Istri Comel Pilihan Abi

Istri Comel Pilihan Abi
Tangisan Seorang Adik


__ADS_3

Setelah mendengar kabar dari Suci mengenai kecelakaan yang menimpa Ilham, Abimana segera melajukan mobil menuju rumah kedua orang tuanya untuk menitipkan Keanu terlebih dahulu sebelum berangkat ke rumah sakit.


.


.


Selama di perjalanan, Kirana tak henti-hentinya meneteskan air mata. Kirana teramat khawatir membayangkan hal buruk yang menimpa Ilham. Sambungan telepon dari Suci tiba-tiba terputus sebelum menjelaskan keadaan Ilham yang sebenarnya. Kekhawatiran Kirana semakin bertambah tatkala ponsel Ilham tidak bisa dihubungi.


"Huhu ... Bie, bagaimana jika Bang Ilham tiada? Aku belum siap kehilangan Bang Ilham."


Abimana menatap wajah istrinya sekilas, tangannya masih fokus menyetir. "Tenangkan pikiranmu, Bunda! Berusahalah untuk berpikir positif!" Abimana berusaha menenangkan istrinya yang tengah dirundung kesedihan.


"Tapi Bie ... perasaanku sungguh tidak enak. Aku takut Bie!"


"Istighfar Bunda! Langitkan pinta, semoga Bang Ilham baik-baik saja!"


"Huhuuu ... Bang Ilham." Meski Abimana sudah berusaha menenangkan istrinya, namun tangis Kirana malah semakin menjadi.


.


.


Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, mereka sampai di parkiran rumah sakit swasta tempat Ilham di rawat. Abimana menghentikan mobilnya.


Mereka berdua segera melepas seatbelt kemudian membuka pintu mobil. Abimana dan Kirana keluar dari dalam mobil lalu bergegas melangkahkan kaki menuju pintu masuk rumah sakit.


Mereka berdua masuk ke UGD, namun tidak menemukan keberadaan Ilham ataupun Suci. Kirana bertanya pada salah seorang perawat yang berjaga, "Sus, di mana ruangan rawat inap pasien atas nama Ilham?"


"Owhhh, pasien yang mengalami kecelakaan?"


"I-iya Sus."


"Maaf Bu, pasien sudah meninggal dunia beberapa jam yang lalu."


DEG


Tubuh Kirana serasa lunglai. Bulir kesedihan semakin deras menghujani wajah cantiknya.


"Bang Ilham...... Huhu.... Bang, jangan tinggalkan Kiran! Bang...."


Abimana memeluk tubuh istrinya yang rapuh. Ia merasakan apa yang tengah dirasakan oleh istrinya.


"Bie... Ini hanya mimpi kan? Bang Ilham tidak mungkin meninggalkan adiknya ini. Huhu...."


"Bunda, ikhlaskan kepergian Bang Ilham! Bund, berusahalah untuk tabah dan kuatkan hati menerima ujian dariNya!" Abimana mengusap punggung istrinya dengan gerakan naik turun seraya memberi ketenangan.


"Ta-tapi Bie. Aku teramat menyayangi Bang Ilham. Bahkan aku sangat merindukannya. Huhu...." Tangis Kirana terdengar sangat menyayat hati. Hingga semua orang yang mendengarnya iba dan empati. Bahkan sebagian dari mereka ada yang ikut meneteskan air mata.

__ADS_1


Tiba-tiba ponsel Kirana bergetar kembali. Kali ini panggilan telepon dari Ridwan, ayah Kirana.


Abimana segera menerima panggilan tersebut setelah meregangkan pelukannya.


"Assalamu'alaikum, Ayah."


"Wa'alaikumsalam, Bim. Di mana Kirana? Mengapa kalian belum sampai di ruangan Ilham?"


"Yah, kami sudah sampai di rumah sakit. Kata suster, Bang Ilham telah tiada."


Hening sejenak...


"Bim, Alhamdulillah Ilham masih hidup. Kakak iparmu masih diberi keselamatan. Lukanya juga tidak terlalu parah."


Abimana terkesiap mendengar ucapan ayah mertuanya.


"Be-benarkah Yah?"


"Iya Bim."


Setelah memberitahu ruangan tempat Ilham di rawat, Ridwan mengakhiri panggilannya.


Senyum terbit di bibir Abimana setelah mengetahui keadaan Ilham yang sebenarnya.


"Huhu ... Bie, mengapa kamu malah tersenyum?" Kirana masih saja menangis tersedu-sedu.


Hening....


Kirana mencoba menelaah ucapan suaminya.


"Be-benarkah Bie? Lalu, siapa yang dimaksud oleh suster itu?"


Abimana mengedikkan bahu."Entahlah Bund." Perlahan Abimana melepaskan pelukannya. Ia seka bulir kesedihan yang membasahi wajah cantik istrinya dengan jemari tangan.


"Bie, berarti untuk siapa tangisanku ini? Air mataku mubazir, Bie." Pandangan netra Kirana beralih pada suster yang telah memberikan informasi salah. Karena merasa ditatap oleh Kirana, suster yang bernama Ani, menjadi salah tingkah.


"Sus, jelaskan pada kami, siapa Ilham yang anda maksud!" titah Kirana dengan meninggikan intonasi suaranya.


"Il-Ilham Pradana."


Kedua netra Kirana membulat sempurna tatkala mendengar jawaban dari Ani, bahwa nama pasien yang meninggal dunia bukanlah Reinan Ilham melainkan Ilham Pradana.


"Hah, lain kali jika ingin memberikan informasi jangan setengah-setengah dan harus valid, Sus!" Kirana berdecak kesal.


"Ma-maaf." Ani menundukkan wajahnya. Ia merasa bersalah dan teramat malu. Hemm, sebenarnya yang merasa malu bukan hanya Ani, namun Kirana dan Abimana juga teramat malu karena mereka menjadi pusat perhatian para pengunjung rumah sakit.


Tanpa membalas ucapan maaf dari Ani, Kirana bergegas melangkah pergi diikuti oleh Abimana. Mereka berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit menuju ruangan rawat inap, tempat Ilham berada.

__ADS_1


.


.


Sesampainya di depan ruangan atau kamar yang dimaksud oleh Ridwan, Abimana dan Kirana menghentikan langkah kaki mereka.


CEKLEK


Perlahan Kirana membuka pintu kamar tempat Ilham dirawat. Nampak Ilham sedang duduk dengan bersandar pada headboard. Sedangkan Suci, Ridwan dan Ratri tengah duduk di sofa. Nisa tampak tertidur lelap di pangkuan Suci.


"Bang Ilham...." Kirana berlari ke arah abang yang sangat disayanginya.


Kirana duduk di tepi ranjang kemudian memeluk Ilham dengan erat. Lolos sudah air bening dari kedua sudut netra Kirana.


Ilham membalas pelukan adik semata wayangnya meski mereka berbeda ibu. Ia usap punggung Kirana dengan penuh kelembutan. Abimana, Ridwan, Ratri dan Suci merasa terharu melihat Kirana dan Ilham yang saling berpeluk.


Perlahan Kirana dan Ilham meregangkan pelukan. Ilham menyeka buliran air bening yang membasahi wajah adiknya dengan jemari tangan.


"Dek, jangan menangis lagi! Bang Ilham hanya mengalami luka ringan kog. Insya Allah, nanti sore Bang Ilham sudah diperbolehkan untuk pulang."


"Benarkah Bang? Abang tidak bohong kan?" Kirana menatap manik mata Ilham.


"Iya Dek. Kapan Bang Ilham bohong?"


Kirana menggeleng-gelengkan kepala. "Selama ini Bang Ilham tidak pernah berbohong."


Ilham mengulas senyum. "Bang Ilham merindukanmu, adik comel."


"Kirana juga sangat, sangat merindukanmu Bang Ilham."


Abimana mencium punggung tangan Ridwan dan Ratri secara bergantian, sebelum berjalan mendekat ke arah ranjang pasien.


"Alhamdulillah, Bima teramat bersyukur karena luka Bang Ilham tidak terlalu parah. Kasihan adekmu, Bang. Sedari tadi mengkhawatirkan keadaan Bang Ilham. Bahkan, Kiran menangis tersedu-sedu setelah mendapat informasi bahwa pasien atas nama Ilham, sudah meninggal dunia. Ternyata yang ditangisi bukan Bang Ilham, melainkan orang lain." Abimana tersenyum lebar. Ia merasa geli kala membayangkan kejadian konyol yang baru saja dialami.


Ridwan, Ratri dan Ilham pun tertawa tatkala mendengar ucapan Abimana.


"Bang, ceritakan pada kami, apa yang sebenarnya telah terjadi!" titah Kirana.


.....


🌹🌹🌹🌹


Bersambung.....


Jangan lupa untuk meninggalkan jejak like dan berikan vote (jika berkenan), untuk memberi dukungan pada ICPA


Trimakasih dan selamat membaca 💓💓💓

__ADS_1


__ADS_2