
Selepas ashar, Ilham dan Suci melanjutkan wisatanya ke Pantai Glagah.
Pantai Glagah terletak di Desa Glagah, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo.
Tepatnya berada di belakang Bandara International Yogyakarta (YIA).
Sepasang pengantin baru menikmati wisata air dengan menaiki perahu bebek. Mereka mengayuh perahu bebek diiringi canda tawa, mengelilingi Laguna Pantai Glagah.
Laguna berupa cekungan yang berisi air laut pasang dan ditumbuhi rumput liar pada bagian tepi.
"Mas, kita seperti anak kecil ya, naik perahu bebek," ucap Suci disertai tawa.
"Akhhhh, tidak apa-apa Sayang. Yang terpenting kita happy," balas Ilham, ustadz muda itu tersenyum lebar.
Setelah lelah mengayuh perahu bebek, Ilham dan Suci menepikan perahunya. Mereka berdua turun dari perahu bebek, kemudian melangkahkan kaki menuju ke dermaga.
Dermaga berupa jalan panjang yang mengarah ke tengah dan dikelilingi oleh tetrapod yang berfungsi sebagai pemecah ombak.
Sepasang kekasih yang sedang cinta-cintanya, berjalan bergandengan menikmati semilir angin dan deburan ombak yang dipecah oleh tetrapod.
Ilham dan Suci mengabadikan momen indah mereka dengan berfoto. Sepasang kekasih itu berfoto dengan mengambil latar belakang tetrapod yang memecah ombak.
"Senyum Mas!" Suci dan Ilham berpose dengan menampakan keromantisan.
Hingga, tatapan semua mata tertuju pada mereka berdua.
Setelah berfoto, mereka berdiri di dermaga, menikmati sapuan angin yang menyejukan. Jilbab Suci melambai-lambai, bagaikan bendera yang berkibar.
Ketika swastamita menyapa, Ilham dan Suci memutuskan untuk pulang ke penginapan.
__ADS_1
🌹🌹🌹
Abimana dan Kirana, masih betah menginap di vila. Mereka menikmati hari dengan saling menumpahkan rasa cinta melalui sentuhan dan perhatian. Hingga rasa yang mereka miliki kian bertambah, setelah penyatuan raga yang sering dilakukan.
Kini mereka berdua, sedang menatap kecantikan sang dewi malam, berteman gugusan bintang yang gemerlap, sembari bercengkrama.
"Sayang, kapan kita kembali ke rumah?" tanya Abimana. Pria tampan itu mencium buku-buku jari istrinya.
"Terserah Hubby saja. Tinggal di vila ini membuatku merasa nyaman," balas Kirana dengan mengulas senyum.
"Iya nyaman, karena selalu berada di dekat suami tampanmu ini kan Yank?" Abimana mengerlingkan mata.
"Hemmzz, salah satunya itu Hubby. Pemandangan alam yang tersuguh di vila ini, sebenarnya yang membuatku semakin nyaman. Selain itu, udaranya juga teramat sejuk. Aku ingin memiliki rumah seperti vila ini, Hubby," ucap Kirana dengan memejamkan matanya. Wanita cantik itu membayangkan, seandainya vila yang kini mereka tinggali adalah rumah miliknya.
"Kita beli saja vila ini, Yank," celoteh Abimana disertai tawa. Perlahan, Kirana membuka kedua netranya, karena mendengar celotehan Abimana.
"Hisssh, Hubby. Mana mungkin pemilik vila mau menjualnya." Kirana mengerucutkan bibirnya. Abimana terkekeh dan mengacak rambut istrinya yang tergerai.
"Baiklah Bie. Dua hari lagi, aku juga sudah masuk kerja. Dokter Zahra memberikan tugas, untuk mengunjungi perkampungan padat penduduk yang berada di bantaran sungai, Bie." Kirana menghela nafas panjang.
Abimana mengangkat alisnya dan berseloroh "Untuk apa mengunjungi perkampungan itu Yank? Sayang jangan nyebur ke sungai lho! Aku takut istri cantikku tenggelam."
"Bie, di perkampungan itu banyak bumil yang kurang gizi. Makanya, Dokter Zahra mengirimku ke perkampungan itu, untuk memeriksa kondisi kesehatan mereka sekaligus memberi bantuan berupa vitamin dan bahan pangan," balas Kirana dengan menyunggingkan seulas senyum.
"Baiklah Yank. Sungguh tugas yang Sayang emban merupakan tugas mulia. Jaga diri Sayang, bila jauh dari suamimu ini!" Abimana menatap kedua netra istrinya yang nampak bersinar karena terpaan cahaya rembulan.
"Iya Bie. Aku akan jaga diri. Namun bila terjadi sesuatu padaku, Hubby harus tetap bersemangat menjalani hidup," balas Kirana. Kedua netranya membalas tatapan Abimana.
Abimana memeluk erat tubuh Kirana seraya membisikan kata, "Jangan pernah mengucapkan kata itu lagi! Sungguh, aku tidak ingin ada yang memisahkan kita, bahkan maut sekalipun. Aku tidak sanggup berpisah denganmu istri comel."
__ADS_1
Kirana membalas pelukan suaminya, hingga mereka pun saling berpeluk.
"Iya Bie. Semoga tidak akan terjadi hal yang buruk menimpaku. Kita akan selalu bersama Bie, in shaa Allah sampai tua nanti."
"Aamiin Sayang, till janah."
Perlahan mereka berdua saling melepaskan pelukan, dan beranjak dari duduk.
Abimana dan Kirana melangkahkan kaki menuju ranjang, kemudian merebahkan tubuh mereka di atasnya. Sepasang kekasih memulai kembali ritual untuk mereguk manisnya surga dunia, dengan penyatuan raga diselimuti rasa cinta mendalam.
Rembulan seakan tersenyum melihat kemesraan sepasang kekasih, sinarnya menyelinap melalui celah-celah jendela.
Suara desah angin malam pun ikut mengiringi nyanyian merdu kedua insan.
🌹🌹🌹🌹
Readerrrsss
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍
Komentar
Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Klik emote ❤ untuk favoritkan novel
Beri Vote jika ingin mendukung karya author
Trimakasih dan happy reading 😘😘😘
__ADS_1