Istri Comel Pilihan Abi

Istri Comel Pilihan Abi
Kekaguman


__ADS_3

Kirana masih berdiri dengan raut wajah kesal, karena ucapan Harni. Sedangkan Harni, wanita paruh baya itu tidak terima dengan kata-kata yang keluar dari bibir si wanita cantik yang sudah membantunya.


Bila bukan karena Kirana, mungkin saja Harni sudah kehilangan tas jadulnya.


"Mbak, bukannya saya tidak memiliki empati, tapi apa yang dilakukan pria ini sangat salah. Bisa-bisanya dia mencopet tas saya, hanya dengan alasan ingin membelikan susu si kecil. Saya tidak terima. Biar polisi yang akan menangani pencopet ini," ucap Harni dengan intonasi suara yang meninggi.


"Bu, saya bisa saja langsung menyerahkan Pak Anto kepada polisi. Namun sebagai seorang ibu, apakah anda tidak memiliki hati nurani? Ada baiknya kita mendatangi rumah Pak Anto untuk memastikan kebenaran ucapan beliau," ucap Kirana, mencoba untuk bersabar.


"Huffft, silahkan Mbak saja yang datang ke rumahnya! Saya tidak ada waktu untuk berkunjung ke rumah seorang pencopet," balas Harni dengan memutar bola mata malas. Wanita paruh baya itu membalikan badannya dan berjalan tanpa mengucap kata terimakasih kepada Kirana.


BRUKK


Harni menabrak patung Bedjokarto, karena berjalan tanpa fokus melihat ke depan.


Semua orang seolah tidak ada yang merasa kasihan ketika melihatnya, bahkan sebagian dari mereka menertawakan Harni.


Kirana menahan tawa, wanita cantik itu merasa geli, sekaligus kasihan.


Abimana mengusap jilbab sang istri dengan pelan, dan menatap lekat-lekat wajah cantik wanita yang berdiri tepat di hadapannya.


"Sayang, kamu hebat. Kekagumanku bertambah Yank," ucap Abimana dengan mengulas senyum.


"Achhh jangan memujiku, Bi! Yuk kita ke rumah Pak Anto!" balas Kirana disertai senyuman manis.


"Baiklah Sayang. Sebentar, aku telepon Bang Ilham dulu." Abimana segera melakukan panggilan ke nomor handphone Ilham.


Abimana mulai berbicara dengan Ilham, setelah panggilannya terjawab.


"Bang Ilham dan istrinya akan segera menuju ke tempat ini Yank," ucap Abimana usai menutup panggilan telepon.


"Okay Bi," balas Kirana.


"Pak, maaf menunggu abang saya sebentar ya! Oiya, perkenalkan nama saya Kirana, dan suami saya ini bernama Abimana. Bapak bisa memanggilnya Bima." Kirana memperkenalkan dirinya dan Abimana pada Anto.


"Iya Mbak. Maaf, karena kesalahan saya, Mbak Kirana dan Mas Bima malah menjadi repot," ucap Anto dengan berusaha untuk mengulas senyum, meski terselip rasa bersalah dan penyesalan atas apa yang sudah ia lakukan.


"Ahhh, saya merasa tidak direpotkan. Semua sudah diatur oleh Allah, sebagai jalan agar kita bisa bertemu Pak." Kirana berusaha menghibur Anto.


"Asalamu'alaikum," ucap Ilham dan Suci. Rupanya sepasang suami istri itu sudah berdiri di hadapan mereka bertiga.


"Wa'alaikumsalam," balas Kirana, Abimana, dan Anto, serempak.

__ADS_1


"Bang, Mbak, perkenalkan beliau Pak Anto!" Kirana memperkenalkan Anto.


Anto dan Ilham saling berjabat tangan, sedangkan Suci menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.


"Bang Ilham, kita mampir ke rumah Pak Anto dulu ya, sebelum kembali ke hotel!" ajak Kirana.


Ilham pun tersenyum membalas ajakan adiknya, "Baiklah Dek."


Mereka berlima melangkahkan kaki, meninggalkan titik nol kilometer, menuju parkiran mobil.


🌹🌹🌹


Kini mereka berlima sudah berada di rumah Anto, yang terletak di perkampungan padat penduduk, Sayidan.


Anto memperkenalkan para tamu kepada istrinya yang bernama Asih, sembari mempersilahkan mereka untuk duduk di atas tikar.


Asih menggendong buah hatinya yang sedang menangis. Kirana berusaha menenangkan balita itu dengan mencandainya.


"Hai Sayang, siapa namamu?" tanya Kirana sembari mengusap rambut hitam buah hati Anto dan Asih.


"Haikal, Tante," balas Asih mewakili putranya.


Namun Haikal masih saja menangis.


"Susu, susu .... Ikal mau susu," pinta Haikal dengan terisak.


Kirana mengelus punggung Haikal, dengan penuh kelembutan.


"Ikal ingin susu apa Sayang?" tanya Kirana sembari mengusap wajah Haikal yang basah.


"Susu bendela, Tante. Hiks ... hiks," Haikal masih saja terisak.


"Yasudah, nanti Tante kasih uang. Haikal beli susu sama ayah dan ibu ya! Sekalian jalan-jalan ke Malioboro."


Mata Haikal berbinar, balita mungil itu tak lagi menangis.


"Benelan Tante?"


"Iya, Sayang," balas Kirana disertai kerlingan mata, perlahan ia pun melepaskan dekapannya.


"Yeyyyyy, makasih Tante," teriak Haikal kegirangan.

__ADS_1


"Sama-sama Sayang." Kirana mencium pipi gembul Haikal.


"Maaf, kami tidak bisa menyajikan apa-apa," ucap Asih dengan sendu.


"Tidak apa-apa Bu, yang terpenting bagi kami bisa bersilaturahim ke rumah Bapak dan Ibu," balas Kirana disertai seulas senyum.


Kirana mengambil beberapa lembar uang yang berwarna merah dari dalam dompet, kemudian diserahkannya pada Asih.


"Bu, jangan dilihat dari jumlahnya! Meski tidak seberapa, namun semoga bermanfaat."


Asih menerima uang dari Kirana dengan tangan gemetar, kedua netranya berkaca-kaca.


"Ya Allah, bagi kami ini sangat banyak Mbak. Trimakasih, semoga Mbak Kirana beserta keluarga selalu diberi limpahan rejeki oleh Allah," doa Asih dengan tulus.


"Aamiin, trimakasih juga atas doa tulusnya Bu." Kirana mengulas senyum.


Semua yang ada di dalam ruangn itu, larut dalam keharuan.


Melihat istrinya yang teramat dermawan, dan bersifat welas asih, semakin menambah kekaguman serta rasa cinta Abimana terhadap Kirana.


Sebelum adzan ashar berkumandang, Abimana, Kirana, Ilham dan Suci, berpamitan pada Anto beserta keluarga kecilnya.


Hari ini, ada kisah manis yang tertoreh di perkampungan padat penduduk, Sayidan.


🌹🌹🌹🌹


Readersssss


Tetap setia mengikuti kisah Abi dan Kiran ya!!! 😘😘😘


Jangan lupa untuk selalu tinggalkan like 👍


Komentar


Klik emote ❤ untuk favorit


Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐


Vote untuk mendukung author


Trimakasih dan happy reading 😘😘

__ADS_1



__ADS_2