Istri Comel Pilihan Abi

Istri Comel Pilihan Abi
Bertemu Duo Sahabat


__ADS_3

Ilham merangkul bahu adik kesayangannya dan mulai menceritakan apa yang telah terjadi.


"Dek, sebenarnya Bang Ilham, Mbak Suci dan Nisa, sudah tiga hari ini pindah rumah lagi ke Jogja. Ayah mertua Bang Ilham juga turut serta tinggal di rumah baru kami."


Ilham nampak menghela nafas.


"Dek, rumah yang kami tempati sekarang tidak jauh dari rumah kita. Tadi pagi, Bang Ilham meminjam sepeda motor kesayanganmu, yang dititipkan di rumah. Bang Ilham ingin sekedar berkeliling menikmati pemandangan alam yang berlatar belakang Gunung Merapi dan hamparan sawah menghijau."


Kirana menatap wajah abangnya dengan intens. "Abang mengendarai sepeda motor sendiri? Mbak Suci dan Nisa tidak ikut serta kan?"


Ilham mengulas senyum. "Iya Dek. Bang Ilham hanya sendirian mengendarai sepeda motor itu."


"Lalu, mengapa Bang Ilham bisa mengalami kecelakaan?"


Senyum terkembang di bibir Ilham. Ia nampak geli jika mengingat kejadian tadi pagi. "Dek, Bang Ilham menabrak pohon dan terjatuh dari sepeda motor saat menghindari rombongan bebek yang sedang berjalan dengan asiknya. Alhamdulillah, Bang Ilham hanya mengalami luka ringan di bagian tangan dan kaki. Insya Allah, nanti sore sudah diperbolehkan untuk pulang."


Kirana tergelak setelah mengetahui penyebab kecelakaan yang dialami oleh abangnya, "pffffttt ... hhhahaha, haduchhhh ... ternyata penyebab kecelakaan yang dialami Bang Ilham adalah rombongan bebek, bukan rombongan kambing atau sapi, Bang."


Abimana, Ridwan, Ratri dan Suci tersenyum lebar mendengar celotehan Kirana.


"Bang, Kiran jadi ingat sewaktu kita kecil dulu. Bukankah kita pernah terjatuh dari sepeda gara-gara menghindari rombongan bebek juga? Bang Ilham dan Kiran sampai masuk ke dalam lumpur."


"Iya Dek, waktu itu Bang Ilham sangat geli melihatmu yang seperti choki-choki." Ilham tertawa kecil saat mengingat kejadian yang telah lama berlalu. Wajah dan tubuh Kirana dipenuhi oleh lumpur karena terjatuh dari sepeda.


"Heheehe, iya Bang. Bang Ilham lebih beruntung. Hanya badan Bang Ilham saja yang dipenuhi oleh lumpur."

__ADS_1


Tetiba, Kirana nampak sedikit mengerutkan keningnya. "Oiya Bang, luka Bang Ilham kan tidak terlalu serius, kenapa harus menunggu nanti sore pulangnya?"


Ridwan, Ratri dan Suci nampak tersenyum mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Kirana, seolah mereka sudah mengetahui jawaban yang akan diberikan oleh Ilham.


"Dek, Bang Ilham diminta istirahat di kamar ini, sampai Dokter Fabian datang bersama istrinya. Dokter Fabian yang menyuruh Mbak Suci untuk menghubungimu dan mengabarkan bahwa Bang Ilham mengalami kecelakaan."


Kedua netra Kirana membulat sempurna. Nampak binar kebahagiaan di raut wajah cantiknya. "Fabian, Sindy...."


"Iya Dek. Fabian dan Sindy sangat merindukanmu. Sebenarnya mereka ingin segera menemui sahabat comelnya ini, namun belum sempat karena tengah sibuk mengurus kepindahan dari Jakarta ke Jogja. Kebetulan sewaktu Mbak Suci mengantar Bang Ilham ke rumah sakit, kami bertemu dengan Fabian."


"Masya Allah.... Hari ini Kirana sangat bahagia, Bang. Bisa bertemu dengan Bang Ilham dan sebentar lagi akan bertemu dengan duo sahabat yang sangat Kirana rindukan."


"Iya Dek, Alhamdulillah."


"Tapi..,"


"Tapi, Kiran ikut berduka atas meninggalnya Ilham Pradana. Pasti keluarga yang ditinggalkannya teramat sedih." Raut wajah Kirana berubah sendu. Tak terbayang jika yang meninggal benar-benar abangnya.


Ilham mengulas senyum sembari mengusap jilbab adiknya. "Dek, semua makhluk di dunia ini milik Allah dan akan kembali kepadaNya. Kita pun sebenarnya tengah mengantri untuk kembali menghadapNya. Oleh karena itu, kita harus membekali diri dengan keimanan dan ketaqwaan."


Kirana menghela nafas. "Iya Bang. Hidup dan mati seseorang sudah tertulis di kitab Lauhulmahfuz."


.


.

__ADS_1


CEKLEK


Terdengar suara pintu di buka dengan perlahan. Kirana segera beranjak dari posisi duduk untuk menyambut dua orang yang sudah berdiri di balik pintu.


"Fabian, Sindy...." pekik Kirana sembari mengembangkan senyum.


"Kiran..." Sindy berlari ke arah Kirana yang berdiri di sisi ranjang. Mereka pun saling berpeluk.


"Sindy, aku kangen bangettttt..."


"Aku juga kangen bangettttt, Ran."


"Bian, selamat atas pernikahanmu dengan Sindy. Semoga sakinah, mawadah, warohmah." Abimana menjabat tangan Fabian disertai seulas senyum manis.


Fabian menarik kedua sudut bibirnya hingga nampaklah senyuman yang menawan. "Aamiin yaa Allah, trimakasih Bim."


Perlahan Sindy dan Kirana melepaskan pelukan mereka. Sindy mencium punggung tangan Ridwan dan Ratri, diikuti oleh Fabian. Kemudian, Sindy dan Suci berpeluk singkat.


Mereka pun berbincang, meluapkan rasa rindu karena telah lama tidak berjumpa.


🌹🌹🌹


UP nya segini dulu ya readers 🙏🙏🙏😁😁😁


Jangan lupa untuk meninggalkan jejak like dan klik hadiah atau vote jika berkenan mendukung ICPA.

__ADS_1


Trimakasih dan happy reading 💓💓💓


__ADS_2