
Malam itu, Raikhan menepati ucapannya untuk menjaga Hasan. Arini, Abimana dan Kirana, meninggalkan rumah sakit dan pulang ke rumah. Sepasang pengantin baru menginap di rumah Hasan, untuk menemani Arini.
Di dalam kamar, Abimana dan Kirana sedang bercengkrama dengan memandangi rembulan dan taburan bintang, melalui jendela kamar. Mereka berdua duduk berdekatan di tepi ranjang.
"Bie, maaf. Kedua orang tuaku belum sempat menengok ayah, karena mereka sedang berada di Jakarta, sedangkan Bang Ilham dan Mbak Suci, mereka berdua belum pulang dari berbulan madu," ucap Kirana, sembari menyandarkan kepala di bahu suaminya.
"Iya, aku mengerti kok Yank. Yang terpenting bagi ayah adalah doa, agar beliau lekas diberi kesembuhan dan kesehatan," balas Abimana. Pria tampan itu membelai rambut istri comelnya yang tergerai.
"Bie, besok kita akan berpisah meski hanya dua hari. Dokter Zahra memintaku untuk mengunjungi perkampungan yang berada di bantaran sungai, besok pagi."
"Hemmmm, rasanya teramat berat melepas kepergian Sayang. Seolah sedetik pun, aku tidak bisa jauh darimu, Yank."
"Aku pun demikian, Bie. Namun ini semua aku lakukan demi tugas kemanusiaan. Hanya dua hari kita berpisah, in shaa Allah tidak selamanya." Kirana mengangkat kepalanya dan menatap kedua manik hitam Abimana.
"Sayang, jangan berucap seperti itu! Aku akan menanti kepulanganmu kembali di sisiku." Abimana membalas tatapan istrinya. Tatapan mata mereka saling mengunci. Abimana mengecup singkat bibir istrinya yang ranum.
"Sudah malam Bie, tutup gorden jendelanya dulu!" perintah Kirana disertai senyuman penuh arti.
"Baiklah Sayangku." Abimana tersenyum dan mengerlingkan mata nakal.
Abimana beranjak dari duduk, kemudian menarik gorden hingga menutupi seluruh kaca jendela.
Kirana masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya dengan lingerie berwarna putih, kado pernikahan dari Shela. Wanita cantik itu baru pertama kali mengenakan lingerie, sehingga ia merasa kurang nyaman dan sebenarnya teramat malu.
Kirana keluar dari kamar mandi dengan menundukan wajahnya yang sudah dipenuhi rona merah.
Kedua netra Abimana tidak berkedip ketika melihat penampilan sang istri yang terkesan berbeda dari biasanya. Pria tampan bermata teduh, menelan salivanya menahan hasrat yang kian membuncah.
Abimana berjalan mendekat ke arah istrinya.
"Malam ini Sayang terlihat sangat cantik," puji Abimana, sembari mengangkat dagu istrinya dan memberikan kecupan singkat di bibir.
Wajah Kirana semakin merona, mendapati perlakuan Abimana yang sweet.
"Hemzzz, sudah siap menerima hukuman dariku, istri comel?" tanya Abimana seraya menggoda istrinya.
"Kalau belum, kenapa juga aku berganti pakaian yang kurang bahan, Bie?" Kirana mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Baiklah, bantu aku memenuhi keinginan ayah dan ibu!" Abimana mengulas senyuman yang menawan.
Kirana mengerutkan keningnya, berusaha menelaah ucapan Abimana.
"Apa maksudmu Bie?"
"Berikhtiyar memberikan cucu untuk mereka," jawab Abimana sembari membelai pipi istrinya yang halus.
"Iya, Hubby," jawab Kirana dengan suara yang terdengar lirih, karena menahan gejolak rasa. Kirana seolah terhipnotis dengan setiap perlakuan suaminya.
Abimana meraih tubuh Kirana dan mendekapnya dalam pelukan.
"I will always love you, Kiran," bisik Abimana.
"I wiil always love you to Abi," balas Kirana dengan suaranya yang lembut. Semenjak menikah, pribadi Kirana yang bar-bar sedikit berubah, karena ia berusaha menjadi seorang wanita yang anggun seperti Alya. Kirana berharap bisa menjadi kekasih yang terbaik untuk Abimana.
Perlahan Abimana melepaskan dekapannya, ia pun mengangkat tubuh sang istri dan membaringkannya di atas ranjang.
Keduanya saling melempar senyum, Abimana mengecup puncak kepala istrinya dan melantunkan doa sebelum bersenggama.
🌹🌹🌹
Suara kerinduan Sang Pemilik Alam terdengar sangat merdu, hingga membangunkan Kirana. Wanita cantik itu mulai membuka kedua netra. Seulas senyum manis menghiasi bibirnya tatkala melihat wajah tampan Abimana.
Jari manis wanita itu menelusuri seluruh bagian wajah suaminya yang terlihat sangat sempurna. Alis tebal, hidung mancung, bibir merah alami yang selalu menghipnotisnya.
"Ehemmm, sudah puas belum mengagumi ketampananku, Yank?" tanya Abimana sembari mulai membuka kedua netranya.
Kirana terkejut, karena ternyata Abimana sudah bangun.
"Bie, sejak kapan kamu bangun?"
"Sejak ada sentuhan lembut yang menelusuri seluruh wajah tampanku," jawab Abimana disertai seulas senyum.
"Hemmmzzz, segeralah mandi Bie! Sudah adzan subuh."
"Baiklah Ratuku. Hamba akan segera mandi." Abimana beranjak duduk, dan memakai kembali pakaiannya.
__ADS_1
"Bie, nanti mengantarku dulu atau ibu?"
"Sayang berangkat jam berapa?"
"Jam delapan pagi, Bie. Langsung ke lokasi ya!"
"Siap, lagi pula tempatnya tidak terlalu jauhkan?"
"Huum, hanya dua jam dari sini."
"Okay Sayang, nanti aku akan mengantarmu dulu."
"Trimakasih, Bie."
"Kembali kasih, Sayang. Trimakasih karena telah memberikan kebahagiaan semalam. Malam yang teramat indah bagiku, Yank." Abimana mengecup kening istrinya dengan penuh rasa cinta.
"Huum, Bie."
🌹🌹🌹🌹
Readersss
Akankah kebahagiaan mereka akan diselingi dengan ujian????
Jangan lupa tinggalkan jejak like 👍
Komentar
Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Berikan Vote jika berkenan mendukung karya author
Klik emote ❤ untuk favoritkan novel
Trimakasih dan happy reading 😘😘😘
__ADS_1