
Rembulan menyapa bumi dengan sinarnya, desahan bayu mengiringi kalam cinta yang dilantunkan oleh Halimah. Di samping Halimah, duduk seorang wanita dengan perut yang semakin membesar. Wanita itu adalah Diana.
Setiap malam, Halimah selalu mengajak Diana untuk bersimpuh, memohon ampunan kepada Robb seluruh alam.
Semenjak berteman dengan Halimah, Diana berusaha untuk merubah kepribadiannya, menjadi seorang wanita yang berakhlak baik.
"Maha benar Allah atas segala firman-Nya." Halimah menutup mushaf kemudian menciumnya.
"Di, bagaimana perasaanmu saat ini?" Halimah menatap wajah Diana dengan intens.
"Alhamdulillah, perasaanku menjadi lebih baik setiap mendengar kalam cinta yang kamu lantunkan, Mah. Suaramu yang merdu mampu menggetarkan hati dan memberikan ketenangan. Trimakasih, trimakasih yang teramat sangat, karenamu aku mampu menanggalkan kedukaan." Diana mengulas senyum, nampak binar kebahagiaan di kedua manik matanya. Kebahagiaan yang Diana dapatkan adalah kebahagiaan batin karena merasa lebih mengenal dan dekat dengan Tuhannya.
"Sama-sama Di. Aku juga teramat berterimakasih, karena selama kita berada dalam satu sel, kamu bersedia menjadi sahabatku. Aku teramat bersyukur, kamu bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik Di." Halimah dan Diana saling berpeluk.
"Mah, kelak jika anak ini telah lahir, aku ingin meminta tolong kepadamu untuk memberitahukannya pada papa dan Kak Vano. Namun jika papa dan Kak Vano acuh, aku mohon, hubungilah Kiran atau Pak Bima!" Perlahan Diana melerai pelukan.
"Apa maksudmu Di?"
"Mah, umur seseorang siapa yang tau. Jika aku tiada, siapa yang akan merawat anak ini? Alden? Itu tidak mungkin. Sampai saat ini Alden tidak pernah memberi kabar atau pun menemuiku."
Mendengar ucapan Diana, tetiba kedua netra Halimah serasa panas. Halimah berusaha untuk menahan air mata yang akan tertumpah.
"Di, apa yang sedang kamu bicarakan, hah? Kita yang akan merawat anakmu berdua."
"Tidak Mah. Anak ini tidak butuh seorang ibu sepertiku." Lolos sudah buliran bening dari kedua sudut netra Diana.
"Di, jangan pernah berucap seperti itu lagi! Kamu sosok ibu yang hebat. Dengar Di, malaikat kecilmu kelak akan kita rawat dan besarkan berdua! Insya Allah, empat tahun kemudian, kita akan menghirup udara bebas dan melambaikan tangan pada semua penghuni lapas." Halimah menggenggam tangan Diana dengan erat.
"Kamu bisa bebas empat tahun lagi Mah, sedangkan aku ...? Mungkin akan lebih. Kejahatan yang telah aku perbuat bukan hanya satu atau dua, tapi ...." Diana tak kuasa melanjutkan ucapannya. Setiap mengingat kembali perbuatannya, dada Diana serasa sesak. Bulir-bulir air bening semakin tak terbendung.
Seperti biasa, Halimah mengusap punggung Diana dengan gerakan naik turun seraya memberi ketenangan.
"Di, sekarang istirahatlah! Kasihan anak yang ada di dalam kandungannmu, jika ibunya tidak mampu mengontrol emosi. Di, berjuanglah demi anakmu! Aku akan selalu bersamamu. Meski kelak aku yang terlebih dahulu bebas dari penjara, aku akan menunggu hingga masa hukumanmu telah selesai, Di."
" Iya Mah. Terimakasih. Kamu memang sahabat rasa saudara. Aku bersyukur bisa bertemu dan dekat denganmu. Kelak, jika kamu sudah bebas, menikahlah dengan Kak Vano, Mah! Aku yakin Kak Vano pasti akan beruntung jika memiliki istri seorang wanita salikhah sepertimu." Diana mengusap wajahnya yang basah dengan jemari tangan.
"Di.... Tapi aku sudah ternoda." Halimah menundukan wajah, kristal bening yang sedari tadi mencoba ia tahan, pada akhirnya menetes juga.
"Mah, kamu belum ternoda. Kesucianmu masih terjaga. Kamu masih perawan Mah." Diana meraih tangan Halimah dan menggenggamnya dengan erat.
"Tapi, seluruh wajah, leher dan bagian dadaku sudah ternoda, Di." Perlahan Halimah menengadahkan wajahnya kembali dan mengusap jejak air mata dengan jemari tangan.
__ADS_1
"Mah, kelak noda itu akan dihapus oleh Kak Vano." Diana tersenyum.
"Apa maksudmu, Di?"
"Jika kalian sudah halal, maka Kak Vano akan menghapus noda yang ada pada bagian tubuhmu dengan sapuan bibirnya."
Halimah mencubit pipi Diana tatkala mengerti maksud dari perkataan wanita yang tengah duduk di hadapannya itu.
"Awww.... sakit Mah," rintih Diana sambil mengusap pipinya.
"Hhhhehe, rasain Di! Dasar pikiranmu masih saja mesu*. Sepertinya kamu belum berubah ya Di, kalau mengenai nananina."
Kedua wanita yang kini menjalin persahabatan pun tertawa. Seakan kesedihan dan kedukaan yang tengah dirasa, menghilang meski hanya sementara.
🌹🌹🌹
Kini usia kandungan Kirana sudah memasuki bulan ke sembilan. Itu artinya, kurang lebih sepuluh hari lagi, Insya Allah Kirana akan melahirkan seorang baby.
.
.
Kirana dan Abimana tengah melakukan perjalanan menuju desa W, karena sore ini kafe yang mereka dirikan bersama dengan Raikhan dan Alya, akan diresmikan. Kafe itu mereka beri nama, Kafe Cinta.
"Khawatir? Memangnya apa yang Hubby khawatirkan?" Kirana sedikit mengerutkan keningnya.
"Aku khawatir jika Sayang kelelahan. Apalagi sepuluh hari lagi, Sayang akan melahirkan."
Kirana mengulas senyum, "Hahhhh Hubby, aku nggak akan kelelahan Bie. Aku malah menikmati perjalanan menuju desa W. Pemandangan yang tersuguh sangat memanjakan mata. Bukit-bukit yang menghijau, sawah yang terhampar luas, ditambah garis pantai yang terlihat dengan jelas jika kita sudah mendekati desa W."
Abimana masih tetap fokus menyetir, karena jalan menuju desa W berliku dan naik-turun. Abimana tidak ingin terjadi sesuatu yang membahayakan mereka berdua dan dedek bayi yang berada di dalam kandungan istrinya. Bagaimana pun juga, Abimana masih sedikit trauma karena pernah mengalami kecelakaan yang tragis, hingga membuatnya sempat dinyatakan meninggal.
.
.
Setelah sampai di desa W, Abimana dan Kirana langsung disambut oleh Sindy, Fabian, kepala desa dan para warga. Bukan hanya Abimana dan Kirana yang mendapat sambutan, akan tetapi Raikhan dan Alya juga. Mereka berdua sampai ke desa W hampir bersamaan dengan Abimana beserta istri comelnya.
.
.
__ADS_1
"Sind, apa kabarmu Sob?" Kirana memeluk sahabatnya sebagai ungkapan rasa rindu. Sindy pun membalas pelukan Kirana.
"Alhamdulillah baik, Ran."
Perlahan Kirana dan Sindy melerai pelukan.
"Ehemmm, kenapa yang dipeluk hanya Sindy, Ran? Aku juga mau dipeluk lho... Hhhahaa," canda Fabian disertai tawa.
"Hehhh, berani minta dipeluk istriku, aku akan memberikan bogem mentah untukmu, Bian." Abimana meninju pipi Fabian dengan pelan.
"Wahhhhh, ampun bang jago! Nggak berani aku jika harus mendapatkan bogeman mentah dari calon ayah muda." Fabian mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah. Semuanya pun tertawa melihat kekonyolan Fabian.
"Bian, kamu sudah nembak Sindy belum?" Kirana mengembangkan senyuman.
"What? Kasihan Sindy kalau aku tembak. Bisa-bisa Sindy go dari dunia. Iya kan Yang?" Fabian mengerlingkan mata dan memanggil Sindy dengan sebutan Yang."
Kirana terkesiap mendengar panggilan mesra Fabian yang ditujukan pada Sindy. Seketika Kirana menutup mulutnya yang menganga dengan kedua telapak tangan.
"Hahhhh, ternyata kalian ...."
"Hhhehe, selama kamu memberi tugas kepadaku untuk menemani Sindy, mengawasi pembangunan desa W, kami semakin akrab dan akhirnya saling merasakan apa itu yang dinamakan cinta." Fabian tersenyum lebar sedangkan Sindy menunduk malu, berusaha menyembunyikan rona merah di wajah cantiknya.
"Wowwww, selamat, selamat. Aku teramat bahagia. Buruan halalkan dek Sindy, Babang Bian!" pinta Kirana disertai tawa. Terlihat binar kebahagiaan di kedua manik mata Kirana setelah mengetahui Fabian dan Sindy kini telah saling mencinta.
TRESNA JALARAN SAKA KULINA, CINTA HADIR KARENA TERBIASA
🌹🌹🌹🌹
Readers, trimakasih karena masih setia mengikuti kisah Abi dan Kiran. Semoga tidak membosankan ya.... Jika membosankan, maafkanlah author yang kurang pandai merangkai kata-kata ini.... 😅😅😅🙏🙏🙏
Semangati author dengan meninggalkan jejak like 👍
Komentar
Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Vote atau hadiah jika berkenan dan kelebihan poin
Klik emote ❤ untuk fav novel
Happy reading ❤❤❤
__ADS_1