
Saudara paling peduli
...****************...
Setelah keadaan Zha mulai stabil, Yuyun memindahkan Zha di ruang rawat lagi, hanya terbatas yang menunggu, tidak boleh banyak orang, karena Zha masih di bilang koma.
Leon yang tidak bisa meninggalkan istrinya semenit pun, dia ingin mendampingi istrinya setiap waktu.
Dahlia pilih pulang, setelah mendonorkan darahnya,
" Zha kau harus bertahan, demi anak - anak kita, kau lah satu - satunya dalam hidupku " kata Leon.
Dan banyak kata - yang selalu di bisikan di telinga Zha oleh Leon sambil berlinang air mata.
" Permisi. . !" kata Yuyun yang baru datang.
Leon hanya meliriknya.
" Aku hanya ingin mengambil ASI Zha, anak kalian mulai haus !" kata Yuyun.
" Sekalian merangsang, Asi Zha agar setelah sadar, Asinya tidak kering !" jelas Yuyun.
Leon hanya terdiam, sampai Yuyun pergi.
Adi berdiri di dekat jendela, mengarah pada Zha yang terbaring, sedang di tunggu Leon.
Tiada terasa Adi meneteskan air mata masih sambil memandang Zha.
" Hai, kau kenapa ?" tanya Didik yang memukul pundak Adi membuatnya terkejut, dan segera mengelap air matanya.
" Tidak pak de " kata Adi sambil mengatur nafasnya.
" Kau menangis ?" tanya Didik.
" Tidak, aku hanya kelilipan, Adi permisi pak de, mau ke toilet !" kata Adi sambil mengucek matanya.
Adi kembali, dan di lihatnya Leon tidak ada di dekat Zha. Adi masuk, duduk, dan menggenggam tangan Zha.
" Zha kau tahu, aku perih saat kau terbaring seperti ini, siapa yang akan peduli padaku kalau kau tidak ada ?, kau saudaraku satu - satunya yang paling peduli ! "
__ADS_1
" Kau ingat Zha, saat aku tidak mau sekolah, aku di hajar bapak, aku menangis di bawah pohon mangga, kau datang menemaniku, besoknya kau ikut sekolah, padahal umur kita beda satu tahun, tapi kamu tetep kekeh sekolah, untuk menemaniku "
" Dengan baju yang kebesaran, tas kantong plastik, jika aku ingat itu, kau membuatku tertawa, ahirnya ibumu mengijinkan kau sekolah, Di saat kau ingusan, baju putihku penuh dengan ingusmu, juga sebaliknya kalau aku ingusan baju putihmu juga penuh ingusku itulah rasa peduli kita "
" Tapi kamu sering membuat aku di marahi bapaku, karena tingkah cengengmu, kau cengeng, karena tingkah usilku, tapi rasa pedulimu tidak pernah luntur Zha " kata Adi, tersenyum sambil menangis, membayangkan masa kecil mereka.
" Di saat aku tidak akan meneruskan sekolah SMA, kau menyemangatiku, kita jadi tukang parkir, jadi kuli di pasar, aku ingat pesanmu, 'Janganlah kamu jadi laki - laki bodoh, karena laki - laki, tulang punggung, sedang aku hanya tulang rusuk, jadi kamu harus bisa cari nafkah, kalau kamu tidak bisa cari uang, siapa wanita yang mau dengan pria kere dan bodoh sepertimu, makanya sekolah yang tinggi ' " kata Adi menirukan gaya Zha.
" Sampai kau relakakan uang jajanmu dari suamimu, untuk membayar uang kuliahku , kalau kau pergi, kalau kau menutup mata siapa yang akan peduli padaku, siapa yang akan memberiku semangat, Aku rindu senyumanmu, aku rindu lesung pipimu Zha kau juga harus tahu, kalau kak Leon merindukanmu putramu menunggumu, menunggu pelukanmu hu hu hu !" kata Adi panjang lebar sambil tersenyum dan menangis.
Leon ternyata tidak keluar, dia hanya ke toilet di belakang Adi, dia merekam semua kata - kata Adi.
" Aku pergi dulu, suamimu belum makan seharian !" kata Adi, pada Zha yang masih terbaring.
Adi keluar sambil mengusap matanya, mencari makanan.
Lalu ke sana dengan membawa beberapa kotak makanan.
" Makanlah kak, kita sudah sehari di sini, tapi aku lihat kau tidak makan sedikitpun !" suruh Adi pada Leon yang masih nenghadap brankar Zha.
" Aku tidak lapar !" kata Leon singkat.
" Kau sudah pucat kak !" kata Adi sambil memandang wajah Leon, yang putih, kini pucat.
" Makanlah Leon, benar kata Adi, biar ibu yang gantian menunggu, kalau kau mau makan di luar !" kata Rima.
" Aku ingin lihat putraku dulu buk !" kata Leon, sambil berlalu dan menuju kamar anak.
Leon berbisik " Sayang, ayah menyayangimu dan bundamu, tolong bantu ayah bangunkan bunda " bisik Leon pada bayinya.
Leon kembali dengan menggendong satu putranya.
" Sayang, bangun, kau di ajak bermain dengan putra kita " kata Leon menggenggam tangan Zha dan meneteskan air mata.
" Sayang, dia ingin di peluk bundanya, bangun sayang ?" kata Leon lagi.
Semua yang melihatnya menangis, alangkah takutnya Leon kehilangan istrinya, sampai dia melakukan segala cara agar istrinya bangun.
Zha merespon, dan menggerakan satu jari tengah, Leon langsung menyuruh Adi memanggil Yuyun.
__ADS_1
Dokter cantik berhijab, Yuyun masuk dan memeriksa Zha.
" Alhamdulilah, mulai membaik, detak jantungnya normal !" kabar Yuyun membuat semuanya lega.
Leon ahirnya bisa makan.
Di tengah malam sekitar jam dua, Leon dan Adi menunggu Zha, sedang Didik dan Rima, menunggu bayinya.
Zha tersadar, dia pandang ke sekeliling sepi, hanya lampu yang ada di atasnya, dan ada selang oksigen di hidungnya. saat akan mengangkat tanganya terasa berat, ternyata, ada pria tampan yang menindihnya, tanganya basah penuh dengan air mata ayah dari anak - anaknya.
Zha berusaha mengangkat yang sebelah, dan mengelus kepala Leon, membuat Leon terkejut.
" Sayang. . kau sudah sadar !" kata Leon dengan senyum, walau dirinya tidak teratur lagi, rambut yang terlihat acak - acakan, mata yang sembab, tapi masih terlihat tampan. Zha hanya mengangguk.
" Zha haus kak . . !" kata Zha masih dengan nada lemas.
Leon lalu mengambil air minum di sebelahnya, Leon membangunkan Adi menyuruhnya, memanggil Yuyun.
Adi yang masih bingung langsung memanggil Yuyun, Yuyun yang tidur di rumah sakit, langsung terbangun dan panik, takut Zha kenapa - napa lagi, Yuyun langsung menyambar kardigan kedokteranya dan menuju kamar Zha.
Yuyun merasa lega, ternyata Zha telah sadar, dan semuanya stabil.
" Besok kita lakukan pemeriksaan lagi ya, kalau sudah sembuh total bisa di bawa pulang " kata Yuyun, dan di angguki Zha.
Yuyun melepas, beberapa selang yang tidak berfungsi di tubuh Zha, tinggal selang infus yang masih nenempel.
Pagi harinya semua sudah terbangun, Rima dan Didik kaget, dan bahagia, melihat putrinya sudah di suap sarapan oleh menantunya.
" Kau sudah bangun sayang ?" peluk Rima.
Zha tersenyum " Zha sudah sehat kok buk !?" kata Zha.
" Pagi gini sudah sarapan ?" tanya Rima.
" Zha lapar buk " jawab Zha.
Sudah banyak orang yang berkumpul, menjenguk Zha yang sudah sadar.
" Kau tahu tidak Zha, seharian kemarin, ada seorang pria, tidak henti - hentinya mengeluarkan air mata, padahal dia orang yang paling di takuti, berwibawa, ternyata stok air matanya banyak " kata Adi dengan tingkah konyolnya membicarakan Leon.
__ADS_1
" Aku takut, matanya yang kayak Le min ho, tertutup " lanjut Adi, tapi hanya di dengarkan Leon dengan menyilangkan tanganya di dada.