
"Ma-maaf Bu Dokter, bagaimana nasib bayi Diana? Siapa yang akan merawatnya?" tanya Halimah ragu.
Abimana dan Kirana mengurai pelukan. Mereka berdua nampak berpikir. Keduanya masih belum yakin, bila Anggara akan bersedia merawat bayi yang telah dilahirkan oleh Diana.
Tetiba terdengar suara seorang pria. "Saya yang akan merawatnya."
Abimana, Kirana dan Halimah, seketika menoleh ke asal suara. Halimah terkesiap tatkala kedua netranya menatap wajah yang sangat familiar.
"Pak Alden," pekik Halimah seketika.
Kirana nampak mengerutkan keningnya ketika nama Alden keluar dari bibir Halimah. "Alden?" batin Kirana.
"Ya, saya yang akan merawat dan membesarkan bayi kami. Buah cinta saya dan Diana," tegas Alden.
Kedua netra Kirana menatap Alden dengan tatapan penuh amarah. Bisa-bisanya sang casanova datang ketika Diana telah meninggalkan dunia ini dan berniat ingin merawat serta membesarkan baby Karan.
Tangan Kirana mengepal. Kakinya melangkah mendekat ke arah Alden berdiri.
BUG
Kirana tidak dapat lagi menahan amarahnya. Ibunda Keanu melayangkan tinju tepat mengenai perut Alden.
"Awww...," rintih Alden sembari memegangi perutnya.
Seolah belum puas melayangkan tinju pada perut Alden, Kirana mencengkram kerah baju pria brengse* itu, kemudian kembali melayangkan tinju tepat mengenai pipi kanan sang casanova.
"Dasar pria kurang ajar...."
BUG
Pipi Alden nampak kebiruan, keluar darah segar dari bibirnya.
Abimana memeluk tubuh istrinya yang sedang kalap. Abimana mengerti apa yang akan dilakukan oleh Kirana saat ia tidak dapat lagi menahan amarahnya.
__ADS_1
Bukan hanya pukulan atau sekedar tinju, jiwa bar-bar Kirana akan kambuh bila berhadapan dengan seorang pria seperti Alden. Pria brengse* yang tidak bertanggung jawab.
"Saya mohon, maafkan saya!" pinta Alden, suaranya terdengar lirih.
"Kemana saja kau pria brengse*? Mengapa kamu datang pada saat Diana sudah meninggal, hah? Kamu tidak pantas merawat dan membesarkan Karan," ucap Kirana dengan intonasi yang meninggi.
"Maaf, saya teramat menyesal. Seharusnya saya menepati janji kepada Diana, untuk menikahinya. Saya memang pria pengecut yang tidak berani untuk bertanggung jawab." Lolos sudah air bening dari kedua sudut netra Alden.
"Bie, lepaskan aku! Aku akan memberi pelajaran kepada pria brengse* ini, hingga ia tidak akan mampu lagi menyemburkan benihnya ke rahim semua wanita." Kirana mencoba melepaskan diri dari pelukan suaminya, namun Abimana semakin mengeratkan pelukan.
"Sudah Bund, sudah! Kendalikan emosi Bunda! Tangan Bunda terlalu suci untuk memberikan pelajaran ataupun hukuman kepada pria brengse* itu. Istighfar ya Bund!" pinta Abimana sambil mencium pucuk kepala Kirana.
Kirana mengatur nafasnya. "Astaghfirullah, ampuni hamba Ya Allah!" Kirana tidak dapat lagi membendung buliran air bening yang tertumpah membasahi wajah cantiknya.
"Beri saya kesempatan! Saya akan berusaha menjadi ayah yang baik untuk bayi kami."
Halimah berjalan mendekat ke arah Alden dan menyerahkan baby Karan kepada ayahnya. Alden merengkuh baby Karan dengan tangan gemetar.
DEG
Dada Kirana tetiba menyesak tatkala mendengar ucapan Halimah. Sebagai seorang istri, Kirana tidak ikhlas bila ada wanita lain yang sangat mencintai suaminya. Bahkan wanita itu membawa perasaan cintanya hingga ke alam keabadian. Terselip rasa cemburu, meski Kirana meyakini bahwa Abimana tidak pernah membalas perasaan Diana. Apalagi wanita itu sudah tiada.
Abimana seolah mengerti apa yang tengah dirasakan oleh istrinya. Abimana mencium kening Kirana dan mengusap-usap punggung istrinya seraya memberi ketenangan.
"Putraku, maafkan ayah, Nak!" lirih Alden sambil mencium kening baby Karan.
"Pak Alden, andai saja dulu Bapak tidak meninggalkan Diana dan bersedia bertanggung jawab, pasti keadaannya tidak akan seperti ini."
"I-iya, saya teramat menyesal telah meninggalkan Diana. Sebenarnya selama ini saya tidak pulang ke Kalimantan, apalagi rujuk dengan istri pertama. Semua hanya alibi untuk menghindari Diana. Beberapa hari ini, saya selalu dihinggapi perasaan bersalah. Hingga, saya memutuskan untuk bertanggung jawab. Namun, ternyata sudah terlambat. Ketika tadi saya melangkahkan kaki sampai di depan pintu, Bejo memberi kabar bahagia bahwa Diana sudah melahirkan seorang bayi laki-laki. Saya teramat bahagia mendengar kabar itu. Namun kebahagiaan yang baru saja saya rasakan menguap begitu saja tatkala Bejo mengatakan bahwa Diana telah tiada, sesaat setelah melahirkan." Air bening yang keluar dari sudut netra Alden semakin deras.
Abimana tidak ingin ikut campur terlalu jauh dengan permasalahan yang memang bukan menjadi tanggung jawabnya. Pria tampan bermata teduh itu pun mengajak Kirana untuk segera meninggalkan lapas setelah menghapus jejak air mata yang membasahi wajah cantik istrinya.
Abimana merangkul pundak Kirana, kemudian mereka berdua melangkah pergi meninggalkan lapas.
__ADS_1
"Trimakasih Dokter Kiran," lirih Halimah yang baru menyadari bahwa Kirana sudah pergi.
Bejo, Gepeng, Panut dan Nurul, mengucapkan terimakasih kepada Kirana ketika mereka berpapasan di pintu keluar lapas.
Kirana hanya membalas dengan menganggukan kepalanya pelan dan berusaha mengulas senyum.
🌹🌹🌹
Anggara bergegas pergi ke rumah sakit setelah Nurul menghubunginya dan memberi kabar bahwa Diana meninggal dunia sesaat setelah melahirkan. Seketika Anggara merasa teramat menyesal dan berduka.
"Diana...." tangis Anggara pecah tatkala melihat tubuh putrinya yang sudah terbujur kaku.
"Putriku, maafkan papa! Bangunlah Sayang! Papa sudah memaafkan kesalahan dan dosa-dosamu. Jangan tinggalkan papa, Di! Bangun, bangunlah Di!" Tangisan Anggara terdengar sangat menyayat hati.
Anggara terus saja meratapi kepergian putrinya. Pria paruh baya itu teramat menyesal dengan keputusannya sendiri.
Andai Anggara datang pada saat Diana akan melahirkan, mungkin putri yang sangat dicintainya itu akan merasa bahagia dan memiliki semangat untuk hidup.
"Diana.... Maafkan papa!" Anggara mencium kening putrinya yang telah tiada, sebelum petugas medis memandikan jenazah Diana.
🌹🌹🌹🌹
UP ke dua segini dulu ya readers.. Othornya lagi pilek, kebanyakan minum es. 😅😅😅🙏🙏
Bagaimana reaksi Anggara ketika bertemu dengan Alden? Kira-kira, siapa yang akan merawat dan membesarkan baby Karan? Anggara atau Alden?
Loh, kog baby Karan tidak diangkat anak saja oleh Panut, thor? jawabnya, enggak. Ada yang lebih berkewajiban merawat dan membesarkan Karan. 😅😅🙏🙏
Kelak ada saatnya, Panut memiliki seorang buah hati yang didambakannya dan sang istri. Kapan itu thor? Kapan-kapan kalau othor masih bersemangat mengetik ICPA lebih dari 100 episode... hhhehe, canda. 😁😁✌✌
Trimakasih dan happy reading 😘😘😘
__ADS_1