
Kirana mulai mengguyur seluruh badannya. Air yang berasal dari sumur terasa begitu dingin namun menyegarkan. Tak jauh dari kamar mandi, terdapat tampungan air yang berfungsi sebagai penadah hujan. Air hujan yang ditampung dapat digunakan ketika datang musim kemarau oleh para penduduk desa dengan menggunakan metode TRAP (tampung, resapkan, alirkan, dan pelihara).
Setelah merasa bersih dan segar, Kirana mengeringkan seluruh badannya dengan handuk kemudian memakai pakaian lengkap.
.
.
Sindy sudah menyiapkan beberapa menu makanan khas desa W. Ada tiwul, belalang goreng, sambal bawang, tempe goreng dan jangan ndheso. Ada juga sayur bening serta nasi putih khusus untuk sahabatnya yang tidak menyukai belalang goreng dan jangan ndheso. Untuk camilannya, Sindy menyediakan manggleng, makanan khas desa W yang berasal dari singkong. Tak lupa Sindy juga menyiapkan teh hangat yang disajikan dengan menggunakan teko lengkap disertai cangkirnya. Teko dan cangkir tersebut terbuat dari tanah liat, sehingga menambah kenikmatan rasa teh hangat yang nasgitel, panas legi dan kental.
Kirana berjalan ke ruang makan. Matanya membulat sempurna tatkala melihat beberapa menu makanan yang sudah memenuhi meja.
"Ehhh Dokter Ayu sudah selesai mandinya? Yuk, sekarang kita makan dulu! Setelah makan, ceritakan semua apa yang sebenarnya telah terjadi!"
"Baiklah Dokter Sindy yang cantiknya bagaikan Roro Jonggrang." Kirana mengulas senyum kemudian mendaratkan pantatnya di kursi yang terbuat dari kayu.
Keduanya duduk dengan saling berhadapan.
"Makan yang banyak ya Ay!"
"Huum, Sind." Kirana mengambil nasi putih satu entong dan sayur bening serta tempe goreng. Sedangkan Sindy mengambil tiwul dengan lauk belalang goreng dan jangan ndheso ditambah sambal bawang.
Kirana mulai memasukan makanan ke dalam mulutnya dan mengunyah dengan perlahan. Disaat menikmati makanannya, Kirana terbayang Abimana.
"Bie, kamu makan belum?" tanya Kirana di dalam hati.
Sindy mencubit pipi Kirana yang terlihat tengah melamun.
"Awww... Sakit," pekik Kirana sembari mengusap pipinya.
"Makanya jangan melamun! Buruan dihabiskan makanannya!!"
"Iya, iya bawellll...." Kirana mulai memasukan lagi makanan ke dalam mulutnya. Meski masakan Sindy sangat lezat namun bagi Kirana serasa hambar karena ia merasa sedang tidak berselera. Jelas saja tidak berselera, karena Kirana terbiasa makan bersama sang suami, Abimana Surya Saputra.
Kirana tak mampu lagi membendung buliran air bening yang menetes dari kedua sudut netranya tatkala bayangan sang suami semakin menari-nari di pelupuk mata. Sindy menghentikan ritual makannya karena melihat Kirana berurai air mata.
__ADS_1
Sindy meraih tangan sahabatnya dan menatap intens dua manik mata yang telah basah. "Ran, ceritakanlah sekarang juga apa yang telah terjadi padamu! Apa kamu bertengkar dengan Bima?"
Kirana menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bertengkar dengan Abi, Sind. Hiks ... hiksss."
Dengan terisak, Kirana menceritakan segala apa yang telah terjadi, hingga Sindy pun terkesiap mendengarnya.
"Astaghfirullah.... Jadi Tante Maria itu adalah ibu kandungmu? Dan, Vano si lelaki brengs** telah melecehkanmu?" Kedua netra Sindy nampak memerah karena amarah. Telapak tangannya mengepal seolah ingin memberikan bogeman mentah kepada Vano, andai saja pria brengs** itu ada di hadapannya.
Kirana menjawab pertanyaan sahabatnya hanya dengan menganggukan kepala.
"Haahhhhh dasar pria laknat. Seharusnya pria brengse* itu dibunuh saja dengan cara dimutilasi. Sekalian adiknya, si uler keket juga harus dicincang-cincang lalu dimasukan ke dalam kandang buaya." Nafas Sindy terdengar memburu karena emosinya yang meluap-luap.
"Ran, kamu juga salah. Harusnya kamu tidak boleh meninggalkan rumah tanpa seijin suamimu! Kasihan Bima, pasti dia mencarimu."
"Tapi Sind, aku benar-benar merasa sudah tidak pantas untuk Abi."
"Ran, itu menurut pendapatmu kan? Harusnya sebelum pergi, bicarakanlah terlebih dahulu apa yang kini tengah kamu rasakan dari hati ke hati! Bila memang Bima tidak mau menerima kenyataan yang telah menimpamu, baru kamu pergi meninggalkannya!"
Kirana masih saja terisak. Apa yang dikatakan oleh Sindy memang benar. Harusnya ia tidak gegabah meninggalkan rumah sebelum berbicara dengan sang suami mengenai apa yang kini tengah dirasakannya. Kirana merasa hina karena kehormatannya sebagai seorang istri telah ternoda. Apa yang telah dilakukan oleh Vano masih begitu lekat diingatannya.
"Apa? Kamu hamil Ran?"
"Iya Sind, aku hamil."
"Ran, seharusnya saat ini kamu tengah merasakan kebahagiaan di samping Bima dan bermanja dengannya, karena seorang ibu hamil akan merasa nyaman bila selalu berada di dekat sang suami."
"Iya Sind. Jujur, aku ingin selalu berada di dekat Abi. Sebenarnya aku tidak sanggup pergi jauh darinya. Namun, saat ini aku benar-benar sedang ingin menangkan diri, Sind." Kirana menyeka jejak air mata dengan jemari tangannya.
"Hemmm, baiklah kalau kamu memang ingin menenangkan diri terlebih dahulu di desa ini. Setidaknya, beritahukan keberadaanmu kepada Bima, agar ia tidak terlalu mengkhawatirkan istrinya yang bandel!"
"Tidak Sind! Aku tidak ingin memberitahukan keberadaanku kepada Abi. Aku sudah terlanjur menuliskan di surat itu, bahwa aku ikhlas bila Abi memilih wanita lain yang lebih baik."
Sindy menyentil kening Kirana dengan pelan.
"Dasar wanita bodoh. Memangnya hatimu benar-benar ikhlas jika Bima menikah lagi, hemm? Sempit sekali cara berpikirmu Ran." Sindy memasang wajah sebal.
__ADS_1
"Entahlah Sind. Jangan membicarakannya lagi!" Wajah Kirana semakin terlihat sendu karena ucapan sahabatnya. Ya, wanita mana yang benar-benar ikhlas jika suaminya akan menikah lagi dengan wanita lain.
"Ya, kita tidak usah membicarakannya lagi, karena itu membuatku pusing. Masalahmu yang mungkin bisa diselesaikan dengan simpel malah kamu bikin rumit sendiri."
"Iya kamu benar. Maaf bila membuatmu ikut pusing."
"Sudahlah! Kita harus bersiap-siap ke rumah bapak kepala desa."
"Baiklah Sind."
"Ran, kalau boleh memberi saran, jangan menggunakan nama AYU! Karena di desa ini ada sepuluh orang yang bernama Ayu. Ayu Wandira, Ayu Widia, Sukma Ayu, Sekar Ayu ...."
"Lalu aku harus menggunakan nama apa?"
"Putri. Pakailah nama Putri! Sepertinya itu lebih cocok untukmu. Atau pakai saja nama aslimu, Ayunda Kirana!"
"Hemmzzz, baiklah Sind. Aku akan memperkenalkan namaku, Ayunda. Mereka bisa memanggilku Yunda, Nda..."
"Bisa juga Panda, karena pipimu sekarang agak tembem..." Sindy terkekeh menggoda sahabatnya.
"Dasar, Sindul. Enak saja cantik-cantik begini dipanggil Panda." Bibir Kirana mengerucut.
"Biarin, wekkkkk..." Sindy menjulurkan lidahnya, kedua sahabat itu pun tertawa lepas karena candaan mereka.
🌹🌹🌹🌹
Readersss, semoga masih setia mengikuti kisah Abi dan Kiran... ❤❤❤
Jangan lupa meng-update aplikasi Mangatoon atau Noveltoon, agar readers bisa tetap memberi dukungan kepada para author!! ❤❤
Jangan lupa semangati author dengan meninggalkan jejak like.... 👍👍👍👍
Trimakasih dan happy reading ❤❤❤
__ADS_1