
Saat malam mencekam, lantunan kalam cinta seakan menjadi penawar bagi kegundahan jiwa. Entah apa yang dirasakan oleh Fadhil beberapa hari ini adalah suatu firasat atau hanya kegundahan yang tanpa sebab? Setiap malam, netra Fadhil seakan sulit untuk terpejam sebelum melantunkan kalam cinta.
Di sepertiga malam, Fadhil selalu terbangun untuk menyembah dan merayu pada Illahi. Terkadang, Fadhil membangunkan Hana untuk ikut serta menjalankan sholat sunnah qiyamul lail. Namun bila Hana terlihat sangat lelah, Fadhil tidak tega membangunkan sang istri yang masih terlelap.
Berbeda dengan malam ini, seolah Fadhil ingin sekali agar Hana turut serta menjalankan ibadah sholat sunnah qiyamul lail, meski ia tau bahwa istrinya nampak lelah.
"Humaira, bangunlah Sayang!" Fadhil mencium kening Hana dengan penuh perasaan. Hana hanya menggeliat.
"Hana sayang, bangunlah!" Kali ini Fadhil mendaratkan kecupan di pipi istrinya, namun tetap saja belum berhasil membangunkan Hana.
"Hana Maulida Putri, bangunlah! Kita tidak akan pernah tau, mungkin ... setelah ini Mas Fadhil tidak bisa menemani Hana untuk bersujud di sepertiga malam lagi," bisik Fadhil tepat di telinga istrinya.
Ucapan Fadhil seakan menjadi cambuk yang membuat Hana tersentak hingga seketika membuka kelopak matanya. "Mas...," lirih Hana.
"Hehem..." Fadhil mengusap pipi istrinya dengan penuh kelembutan disertai senyuman khas yang menawan.
"Mas, apa yang Mas Fadhil ucapkan tadi?" Hana memicingkan matanya.
"Ohhhh, hanya ucapan penyemangat supaya Humaira terbangun. Humaira, maaf jika malam ini Mas Fadhil sedikit memaksamu agar terbangun untuk menjalankan sholat sunnah qiyamul lail. Besok pagi Mas Fadhil pergi ke luar kota, jadi ... mungkin beberapa hari ke depan, tidak ada yang membangunkan Humaira untuk menjalankan ibadah sholat sunnah qiyamul lail."
Hana memeluk erat tubuh suaminya. "Mas, lain kali jangan ucapkan kata-kata itu lagi! Hana sungguh tidak ingin mendengarnya!"
Fadhil mengulas senyum dan mencium pucuk kepala istrinya. Ia pun membalas pelukan Hana. "Mas Fadhil berjanji tidak akan mengucapkan kata-kata itu lagi, Humaira."
"Hana takut Mas. Atau ... Hana ikut Mas Fadhil pergi ke Bandung?" Hana menenggelamkan kepalanya di dada bidang Fadhil.
"Humaira, Mas Fadhil pergi tak akan lama. Insya Allah jika pekerjaan Mas sudah selesai, Mas Fadhil akan segera kembali pulang. Jika Allah mengijinkan, maka kita akan bersama-sama lagi."
"Mas...," suara Hana tercekat. Ia sungguh tidak dapat menahan kesedihan karena sebentar lagi akan jauh dari suaminya.
__ADS_1
"Yuk, kita jalankan ibadah sholat sunnah qiyamul lail, Humaira!"
"Iya Mas...." Hana dan Fadhil mengurai pelukan. Perlahan mereka beranjak dari posisi berbaring.
Hana dan Fadhil berjalan menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu sebelum melaksanakan ibadah sholat sunnah qiyamul lail.
🌹🌹🌹
Di ruangan yang disediakan khusus untuk beribadah, nampak seorang pria tengah berdzikir dan melangitkan pinta kepada Illahi agar senantiasa diberi petunjuk untuk menjadi seorang imam yang terbaik bagi keluarga kecilnya, meski masa lalunya teramat kelam. Ia juga memohon supaya perasaan cinta yang selama ini masih bersemi di dalam hati untuk Hana, dapat segera terhapuskan. Pria itu adalah Adam Rizal Syaputra. Adam sangat tersiksa memiliki perasaan cinta yang tidak seharusnya masih ia rasakan. Karena mantan kekasih yang masih sangat ia cintai, kini sudah memiliki seorang suami. Apalagi suami Hana adalah Fadhil Siddiq Syam, pria yang teramat perfect di mata Adam.
Tangan Adam menengadah. Bulir kesedihan tidak dapat lagi ia bendung tatkala tengah mengungkapkan segala risau di hati.
"Allah, hamba hanyalah seorang pendosa yang berusaha menggapai cintaMu meski tertatih. Hamba hanyalah seorang insan yang lemah iman. Haramkah jika hamba masih memiliki hati pada wanita berhati mulia itu? Jika perasaan cinta ini haram bagi hamba, maka hapuskanlah dengan segera. Hamba teramat risau dan tersiksa karena perasaan cinta yang masih ada untuknya. Allah, hamba tidak ingin menyakiti hati Shelly bila ia tau bahwa di dalam hati ini masih terukir nama Hana."
Punggung Adam nampak naik turun. Bulir kesedihan semakin mengalir deras. Sudah beberapa tahun ini, ia selalu meminta agar perasaan cintanya terhadap Hana segera terhapuskan. Namun sang pemilik hati berkehendak lain. Illahi masih menumbuhkan benih-benih cinta di hati Adam untuk Hana. Sepasang kekasih yang harus terpisah karena masa lalu Adam yang teramat kelam. Sebisa mungkin Adam selalu berusaha menutupi perasaan cintanya terhadap Hana, dari Shelly. Ia tidak ingin menyakiti hati istri dan putrinya.
Tanpa Adam sadari, ternyata sedari tadi Shelly sudah berdiri dengan bersandar pada pintu yang sudah terbuka. Shelly mendengar semua apa yang diucapkan oleh suaminya. Ia teramat merasa bersalah karena telah menjadi penyebab Adam dan Hana berpisah. Di dalam kalbunya, Shelly berkeinginan untuk menyatukan Adam dan Hana kembali sebelum ia pergi menghadap Illahi. Namun seolah keinginannya adalah sesuatu yang mustahil, karena Hana sudah menjadi istri Fadhil.
Adam terkesiap setelah mengetahui kehadiran Shelly. Ia seka air mata yang masih saja membasahi wajahnya.
"Dam...." Shelly menatap manik hitam suaminya.
"Ya Shell." Adam membalas tatapan Shelly.
"Dam, maaf."
Adam menghela nafas pelan kemudian menghembuskannya dengan perlahan.
"Shell, seharusnya aku yang meminta maaf. Aku yakin, kamu mendengarnya."
__ADS_1
"Iya Dam, aku mendengarnya. Dam, jika saja Hana belum menjadi istri Fadhil, aku sangat ingin kalian bersatu kembali."
"Shel, aku bukanlah pria yang pantas untuk menjadi imam seorang Hana Maulida Putri. Aku pun sebenarnya tidak pantas menjadi imam bagimu. Kamu wanita yang berhati mulia Shel. Sedangkan aku hanyalah seorang pendosa yang pernah melakukan zina dengan dua orang wanita, kamu dan Diana." Suara Adam terdengar lirih. Dadanya menyesak kala teringat dosa besar yang pernah ia lakukan di masa lalu meski kini telah bertaubat.
"Dam, aku pun seorang pendosa. Tidak ada makhluk di muka bumi ini yang tak luput dari dosa. Kamu pria yang teramat perfect di mataku, Dam. Kamu seorang suami sekaligus ayah yang teramat bertanggung jawab dan penyayang. Aku yakin, kelak Allah akan mendatangkan seorang wanita yang lebih sempurna dari pada istrimu ini, Dam."
Adam menautkan alisnya. "Maksud kamu apa Shel?"
Shelly mengulum senyum. "Dam, jika seandainya aku pergi, nikahilah seorang wanita salehah! Yang penyayang dan keibuan."
DEG
Tetiba dada Adam serasa sesak mendengar ucapan Shelly. Ditatapnya wajah Shelly dengan intens. Pucat. Adam baru menyadari jika wajah Shelly teramat pucat.
"Shel, jujurlah padaku! Kamu sakit, Shel?"
Shelly berusaha mengulas senyum. "Tidak Dam. Aku tidak sakit."
"Kamu berdusta Shel. Katakan terus terang padaku Shel!"
Lolos sudah bulir kesedihan dari sudut netra Shelly. "Dam, aku mengidap penyakit leukemia."
JEDERRRR
Bagaikan disambar petir. Seketika tubuh Adam serasa lunglai mendengar pengakuan Shelly.
🌹🌹🌹🌹
Bersambung... belum end 😁😁😁
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak like untuk menyemangati author dan berikan vote atau sekuntum bunga 🌹 jika berkenan memberi dukungan pada ICPA.
Trimakasih dan selamat membaca 💓💓💓