang berada di kamar. Sedangkan Fatimah, Rizal dan Rahma, duduk di ruang keluarga sembari bercengkrama.

__ADS_1


Arif beserta kedua orang tuanya langsung memboyong Asti ke rumah besar, atas permintaan Rizal.


"Mas, trimakasih karena telah menjadikanku istrimu," ucap Asti yang kini tengah duduk di tepi ranjang, berdampingan dengan suaminya.


"Iya As. Aku juga sangat berterimakasih karena kamu sudah bersedia menerimaku sebagai imam dan menerima Dzaki sebagai putra angkat kita." Arif mencium kening Asti dengan penuh perasaan seolah tak ingin menyudahinya.


Asti merasakan getaran yang sangat hebat. Dadanya berdegup sangat kencang. Bahkan lidahnya serasa kelu.


Setelah mencium kening, Arif mencium bibir ranum Asti dengan lembut. Keduanya pun saling menikmati tautan bibir untuk pertama kalinya.


"As, bolehkah?" tanya Arif setelah menyudahi tautan bibir mereka. Arif menatap manik hitam istrinya lekat-lekat.


"Mas, tapi inikan masih siang," balas Asti dengan menunduk, wajahnya sudah dipenuhi rona merah.


"Tak masalah kan? Mumpung baby Dzaki sedang bersama Mbak kiran. Mas Bima dan Mbak Kiran membawa baby Dzaki ke rumah mereka." Arif tersenyum disertai kerlingan mata.


"Tapi, aku mau mandi dulu Mas. Gerah."


"Nanti sekalian ya As, mandinya."


Asti sudah tidak mampu lagi menolak keinginan suaminya. Ia hanya terdiam membisu menahan gejolak rasa yang semakin menjadi.


Perlahan Arif membantu Asti membuka jilbabnya.


Arif mencium kening istrinya lagi dan mengucapkan doa sebelum bersenggama.


Arif pun mulai membantu Asti membuka kebaya yang dikenakan.


Tok... tok... tok....


Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari luar kamar.


Arif pun berdecih kesal, sedangkan Asti terkekeh melihat mimik wajah suaminya.


"Iya, hufffttt hampir saja. Aku buka dulu pintunya. Sayang ganti bajunya di kamar mandi ya!"


"Siap Suamiku tercinta."


Arif segera beranjak dari duduk dan berjalan ke arah pintu.


CEKLEK


Pintu pun terbuka. Nampak Adam (kakak Arif) sedang berdiri sembari menahan tawa.


"Wuihhh bos besar akhirnya pulang juga." Arif memeluk kakaknya, Adam pun membalas pelukan sang adik.


"Demi kamu Rif. Maaf, aku datang terlambat."


"Iya Mas, nggak masalah."


Perlahan mereka saling melerai pelukan.


"Di mana istrimu, Rif?"


"Sedang mandi. Mas Adam datang dengan siapa?"


"Dengan Diana."


"Pacar Mas Adam ya?"


"Ya begitulah. Maunya sih langsung aku ajakin si Diana nikah. Tapi katanya belum siap."

__ADS_1


"Owhhh, yang sabar Mas!"


"Hah, selalu sabar Rif."


"Mas, aku mau ganti baju dulu. Mas Adam tunggu kami di ruang keluarga ya! Tapi nunggunya dua jam. Hhhehe...."


"Lima jam juga nggak masalah Rif, lagi pula Diana juga sedang berbincang dengan mama, papa dan ibu mertuamu di ruang keluarga. Yasudah, kamu lanjutin dulu yang nananina!" Adam tersenyum lebar. Kemudian ia pun segera berjalan meninggalkan Arif yang masih berdiri di depan pintu.


Arif segera menutup pintu kamarnya kembali setelah Adam menuruni tangga.


"Hah, semoga kali ini aman." Arif menarik sudut bibirnya.


"Awwwww..." teriak Asti dari dalam kamar mandi.


Arif terkesiap mendengar teriakan istrinya.


"Ada apa As?"


CEKLEK


Asti membuka pintu kamar mandi. Wajahnya terlihat murung.


"As, apa yang terjadi?" Arif mendekap Asti ke dalam pelukan.


"Mas, aku butuh roti."


"Kamu lapar As?"


"Mas aku tidak lapar. Aku butuh roti yang biasa dipakai wanita."


Arif melerai pelukannya.


"Maksudmu apa As?"


"Aku butuh pembal** Mas."


"Oh No......." Arif mengacak rambutnya dengan kasar.


"Jadi, hari ini kita belum bisa mereguk manisnya surga dunia, As?"


Asti mengangguk pelan dan mencebikan bibirnya.


"Sabar ya Mas!"


"Iya Sayang," balas Arif lirih. Arif berjalan menuju ranjang. Ia pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan menutup muka dengan bantal.


"Sabar Rif, sabar!!!" 😌😌😌


🌹🌹🌹🌹


Readers, maaf masih part Arif. 🙏🙏😅😅


Tetap semangati author dengan


Like 👍


Komentar


Klik emote ❤


Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


Vote jika berkenan dan mempunyai kelebihan poin.


Trimakasih dan happy reading ❤❤❤


__ADS_2