
Jangan rusak mentalnya
...****************...
" Kenapa kamu begitu yakin kalau Leon sembuh ?" tanya Dahlia.
" Tapi Zha yakin, kak Leon akan sembuh bukan tidak sembuh, walau dokter Rudi selalu memfonis kalau kak Leon tidak bisa sembuh ?" kata Zha.
" Arief dulu sering bercerita, kadang orang selalu tersenyum di depan kita, belum tentu dia tersenyum di belakang kita, malah mencekik kita dari belakang, makanya sekarang Zha berpikir perkataan Arief dulu " kata Zha.
" Seperti Arief dan kak Leon, Arief penuh dtrama, sedang kak Leon orang yang jujur " kata Zha.
" Maksudmu ?" tanya Dahlia.
" Karakter Arief, setiap katanya selalu di percaya orang ntah benar atau salah, coba kalau dia bilang sama mami dia bilang iya, tapi di luar dia beda, beda dengan kak Leon, jika tidak ya tidak dan iya ya iya "
" Kalau kak Leon di bilang mami jika dia benar pasti jawab, tapi kalau dia salah pilih diam, di saat dia jawab kata - kata mami Zha protes, jawabanya, orang tua tidak selalu benar, kalau bukan kita yang mengingatkan siapa lagi " kata Zha.
" Beda Arief jika di bilang mami, Arief bilang iya, tapi di belakang beda, jika Zha protes, hanya bikin mami seneng aja kata Arief " kata Zha.
" Terima kasih kau telah mencintai putraku tanpa pamrih mami jadi tambah sayang sama kamu !" kata Dahlia memuji Zha.
" Zha hanya mencintai milik Zha, yang di titipkan allah untuk Zha jaga " kata Zha.
Selesai makan malam, kebiasaan Zha sebelum tidur selalu meminta pijit kakinya oleh Leon, Leon yang masih asik menonton bola dengan Angga sedikit protes.
" Pijitin mami ya Zha ?" kata Leon.
" Tidak mau kak ?" kata Zha.
" Leon, . . . ! Zha masih mending minta pijitin kakinya sampai dia tidur saja, kalau hamilmu dulu sampai pagi, berarti anakmu seperti kamu, anakmu tapi tidak senakal kamu, dan tidak mau di pijitin selain ayahnya " jelas Dahlia.
" Pantas ahir - ahir ini Zha aneh, kalau belum di pijitin, belum tidur " kata Leon.
" Itu bawaan dari anakmu, memang anak pertama jarang ketahuan, apa lagi kamu habis sakit " jelas Dahlia.
Leon langsung mengambil kasur angin dan di pompanya di sana di depan tv dan menyuruh Zha tiduran dan Leon memijit kakinya.
" Tidurlah, " kata Leon menarik Zha dalam pelukanya.
Dahlia menyelimuti anak dan menantunya di depan televisi.
Tapi Zha tidak bisa tidur sampai semua orang di rumah tidur dan bola sudah selesai dari tadi.
" Kak !" panggil Zha pada Leon.
" Emmmm " jawab Leon.
" Zha tidak bisa tidur, pulang yok, ke apartemen ?" ajak Zha.
__ADS_1
" Terus mami ?" tanya Leon.
" Tidak usah pamit, takut nanti malah ganggu " kata Zha.
" Ya sudah, ayok ?" kata Leon.
" Gendong ?" kata Zha.
Leon langsung menggendong istrinya sampai mobil.
Di pagi harinya Dahlia yang bangun duluan dan ribut, karena tidak mendapati anak dan menantunya.
" Tadi malam den Leon dan non Zha pulang ke apartemen, pamit sama Djoko nyah, kalau pamit sama nyonya, katanya takut ganggu " kata Djoko.
" Memang jam berapa mereka keluar jok ?" tanya Dahlia.
" Sekitar jam dua " jelas Djoko.
Di tempat lain, Zha terbangun dari tidurnya, tanpa sehelai benangpun di tubuhnya, ulah suaminya sendiri sehabis menunaikan sholat subuh berjamaah, beranjak mandi dan menuju dapur menyiapkan sarapan untuk sang suami.
" Kak, mau ke kantor tidak ?" tanya Zha berbisik pada suaminya.
Bukanya di respon langsung bangun, malah menarik Zha dalam selimut dan menghimpitnya lagi.
" Kak, sudah jam tujuh " kata Zha.
Setelah selesai " Inilah sarapan paling Nikmat sayang !" kata Leon sambil mencium istrinya, yang rambutnya masih basah karena mandi tado dan sekarang harus mandi lagi karena ulah suaminya.
" Kak Leon menang, Zha selalu kalah, " kata Zha menarik selimut menutupi tubuhnya.
Leon keluar kamar mandi melihat Zha tertidur, dan terlihat lemas karena ulahnya pagi - pagi.
" Kau canduku sayang " bisik Leon pada Zha membuat Zha terbangun dan harus mandi lagi.
" Sudah kak Leon siapkan air hangat Zha . .!" teriak Leon, dan di jawab Zha dengan senyum sambil masuk kamar mandi.
Setelah keluar Zha memakaikan dasi Leon, dan jasnya masih dengan handuk yang meliliti tubuhnya.
Sreeek. . . ! usilnya Leon menarik handuk Zha hingga terlepas.
" Ha ha ha ha. . . !" tawa Leon yang membuat Zha panik.
" Kak Leon. . . !" teriak Zha sambil menutupi aset berharganya dengan kedua tangan.
" Tubuhmu indah sayang, sebentar lagi perutmu sudah buncit " kata Leon meledek Zha.
Tawa pagi sepasang suami istri yang saling mencintai.
Di meja makan.
__ADS_1
" Zha libur kuliah kak, jadi Zha ingin tempat ibu !" kata Zha.
" Terus ?" tanya Leon.
" Anterin Zha " jawab Zha.
" Okey bos !" jawab Leon.
Leon memegang ponsel.
Ting, notifikasi ponsel Zha.
" Kak banyak bener kak ?" tanya Zha saat melihat saldonya menambah.
" Sepertinya baru tiga hari yang lalu kak Leon transfer Zha lima puluh juta rupiah, ini kok sembilan puluh juta rupiah " protes Zha.
" Kamu istriku, bukan pembantu ataupun adiku, uangku uangmu, terserah aku mau kasih kamu berapa, dan kamu berhak meminta aku apa saja !" kata Leon membuat Zha menunduk.
" Dan ini kalau mau tempat ibu ?" kata Leon sambil memberikan uang kes sekitar lima juta lebih.
Zha segera mengantonginya, jam delapan lebih baru keluar rumah dan menuju ke rumah Didik.
Sesampainya di rumah lama Zha di sambut oleh Rima dan Didik dan membimbingnya masuk.
Leon langsung ke kantor tidak bisa menemani Zha lama.
" Sayang jaga bunda ya ?, ayah cari nafkah ? dan jangan nakal ? cup " kata Leon pada perut Zha yang masih rata dan menciumnya.
" Dan kamu Zha jangan terlalu lelah !" ingat Leon sambil mencium keningnya
Didik dan Rima saling pandang. Leon lalu pamit dan Zha menyalaminya dengan takjim dan Leon mencium kening istrinya.
Setelah Leon pergi Zha memeluk Rima dengan cinta.
" Zha punya kabar gembira bu, pak ?" kata Zha sambil melihat ke arah Didik.
" Apa nak ?" Tanya Rima sambil mengelus rambut Zha.
" Bapak sama ibu, akan punya cucu, Zha hamil bu ?" kata Zha dengan gembira, Didik pun senyum bahagia beda dengan Rima, menunduk dan mengeluarkan air mata.
" Kenapa ibu tidak suka Zha hamil bu ?" kata Zha kecewa.
" Bukan ibu tidak suka Zha, ibu terharu, tapi ibu juga kuatir, umurmu masih kecil nak ibu takut kamu !" kata Rima terputus.
" Ibu, semua sudah ada yang mengatur, Zha yakin Zha anak yang kuat kok, jika umur bukan sebuah tergantungnya keselamatan melahirkan, seharusnya kak Rahma selamat buk karena umur kak Rahma sudah cukup !" jawab Zha.
" Benar yang di katakan Zha buk ?" jawab Didik.
" Jangan kau rusak mental anakmu, walaupun kita kuatir, terlihatlah kita bahagia " bisik Didik pada Rima.
__ADS_1