
Air langit sudah mulai reda, meninggalkan bebauan khas tanah basah. Seusai percakapannya dengan Aulia, Shelly berpamitan untuk pergi ke mini market yang letaknya tidak jauh dari rumah besar keluarga Rizal.
Sebenarnya Aulia ingin menemani sang kakak, namun ia urungkan. Aulia merasa kesal setelah mendengar ucapan Shelly yang seperti ocehan baginya. Aulia sungguh tidak ingin mendengar kata-kata yang menyiratkan keputus asaan. "Bukankah hidup dan mati itu kehendak Illahi, namun mengapa ucapan Mbak Shelly seolah mendahului kehendak-Nya?" monolog Aulia di dalam hati.
.
.
Saat Shelly mengayunkan kakinya, ia melihat seorang gadis kecil yang sedang menangis di jalan. Betapa terkejutnya Shelly kala mendapati si gadis kecil sudah berada di tengah jalan.
"Awas Nak...." pekik Shelly sembari mendorong tubuh si gadis kecil yang bernama Permata.
BRUKK
"Ahhhhhhh...."
Sebuah mobil yang dilajukan dengan kencang menabrak tubuh Shelly. Tubuh Shelly terpental hingga beberapa meter.
"Tidak...," teriak Aulia saat melihat tubuh kakaknya yang terpental. Darah segar pun mulai keluar. Sayang hanya ada Aulia dan Permata di tempat kejadian. Pengendara mobil berlalu pergi, tanpa mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Aulia berlari mendekat ke arah tubuh Shelly yang terbujur tak berdaya. Ia raih tubuh Shelly yang sudah bersimbah darah.
"Mbak Shel, bertahanlah! Jangan tinggalkan kami! Maafkan Aulia yang membiarkan Mbak Shelly pergi ke mini market sendiri. Maaf...." Buliran bening mengalir deras dari kedua sudut netra Aulia.
Tanpa Aulia sadari, ayah Permata datang menghampiri mereka dengan menggendong sang putri yang sedang menangis karena lututnya terluka.
"Maaf, gara-gara kecerobohan saya, kakak anda mengalami kecelakaan. Andai saja, kakak anda tidak menolong putri saya, pasti hal buruk ini tidak akan terjadi."
Tidak ada balasan dari Aulia, hanya terdengar suara tangisan yang menyayat hati.
"Mbak, saya sudah menghubungi rumah sakit agar segera mengirim mobil ambulance. Insya Allah, sebentar lagi ambulance akan segera datang. Saya sangat berharap, nyawa kakak anda masih bisa diselamatkan."
Aulia tetap saja tidak membalas ucapan Haris, ayah Permata, seorang duda muda yang baru satu bulan kehilangan istrinya. Istri Haris meninggal dunia karena kecelakaan tragis yang menimpanya.
"A-aulia. Uhuk, uhuk. M-mbak mohon, sampaikan surat ini kepada Adam!" Suara Shelly terdengar lirih. Shelly menyerahkan amplop berwarna merah jambu, yang berisi goresan tangannya teruntuk pria yang sangat dicintai. Aulia terpaksa menerima surat tersebut, meski sebelumnya ia sempat menolak.
"Mbak Shelly, bertahanlah!"
Tanpa menunggu waktu lama, ambulance pun tiba. Tenaga medis yang berada di dalam mobil ambulance, bergegas keluar untuk membawa Shelly. Mereka memasukan tubuh Shelly ke dalam mobil ambulance dengan sangat hati-hati.
__ADS_1
Aulia memegang tangan Shelly. Tangisannya pecah saat melihat sang kakak tidak sadarkan diri.
.
.
Sesampainya di rumah sakit, para petugas medis segera membawa Shelly ke ruang IGD. Dokter yang berjaga pun segera memeriksa keadaan Shelly.
Haris duduk di samping Aulia dengan memangku Permata. Pria berparas tampan itu terus berusaha membesarkan hati Aulia. Ia benar-benar merasa bersalah karena telah ceroboh saat menjaga putrinya.
.
.
"Bagaimana keadaan kakak saya, Dok?" tanya Aulia dengan menyeka air mata yang masih membasahi wajah cantiknya.
"Kakak anda mengalami pendarahan di bagian kepala yang cukup parah. Mohon maaf, kami tidak sempat menyelamatkan nyawanya," jawab dokter yang bernama Mishel dengan tertunduk lesu.
Bagai dihujam ribuan anak panah yang tak kasat mata, dada Aulia teramat sakit mendengar jawaban Mishel.
"Tidakkkkkk...." Aulia duduk bersimpuh, seolah ia tak kuasa menopang tubuhnya yang serasa lunglai. Bulir kesedihan yang keluar dari kedua sudut netranya semakin deras.
Haris beranjak dari posisi duduk kemudian menggendong putrinya. Pria tampan itu berjalan mendekat ke arah Aulia.
Aulia mencoba menenangkan diri dengan menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia seka air mata yang masih saja jatuh tanpa permisi.
"A-ada Mas. Mas Adam dan Mas Zain."
Aulia mengambil benda pipih yang ada di dalam tasnya dengan tangan gemetar. Ia segera menghubungi Zain dan Adam.
.
.
Selang lima belas menit, Zain tiba di rumah sakit bersama kekasihnya, Roro Jihan. Adam pun tiba hanya selang lima menit setelah Zain.
"Apa yang terjadi pada Shelly, Dek? Mengapa Shelly bisa meninggal?" Zain mencengkram bahu Aulia. Raut wajahnya nampak sendu.
"M-Mbak Shelly mengalami kecelakaan karena menolong seorang gadis kecil, Mas." Lolos lagi buliran kesedihan dari kedua sudut netra Aulia.
__ADS_1
"Ya Allah, Shelly. Mengapa ini bisa terjadi?" Zain membalikan tubuhnya berhadapan dengan dinding. Ia pukul-pukul dinding yang tak bersalah. Buliran bening mulai membasahi wajah tampan Zain.
Meskipun ikut merasakan duka yang teramat sangat, Jihan mencoba menenangkan kekasihnya dengan mengusap-usap punggung Zain dengan gerakan naik turun.
"Mas, yang sabar dan ikhlas! Kita semua milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Dek Shelly sudah tidak merasakan sakit lagi."
Tiba-tiba terdengar suara bariton yang mengalihkan perhatian Aulia, Haris, Zain dan Jihan. "Apa yang terjadi pada Shelly? Tidak mungkin dia meninggal?"
Dengan sisa kekuatannya, Zain berjalan ke arah Adam. Ia peluk Adam dengan erat. "Dam, Shelly sudah meninggalkan kita semua. Shelly sudah tidak merasakan sakit lagi. Sabar dan ikhlas! Kita harus bisa merelakan kepergian Shelly."
"Tidak, Shelly tidak mungkin meninggal. Shelly berkata bahwa dia mencintaiku. Shelly tidak mungkin tega meninggalkan suaminya ini." Lolos sudah buliran air bening yang sempat tertahan di pelupuk mata Adam. Tubuhnya bergetar. Dadanya teramat sakit, seperti dihujam ribuan pedang.
"Dam, Zain." Terdengar suara yang familiar bagi Adam dan Zain.
"Mishel?" Adam dan Zain terkesiap tatkala netra mereka menangkap objek yang sudah tidak asing.
Perlahan, Zain mengurai pelukannya sembari mengusap jejak air mata dengan jemari tangan.
"Dam, Zain, apa hubungan kalian dengan almarhumah Shelly?" Mishel menatap Adam dan Zain secara bergantian.
"Shelly adalah adikku, sedangkan Adam adalah suami Shelly," jawab Zain dengan suaranya yang terdengar lirih.
Mishel menghela nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan.
"Maaf, aku tidak sempat menolong nyawa Shelly. Lukanya begitu parah dan dia juga kehilangan banyak darah. Shelly meninggal setelah tiba di IGD," sesal Mishel.
"Sudahlah, Mis. Kepergian Shelly bukanlah kesalahanmu. Semua sudah menjadi skenario sang penulis cerita. Kita sebagai tokoh di dunia halu ini, hanya bisa menerima apa saja yang dituliskannya."
"Kamu benar, Zain. Dam, yang kuat, tabah serta ikhlas! Aku tidak menyangka kita dipertemukan kembali setelah lebih dari sepuluh tahun terpisah. Tepatnya, setelah kita lulus dari SMA." Mishel menatap wajah Adam dengan tatapan penuh kerinduan. Selama ini Mishel memiliki perasaan cinta terhadap Adam, meski tidak pernah mendapat sambutan.
"Iya Mis," balas Adam singkat sembari mengusap buliran bening di wajah tampannya.
Zain, Aulia dan Adam melangkahkan kaki mereka memasuki ruang IGD. Tubuh mereka serasa tanpa tulang saat melihat tubuh Shelly yang sudah tak bernyawa.
🌹🌹🌹
Bersambung.... Maaf jika ada typo 🙏
Jangan lupa tinggalkan jejak like dan klik hadiah atau vote jika berkenan mendukung ICPA.
__ADS_1
Karya ini boleh di share, bila dirasa bermanfaat atau menginspirasi.💓💓💓
Trimakasih dan selamat membaca 💓💓💓