Istri Comel Pilihan Abi

Istri Comel Pilihan Abi
Kedatangan Tim Uler Keket


__ADS_3

Kisah kita, bukanlah kisah cinta yang menarik, seperti yang tertulis di novel-novel famous. Bukan berawal dari kebencian kemudian berubah menjadi cinta. Kisah cinta kita justru berawal dari rasa kasih sayang seorang sahabat. Meski, menikah denganmu adalah hal yang tidak pernah kubayangkan. Kini aku berharap, semoga kisah cinta kita terangkai dengan indah bagai kisah cinta Baginda Nabi dan istri tercinta, Aisyah RA.


Abimana dan Kirana.


🌹🌹🌹


Bandara YIA di pagi hari


Seorang pria berbadan tegap, dengan bentuk tubuhnya yang atletis berjalan menuruni tangga pesawat. Pria muda itu melangkah dengan rasa percaya diri bersama dua orang wanita yang berbeda generasi. Ketiganya kompak memakai kaca mata hitam, mungkin karena takut silau ketika terkena sinar matahari atau untuk menutupi mata mereka yang terlihat memerah seperti mata para iblis. Mungkin juga mereka termasuk spesies Vampire yang menjelma sebagai manusia. Ahhh entahlah... 😌


"Aku datang Kirannnnn...." teriak pria itu dengan suaranya yang terdengar lantang sambil merentangkan kedua tangan. Sebenarnya ia memiliki wajah yang tampan, namun sayang akhlakul karimah tidak melekat pada pribadinya.


"Tiba waktunya, aku akan merebut kembali putri kandungku...." Salah seorang dari mereka menyeringai. Terlihat wajahnya yang masih nampak cantik meski tak lagi muda.


"Hemmmmzzz, kita akan memulai pembalasan. Rasakan kehancuranmu singa betina!" sahut wanita yang lebih muda disertai tawa penuh kemenangan sebelum memulai peperangan.


Entah apa yang mereka bertiga rencanakan?????


🌹🌹🌹


"Sayang, hari ini jangan berangkat kerja!" Abimana menatap dengan intens pantulan wajah kekasihnya yang tengah duduk di depan cermin sambil memakai jilbab berwarna putih.


"Bie, hari ini aku ada janji dengan beberapa pasien." Kirana membalikan badan hingga membuat keduanya saling berhadapan. Abimana duduk bersimpuh di hadapan Kirana dan menciumi buku-buku jari wanita yang kini sangat dicintainya.


"Yang, bukannya tadi malam Sayang mengigau karena bermimpi buruk?"


Kirana mendesah, "Hah... Iya Bie. Jujur aku sangat takut bila mimpi semalam benar-benar menjadi kenyataan."


"Karena itu, aku ingin Sayang tidak usah bekerja lagi! Entah mengapa aku merasa khawatir Yang. Aku mohon jangan pernah pergi dari sisiku!"


Kirana mengusap wajah Abimana dengan jemari lentiknya.


"Bie, Insya Allah aku tidak akan pernah pergi dari sisimu. Kecuali jika Allah menghendaki ...." Kirana tidak mampu meneruskan ucapannya. Membayangkan perpisahan membuat dadanya serasa sesak, apalagi jika takdir berkata mereka memang harus berpisah. Wajah cantiknya kini nampak sendu.


"Sayang, ikutlah bersamaku pergi ke kantor!" Abimana memasang wajah memelas.


"Tidak bisa Bie. Kasihan nanti para pasien akan merasa kecewa karena tidak jadi bertemu denganku." Kirana berusaha memberikan pengertian kepada Abimana, meski di dalam lubuk hatinya juga tengah dilanda resah. Entah apa yang sebenarnya akan terjadi?


"Kalau begitu, ijinkan aku ikut menemanimu bekerja, Yang!" pinta Abimana dengan menatap manik hitam Kirana lekat-lekat.


Kirana mengulas senyum, "Bie, bagaimana dengan tugasmu sebagai seorang CEO di perusahaan ayah? Apalagi nanti Hubby ada meeting kan?"

__ADS_1


"Tenang Sayang, ada Rifky yang bisa menggantikanku sementara!" Abimana berusaha meyakinkan istrinya.


"Baiklah Bie. Tapi jangan seperti kemarin, minta yang aneh-aneh!" Kirana mengerucutkan bibirnya.


"Yessss, aku akan usahakan tidak akan meminta yang aneh-aneh lagi. Trimakasih Sayang." Abimana mengulas senyum dan memeluk tubuh Kirana. Entah mengapa sedetik pun Abimana tidak ingin terpisah dengan istrinya.


"Uchhhh..." Abimana memegang perutnya yang tiba-tiba kembali terasa mual.


Abimana melerai pelukannya. Ia pun segera beranjak dari duduknya dan berlari menuju kamar mandi.


Hoekkkk... hoekkkk... hoeeekkk


Abimana memuntahkan isi perutnya.


Kirana beranjak dari duduk kemudian bergegas menyusul Abimana.


"Bie, harusnya aku yang mengalami morning sickness. Echhhh malah kamu mewakiliku Bie." Kirana mengusap-ngusap punggung suaminya dengan pelan.


Hoekk... hoekkk...


Kembali Abimana memuntahkan isi perutnya yang hanya berupa cairan bening.


"Sudah Bie, ayo aku oleskan minyak kayu putih di perutmu!"


Kirana memapah Abimana hingga ke sisi ranjang. Seketika Abimana merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Kirana membuka kancing baju suaminya dan mengoleskan minyak kayu putih di perut Abimana.


"Bie, aku bawakan sarapan ke kamar ya?"


"Huum Yang. Suapin ya!" Abimana mengembangkan senyum meski wajahnya masih terlihat pucat.


"Iya Hubby. Dasar manjahhhh." Kirana mencubit hidung suaminya dengan gemas.


"Awww, sakit Yang," pekik Abimana dengan mengusap hidungnya yang memerah.


"Hhhhehe, habisnya wajahmu menggemaskan Bie." Kirana berdiri kemudian berjalan meninggalkan suaminya yang manja.


.


.

__ADS_1


Setelah mengambil bubur ayam dan secangkir teh hangat yang sebenarnya sudah ia sajikan di atas meja makan, Kirana bergegas berjalan menuju kamar.


Tap


Tap


Tap


Kirana menaiki tangga dengan membawa nampan yang berisi sepiring bubur ayam dan secangkir teh hangat.


Dokter cantik itu berjalan mendekat ke ranjang. Abimana terlihat sedang memainkan benda pipih dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran tempat tidur.


"Bie, sarapan dulu!" Kirana mendaratkan pantatnya di tepi ranjang.


"Iya Yang." Abimana masih memainkan benda pipih yang ada di tangannya.


"Ada apa Bie? Sepertinya ada sesuatu yang serius." Kirana menatap kedua manik hitam suaminya dengan intens.


Abimana mendesah, "Hah... Sepertinya aku tidak bisa menemani Sayang bekerja seharian. Ada perusahaan rekanan Surya Group yang sedang mengalami serangan cyber dari pihak eksternal. Aku harus segera berangkat ke perusahaan itu untuk mengatasinya, Yang." Raut wajah Abimana nampak sedih.


"Tapi Bie, makanlah dulu! Setelah itu Hubby berangkat ke perusahaan rekanan Surya Group dan aku berangkat ke klinik dengan mengendarai sepeda motor."


"Tidak bisa Yang. Aku akan mengantarkan Sayang ke klinik terlebih dahulu. Tapi berjanjilah untuk selalu berhati-hati, Yang!" Abimana menatap wajah istrinya yang cantik dengan tatapan sendu, seolah ia benar-benar tidak ingin terpisah dengan Kirana.


"Iya Bie. Aku berjanji. Sekarang buka mulutmu ya Bie!" Kirana memasukan satu sendok makan bubur ayam ke mulut suaminya yang sudah terbuka lebar.


"Semoga kekhawatiranku bukanlah suatu firasat buruk Yang," monolog Abimana di dalam hati.


🌹🌹🌹🌹


Readersss, Kiran & Abi akan kembali menghadapi ujian cinta yang sebenarnya akan menambah ikatan cinta mereka. Ada revisi sedikit yakk di episode ini, tentang dialog Abimana "cyber" 😊🙏🙏


Jangan lupa like 👍


Beri komentar


Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐


Vote jika berkenan


Klik emote ❤ untuk favoritkan novel

__ADS_1


Trimakasih dan happy reading 😘😘😘



__ADS_2