
Langit begitu cerah, hembusan sang bayu serasa menyejukkan. Seolah alam ikut berbahagia atas kelahiran dua bayi cantik, putri Alya dan Asti.
Alya dan Raikhan memberi nama putri kedua mereka Raina Aisyah Qirani. Sedangkan Asti dan Arif memberi nama putri pertama mereka Rifna Aisyah Salsabila.
Mereka teramat bahagia menyambut kelahiran baby Raina dan Rifna.
Saat ini kedua bayi tersebut dijenguk oleh Abimana dan Kirana. Abimana menggendong Keanu dengan posisi seperti kangguru. Abimana dan Kirana memberi selamat atas kelahiran baby Raina dan Rifna.
"Selamat atas kelahiran dua putri cantik, yang Insya Allah kelak akan menjadi sahabat Keanu." Kirana memeluk singkat Alya dan Asti secara bergantian.
"Trimakasih Mbak Kiran," balas Alya dan Asti hampir bersamaan.
"Selamat atas kelahiran putri kalian. Semoga kedua putri cantik kelak tumbuh menjadi gadis yang saleha." Abimana menjabat tangan Raikhan dan Arif secara bergantian.
"Aamiin, yaa Robb. Makasih Bim," balas Raikhan disertai senyuman yang terhias di bibirnya.
"Aamiin yaa Allah, trimakasih Mas Bima," balas Arif. Senyuman manis terlukis di bibir pria tampan berkaca mata itu.
"Silahkan duduk Kiran, Bima! Emmm ... kapan kalian akan memberi Keanu seorang adik?" Raikhan mempersilahkan kedua sahabatnya untuk duduk disertai candaan. Raikhan memangku Allyra, sedangkan Alya menggendhong baby Raina. Mereka berdua duduk di tepi ranjang pasien. Abimana dan Kirana mendaratkan pantat di kursi yang berada di sisi ranjang, setelah Raikhan mempersilahkan mereka untuk duduk.
Asti dan Arif duduk bersebelahan di sofa yang berada di sudut ruangan. Baby Rifna nampak tertidur pulas dalam gendongan Asti.
Bibir Kirana mencebik. "Ishhhh, Keanu masih teramat kecil untuk memiliki seorang adik. Usia Keanu masih delapan bulan, Jo."
"Ya nggak masalah, Markonah. Lagi pula Keanu nggak pernah rewel kan? Atau ... mungkin bayi besarmu yang masih suka rewel?" Raikhan terkekeh sembari melirik Abimana.
Meski merasa sedang di sindir oleh Raikhan, ekspresi Abimana nampak biasa-biasa saja karena ia sangat faham dengan kebiasaan sahabatnya yang suka bercanda. Lain halnya dengan Kirana yang memutar bola mata jengah saat mendengar celotehan Raikhan.
"Rai, kamu juga bayi besar yang teramat rewel kan? Beruntung yang menjadi istrimu, Alya. Wanita yang teramat penyabar, bukan ...,"
Raikhan memangkas ucapan Kirana, "yupsss, seribu buat kamu, Ran. Alya memang wanita yang teramat penyabar, sedangkan kamu ... entahlah." Raikhan mengedikkan bahu.
"Hishhsss, tahu nggak sih Rai? Aku juga seorang wanita yang penyabar. Sampai-sampai, dulu aku teramat sabar menanti balasan cinta dari kambing, meski pada akhirnya mendapat cinta dari sapi. Bahkan cintanya sangat luar biasa."
Raikhan tergelak mendengar celotehan Kirana. Sepertinya Raikhan belum menyadari bahwa yang dimaksud kambing adalah dia sendiri. "Pfffttt ... hahhha, Ya Allah Ran. Masih saja mengingat kambing. Kasihan Bima dianggap sapi. Duchhhh Bim, kamu hebat. Bisa sesabar ini mempunyai istri seorang Markonah."
"Dasar Paijo. Beruntung banget yang menjadi suamiku, Abimana Surya Saputra. Bukan Raikhan Alfathan yang sok alim tapi suka asal bicara."
"Hehhh, Markonah. Dari dulu kita sama. Suka saling berkata asal."
__ADS_1
"Nggak juga. Dulu kamu nggak separah ini."
Abimana, Alya, Asti dan Arif hanya bisa mengelus dada mendengar celotehan Raikhan dan Kirana yang tidak berfaedah.
Oe ... oe ... oe ...
Terdengar suara tangisan Raina dan Rifna. Seketika Raikhan dan Kirana menghentikan perang mulut yang seolah tanpa ada kata usai.
"Tuch, gara-gara mendengar suaramu, Raina dan Rifna merasa terganggu," cebik Raikhan. Ia memulai perang mulut yang sempat usai meski hanya sebentar.
"Hehh, Rai ... mereka menangis karena terganggu oleh suara cemprengmu," balas Kirana dengan mengerucutkan bibirnya.
Alya dan Asti nampak berusaha menghentikan tangisan kedua bayi mungil. Ingin rasanya Alya dan Asti segera menyus** bayi mereka, namun merasa canggung karena sedang ada tamu. Abimana dan Arif seolah mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh kedua wanita itu.
Abimana dan Arif berusaha melerai kedua sahabat yang masih saja berperang mulut.
"Mas Rai, yuk kita makan di kantin!" ajak Arif. Ia membuat alasan agar Raikhan dan Kirana menyudahi perang mulut mereka.
"Yuk Rif! Aku lapar setelah beradu argument unfaedah dengan Markonah."
"Bund, ayo kita pamit sekarang! Kasihan Raina dan Rifna, sepertinya mereka ingin minum asi."
"Bund, kita tidak boleh menyebut seseorang dengan nama hewan, salah satu contohnya adalah kambing. Atau dengan sebutan buruk lainnya."
Bibir Kirana mencebik. "Ishhh, Hubby pasti membela Paijo kan?"
Abimana mengulas senyum mendengar celotehan istrinya. "Tentu tidak, Bunda. Dalam Al Qur'an sudah diterangkan. Hai orang-orang yang beriman,ย janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lainย (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita yang lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) itu lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri (maksudnya, janganlah kamu mencela orang lain, pen.). Dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar (yang buruk). Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk (fasik) sesudah iman. Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim. (QS. Al-Hujurat ayat 11)."
Kirana dan Raikhan melongo mendengar ucapan Abimana. "Bie, sejak kapan Hubby berubah menjadi seorang ustadz?"
Abimana terkekeh mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh istrinya. "Suami Bunda bukanlah seorang ustadz. Kebetulan, tadi seusai menjalankan sholat subuh berjamaah di masjid, pak ustadz memberi ceramah tentang sebutan buruk."
"Heem Bie. Trimakasih sudah mengingatkan."
"Kembali kasih, Bunda sayang." Abimana dan Kirana beranjak dari posisi duduk. Begitu pula dengan Raikhan dan Arif.
"Alya, Asti, kami pamit dulu ya." Kirana memeluk singkat Alya dan Asti secara bergantian.
"Iya Mbak Kiran," balas Alya dan Asti bersamaan.
__ADS_1
"Rai, Rif, kami pamit dulu." Abimana menjabat tangan Raikhan dan Arif secara bergantian.
Setelah mengucap salam, Abimana dan Kirana melangkahkan kaki ke luar ruangan.
.
.
Di dalam mobil, Kirana nampak gelisah. Entah apa yang sedang dipikirkan olehnya. Keanu tertidur pulas di pangkuan Kirana.
Abimana menatap wajah Kirana sekilas. Tangannya fokus menyetir. "Ada apa Bunda? Mengapa Bunda nampak gelisah?"
Kirana membuang nafas kasar. "Entahlah, Bie. Saat ini yang ada di pikiranku ... Bang Ilham. Sudah lama kita tidak bertemu dengan Bang Ilham. Semenjak Bang Ilham memutuskan untuk pindah rumah ke Solo bersama istri dan anaknya."
"Kapan-kapan kita berkunjung ke rumah Bang Ilham, Bund."
"Heem, iya Bie."
Drtt ... drtt ...
Terdengar suara getaran benda pipih yang ada di dalam tas Kirana. Dengan segera, Kirana membuka tas dan mengambil benda pipih miliknya. Ternyata ada panggilan telepon dari Suci.
"Assalamu'alaikum, Mbak Suci."
"Wa'alaikumsalam. Ma-Mas Ilham...,"
"Apa yang terjadi pada Bang Ilham?" Raut wajah Kirana nampak cemas.
"Mas Ilham, mengalami kecelakaan."
.....
๐น๐น๐น๐น
Maaf jika beberapa hari ini author ICPA tidak bisa UP setiap hari, dikarenakan kesibukan RL yang lumayan menyita waktu. Insya Allah, sebelum Ramadhan, ICPA akan segera end. ๐๐๐
Trimakasih kepada readers dan sobat author yang selalu mengikuti kisah ICPA. Jangan lupa untuk meninggalkan jejak like dan jika berkenan berbagi vote sebagai bentuk dukungan semangat kepada author. ๐๐๐
Selamat membaca๐๐๐
__ADS_1