Istri Comel Pilihan Abi

Istri Comel Pilihan Abi
Bertemu


__ADS_3

Belum genap satu hari jauh dari suaminya, Kirana teramat merasa sedih dan kesepian. Mungkin karena sedang mengandung, perasaan Kirana menjadi sangat sensitif.


Saat ini Kirana sedang berbaring di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamar. Kirana terngiang ucapan Sindy.


"Dasar wanita bodoh. Memangnya hatimu benar-benar ikhlas jika Bima menikah lagi, hemm? Sempit sekali cara berpikirmu Ran."


Kirana membuang nafas kasar. "Huffftt, benar apa yang diucapkan oleh Sindy. Aku memang seorang wanita yang bodoh. Berpisah sebentar saja serasa dunia akan kiamat, apalagi jika benar-benar berpisah selamanya? Aku nggak sanggup Bie, jika ada wanita lain di hatimu... Hiks ... hiks, sekarang apa yang harus aku lakukan?" Kirana bermonolog disertai isak tangis. Rupanya Sindy berdiri di balik pintu kamar dan mendengar semua ucapan Kirana. Sindy memutuskan untuk segera menghubungi Fabian.


Di dalam kamar, Kirana masih saja terisak. Ditatapnya wajah tampan sang suami meski hanya berupa foto.


"Bie, sedang apa kamu saat ini? Aku tidak bisa tidur tanpa memelukmu, hiks ... hiks."


Kirana yang biasanya mampu berpikir dengan realistis, namun selama mengandung seakan pribadinya sedikit berubah, apalagi setelah peristiwa yang tidak mengenakan itu terjadi, penyekapan dan pelecehan yang dilakukan oleh Vano. Suasana hati Kirana tidak dapat ditebak. Kadang ia bisa tertawa lepas karena candaan Sindy, namun secara tiba-tiba wajah cantiknya berubah murung kemudian ia pun menangis.


.


.


Sindy merebahkan tubuhnya di atas ranjang sembari melakukan vidio call dengan Fabian.


📞 "Asalamu'alaikum. Met malam Bian."


📞 "Wa'alaikumsalam, met malam juga Sind. Ada apa? Tumben vidio call malam-malam?"


📞 "Bian, kamu punya nomor ponsel Bima? Suaminya Kirana."


📞 "Punya. Memangnya ada perlu apa kamu menanyakan nomor ponsel suaminya Kiran?"


📞 "Bian, kamu sudah tau belum, Kirana pergi dari rumah?"


📞 "Iya tau. Bima sudah mengerahkan orang-orang kepercayaannya untuk mencari Kiran. Aku dan para sahabatnya juga turut membantu mencari keberadaan Kiran, namun sampai malam ini hasilnya zonk."


📞 "Bian, saat ini Kiran berada di desa W."


📞 "Hahh, benarkah?"


📞 "Iya, tolong sampaikan kepada Bima, agar segera datang ke desa ini! Aku tidak tega melihat Kiran, dari tadi sampai sekarang masih menangis."


📞 "Baiklah, aku akan sampaikan kepada Bima, agar segera menyusul istrinya ke desa W. Aku juga akan ikut serta, Sind."


📞 "Trimakasih Bian. Asalamu'alaikum."


📞 "Sama-sama Sind. Wa'alaikumsalam."

__ADS_1


Setelah mengakhiri vidio callnya, Sindy beranjak dari ranjang.


Sindy berjalan ke luar kamar dan melangkahkan kaki menuju kamar sahabatnya. Ternyata masih terdengar isak tangis...


Sindy pun masuk ke dalam kamar Kirana untuk menenangkan perasaan bumil yang saat ini sedang didera kesedihan.


"Kiran, kamu masih menangis?" Sindy duduk di tepi ranjang kemudian mengusap-usap punggung Kirana yang tengah berbaring di atas ranjang dengan posisi membelakanginya.


"Iya. Sind...."


"Ya, ada apa Say?"


"Aku kangen Abi, hiks ... hiks."


"Kamu telepon dia ya!" Suara Sindy terdengar lembut.


"Tidak mau. Aku malu."


"Dasar bumil, sudah pergi tanpa pamit, kangen sama suami kog nggak mau menghubungi via telepon, gengsinya ruarrr biasahhh, hadechhh...," ucap Sindy di dalam hati karena merasa kesal sekaligus kasihan terhadap sahabat yang sangat disayanginya.


"Atau ... aku saja yang menelepon suamimu, Ran?"


"Tidak usah! Jangan menelepon Abi, Sind! Meski teramat rindu, aku merasa gensi jika harus menghubunginya, aku malu. Setelah mengetahui keberadaanku, pasti Abi akan menyusulku kemudian dia akan sangat marah kepada istrinya ini, karena sebelum pergi ke desa W, aku meminta Abi untuk membeli berbagai makanan dengan alasan dedek bayi yang ingin."


"Pffftttt ... hahahhaha, hadechhhh Kiran. Itu namanya kamu ngerjain suamimu. Yasudah, kamu harus tenang ya! Kasihan dedek bayi yang ada di dalam kandunganmu. Peluk bantal guling ini dengan erat! Anggap bahwa yang kamu peluk itu suamimu!"


"Iya Sind, aku akan memeluknya dan membayangkan yang kepeluk adalah suamiku."


Sindy mengulas senyum. "Selamat tidur panda yang menggemaskan! Karena tadi belum jadi bertemu bapak kepala desa, Insya Allah besok siang aku akan mengantarmu bertemu beliau dan para warga untuk menyapa sekaligus memperkenalkan diri."


"Heem Sind. Trimakasih Sob...."


"Sama-sama panda yang malang." Sindy tersenyum sembari beranjak dari duduk dan pergi meninggalkan Kirana.


Kirana mengusap jejak air matanya dengan jemari tangan. "Akhhhh, aku tidak boleh bersedih terus-menerus, kasihan si malaikat kecil." Kirana mengusap perutnya dengan lembut.


Wanita cantik itu pun tertidur dengan memeluk bantal guling. Kirana membayangkan yang dipeluknya bukanlah bantal guling melainkan Abimana, suami yang teramat ia rindukan.


🌹🌹🌹


Jam dinding menunjukan pukul tiga pagi. Kirana masih terbuai dalam tidurnya, bahkan ia semakin erat memeluk bantal guling. Kirana menghirup aroma tubuh yang sangat familiar dan menenangkan, hingga ia pun tidak ingin membuka kedua netranya.


Bantal guling yang dipeluk pun tersenyum. Diselipkannya rambut Kirana yang menutupi wajah.

__ADS_1


"Sayang, yang kamu peluk ini, aku. Suami tampanmu."


Perlahan Kirana membuka kedua netranya setelah mendengar suara yang sangat familiar. Kirana terkesiap mendapati bantal guling yang ia peluk berubah menjadi suaminya tercinta.


Kirana tidak percaya dengan apa yang tengah dilihatnya saat ini. Ia pun mengerjap-ngerjapkan mata.


"Bie...."


"Hehemmm, ini aku Sayang. Aku berhasil menangkapmu kembali." Bibir Abimana terhias senyuman khasnya yang menawan.


"Hahhh, aku pasti bermimpi." Melepaskan pelukan lalu mengucek mata.


Abimana terkekeh melihat tingkah istrinya yang lucu.


CUP


Kecupan singkat mendarat di bibir Kirana. Kedua netra Kirana membelalak.


"Bie, benarkah ini kamu?"


Abimana menganggukan kepala, diusapnya pipi Kirana dengan lembut. Kedua netra Kirana nampak berkaca-kaca karena rasa rindunya yang terobati.


"Bie, maafkan aku...."


"Heem Yang. Katamu kening dan bibirmu ternoda oleh bibir kotor Vano. Aku akan menghapus noda itu Yang."


Abimana mencium kening istrinya dengan intens. Kemudian ciuma* itu beralih pada bibir ranum Kirana. Abimana menautkan bibirnya dengan bibir Kirana hingga nafas mereka terdengar memburu.


Perlahan Abimana melepaskan tautan bibirnya.


"Nodanya sudah hilang Sayang. Apa perlu aku mengulanginya lagi?" Abimana mengusap bibir ranum sang istri yang terlihat memerah.


Kirana tersenyum dan menganggukan kepalanya.


"Baiklah, aku akan melakukannya lagi Yang." Bibir keduanya pun saling bertautan kembali. Kirana merasakan getar-getar cinta. Hatinya menghangat tatkala merasakan ketulusan cinta Abimana.


Bukan hanya menautkan bibir, kini mereka pun saling berpeluk dengan erat.


Perpisahan yang hanya sementara menumbuhkan kerinduan hingga menjadikan cinta kedua insan semakin mendalam. 💕


🌹🌹🌹🌹


Ehemmmm, readersss... kini Abimana dan Kirana sudah bersatu ya.... Jika kemarin ada yang menyayangkan sikap Kirana, fahamilah seorang bumil yang terkadang perasaannya menjadi sensitif hingga tidak bisa berpikir secara realistis. Mungkin yang pernah hamil sudah merasakannya... 😅😅😅🙏🙏🙏

__ADS_1


Trimakasih karena masih setia membaca karya author 🙏🙏❤❤❤❤



__ADS_2