Istri Comel Pilihan Abi

Istri Comel Pilihan Abi
Mengapa Sesakit Ini???


__ADS_3

Seorang pria paruh baya datang menghampiri Kirana, dan menyampaikan pesan dari Abimana untuknya.


"Maaf, Mbak Kirana ya?" tanya pria tersebut.


"Iya, Bapak siapa ya?" balas Kirana yang juga melontarkan pertanyaan.


"Saya Aris, cleaning servis di vila ini Mbak. Tadi suami Mbak Kirana berpesan, agar Mbak pulang ke rumah dengan mobil yang disewa oleh Mas Bima. Pak sopir sudah menunggu di depan ya Mbak," ucap Aris.


DEG


Perasaan Kirana tiba-tiba tidak enak. Ada sayatan yang seakan menggores ulu hatinya. Ia bertanya di dalam hati, mengapa Abimana tidak mengangkat telepon, bahkan pesan yang dikirimnya pun tidak dibalas oleh suami tercinta. Kirana menelan salivanya, kelu.


Air matanya mulai lolos, wajah cantik Kirana dibasahi buliran bening. Setega itukah Abimana meninggalkan dirinya di tempat yang lumayan jauh dari kota Jogja? Ya, beberapa pertanyaan berkecamuk di dalam hati Kirana. Bahkan ia sendiri tidak tahu, apa yang menyebabkan suaminya bersikap seperti itu. Baru saja Kirana merasakan manisnya cinta, namun setelah itu ia merasa dihempas.


"Mbak...." Suara Aris memudarkan lamunan Kirana.


"Ya Pak," balas Kirana singkat.


"Kenapa Mbak Kirana menangis?" tanya Aris dengan menatap wajah Kirana yang sembab karena dibasahi oleh buliran bening.


"Achhh, saya ini memang cengeng Pak. Masa hanya mendengar pesan yang disampaikan oleh Bapak, tiba-tiba saya ingin menangis," elak Kirana. Ia berusaha menguatkan hati dan menyeka jejak air mata dengan jemari tangan.


"Owh, wajar kalau Mbak menangis karena ditinggal sendiri. Wajah Mas Bima tadi juga menampakan kemurkaan, Mbak. Mungkin ada perilaku Mbak Kirana yang membuat suami marah?" tanya Aris seolah ingin tau. Pria paruh baya itu masih menatap wajah cantik Kirana.


"Entahlah Pak. Saya akan bersiap dulu. Trimakasih atas pesan yang sudah Bapak sampaikan," balas Kirana dengan mengalihkan wajahnya.


"Iya, sama-sama Mbak," balas Aris disertai senyuman yang menurutnya sangat manis.


Kirana masuk ke dalam vila dengan langkah gontai. "Bie, maaf. Mungkin karena aku terlalu bahagia bertemu dengan Fabian, istrimu ini malah sejenak melupakanmu. Apa mungkin itu yang menyebabkan kamu marah Bie?" Kirana bermonolog, sambil mengemasi barang-barangnya.


Ia semakin merasa sedih, karena tidak mendapati tas milik suaminya.

__ADS_1


Kirana menatap hampa ke sekeliling ruangan. Terbayang olehnya, kenangan manis di kamar ini yang ia ciptakan bersama suami tercinta.


"Abi, adakah maafmu untukku?" Kiran terisak, ia memanggul tasnya di punggung dan berjalan keluar dari vila dengan langkah gontai.


🌹🌹🌹


Fabian melihat sahabatnya berjalan sendiri dengan langkah gontai, wajahnya dipenuhi dengan buliran bening.


Pria itu berjalan mendekat ke arah Kirana.


"Kiran, apa yang terjadi?" Fabian menatap wajah sahabatnya lekat-lekat.


"Akhhh tidak terjadi apa-apa, Bian," jawab Kirana dengan memalingkan wajahnya.


"Kamu bohong, Ran. Wajahmu saja sembab. Mana suamimu? Mengapa dia tidak berada bersamamu?" Fabian bertanya pada sahabatnya, dengan menunjukan raut wajah kesal. Pria itu kesal, karena Kirana diperlakukan seperti itu oleh suaminya.


"Suamiku pulang terlebih dahulu karena mungkin ada kepentingan yang sangat mendesak. Bian, aku pergi dulu ya," jawab Kirana, ia berusaha memperlihatkan senyuman yang dipaksakan.


"Aku antar, Kiran?"


"Ran, boleh aku meminta nomer ponselmu yang baru?" tanya Fabian penuh harap.


Kirana mengangguk dan memberikan nomer ponselnya kepada Fabian.


"Trimakasih Kiran," ucap Fabian setelah menyimpan nomer ponsel sahabatnya.


"Sama-sama. Bye Bian, asalamu'alaikum," ucap Kirana sebelum ia melangkah pergi.


"Bye Kiran. Wa'alaikumsalam. Ran, setelah sampai di rumah, jangan lupa untuk menghubungiku!" balasan salam dari Fabian disertai permintaan.


"Insya Allah, Bian."

__ADS_1


Kirana berjalan meninggalkan vila yang dipenuhi oleh kenangan manis, dengan langkah kaki yang serasa berat serta linangan air mata.


Setegar apapun seorang wanita, namun tetap saja hatinya terkadang lemah, karena hati wanita itu sangat lembut, maka jangan sering membuat perasaan wanita tersakiti.


Fabian menatap nanar punggung sahabatnya, yang perlahan menghilang dari pandangan.


"Kiran, jika suamimu tidak mampu memberikan kebahagiaan, pria ini tidak akan segan-segan merebutmu darinya. Bukan hanya limpahan kasih sayang yang akan aku berikan, bahkan vila ini dan seluruh hartaku akan kupersembahkan untuk kebahagiaanmu, Ayunda Kirana," Fabian bermonolog.


🌹🌹🌹


Di perjalanan, Kirana masih berusaha mengirim pesan dan melakukan panggilan ke nomor Abimana, namun lagi-lagi tidak mendapatkan balasan.


Kirana menggigit bibir bawahnya dan mengedarkan pandangan ke luar jendela.


Bayangan wajah suami tampannya menari-nari di dalam pikiran. Tanpa terasa, linangan air mata kembali menetes, membasahi wajah cantiknya.


"Mengapa sesakit ini Bie," bisik Kirana di dalam hati. Ia memegang dadanya yang semakin serasa sesak.


🌹🌹🌹🌹


Readersss


Jangan lupa like-nya 👍


Komentar boleh kritik atau saran


Klik emote ❤ untuk favoritkan novel


Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐


Beri vote jika ingin mendukung karya author

__ADS_1


Trimakasih dan happy reading 😘😘



__ADS_2