
Rencana tingkepan
...****************...
" Nanti kak Leon pijit lagi !" rayu Leon.
Leon masih terus merayu, ahirnya Zha hanya bisa pasrah, padahal Zha saja belum sampai memakai pakaianya karena perbuatan Leon semalam.
" Aghhhh. . !" dessah keduanya setelah menuntaskan hasratnya.
" Zha lelah, kak Leon mandi dulu !" suruh Zha pada Leon yang masih terkapar di dekat Zha tanpa sehelai benangpun hanya tertutup selimut dengan berkeringat.
Leon berdiri dan mencium Zha " Terima kasih sayang " ucap Leon sambil mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.
" Zha nanti mandiin ya kak ?" kata Zha saat Leon sampai di pintu kamar mandi, Leon mengangguki dengan senyum.
Setelah Zha dan Leon selesai mandi, keluar kamar, Zha menuju dapur membuatkan kopi Leon dan juga Didik bapaknya yang sedang santai sambil ngobrol hangat.
Setelah selesai sarapan mereka ngobrol di ruang keluarga.
" Bapak sama ibu sudah siang tumben tidak ke sawah ?" tanya Zha.
" Lelah juga Zha. . !" jawab Leon sambil asik mainan ponselnya.
" Ibu dan bapak mau bicara dengan kalian !" kata Didik mengawali percakapan.
" Bicara apa pak ?" tanya Zha yang di dada Leon dengan penasaran.
Leon langsung menaruh ponselnya, mendengarkan Didik.
" Bapak, dan ibu punya tabungan sedikit, rencananya dulu, untuk acara pernikahan Zha, tapi karena Zha sudah nikah, dan mengandung, uang itu akan bapak bikin acara tingkepan saja !" kata Didik.
" Waktu kalian menikah sebenarnya bapak dan ibu ingin merayakanya, tapi masih dalam keadaan berduka cita meninggalnya Arief, dan Zha masih depresi berat !" lanjutnya.
" Tingkepan itu apa ?" tanya Leon.
" Upacara Tingkeban adalah salah satu tradisi slametan yang dilaksanakan pada usia kehamilan tujuh bulan. Namun, Tingkeban hanya dilakukan bila anak yang dikandung merupakan anak pertama bagi si ibu. Acara Tingkeban bermakna bahwa pendidikan bagi sang anak telah ditanamkan sejak anak masih berada dalam rahim sang ibu !" jelas Didik.
" Apa boleh pak dalam islam ?" tanya Leon lagi.
" jika kegiatan yang dilakukan positif, seperti membaca Al-Quran, zikir bersama, atau menyantuni anak yatim, maka acara selamatan saat hamil 7 bulan, mitoni atau nujubulanin boleh-boleh saja dilakukan. "Semua itu adalah sunnah Rasulullah SAW. " jelas Didik lagi.
__ADS_1
" Ya sudah Leon ngikut saja, bila itu yang terbaik untuk istri dan anak Leon " kata Leon.
" Kalau kalian sudah setuju, kita akan susun rencana !" jelas Didik.
" Emang kapan pak mau di laksanakan ?" tanya Leon.
" Bagai mana kalau minggu depan, karena bapak harus bicara juga dengan pak lek mu , dia saudara bapak satu - satunya di sini dan tida lupa Adi juga " kata Didik.
" Kita adakan sederhana saja, hanya menghadirkan tokoh adat dan para murid Gus Rayyan untuk mengaji malamnya !" kata Rima.
" Jadi Zha, di mandikan juga ?" tanya Zha.
" Iyalah Zha, kita butuh kain panjang dan petugas Mua juga " kata Rima.
" Zha itu sudah cantik tanpa perias !" jawab Zha.
" Iya, perut segentong, masih sok percaya diri cantik " canda Rima.
Leon yang bingung bertanya " Gentong itu apa ya buk ?"
" Gentong itu wadah air, yang terlibuat dari tanah liat yang sering di buat film kerajaan " jelas Rima.
" Ha ha ha ha. . .!" Leon langsung tertawa karena sudah maksud.
" Oh ya, kabari juga orang tuamu Leon, dan undang temanmu yang ingin kau undang " kata Didik.
" Tidak perlu pak, pasti mereka tidak akan datang, menurut mereka tidak penting " jelas Leon.
" Kenapa ?" tanya Rima.
" Jangankan acara seperti ini, Arief kritis saja, mereka sibuk dengan pekerjaanya sendiri, mami kumpul sama teman sosialitanya di puncak, sedang papi, metting dengan rekanya di hotel, sampai Arief kehilangan satu ginjalnya, kalau teman Leon biar Zha yang urus " cerita Leon.
" Jadi Arief hanya satu ginjal ?" tanya Zha.
Leon mengangguk.
" Memang, semua fasilitas di penuhi, tapi kasih sayang orang tua, kita kurang " lanjut Leon.
" Tapi lebih baik kasih kabar " kata Didik.
" Nanti biar Zha yang urus !" kata Zha.
__ADS_1
" Sudahlah, jangan di bahas lagi, " kata Leon.
Semua menurut hanya diam.
" Bagai mana sawah bapak, sudah selesai ?" tanya Zha pada Didik.
" Sudah satu kuartal !" jawab Didik.
" Tumben cepat, biasanya lama, pasti karena ada kak Leon ya pak ?" tanya Zha dengan senyum bangga pada suaminya.
" Kau tahu, Leon berangkat bawa cangkul, pulang bawa cangkul, di sana hanya jadi selebritis !?" cerita Didik.
" Maksudnya pak ?" tanya Zha sambil melirik Leon.
' Bisa jadi bubur aku, kalau bapak cerita !' pikir Leon sambil nyengir kuda pada Zha.
" Semenjak Leon ikut ke sawah, gadis - gadis desa banyak yang mengikuti Leon, demi mendapat nomor wa nya, membantu ibu, nyabutin rumput di padi, ada yang bantu bapak nyangkul demi mendapat perhatian Leon, sedang Leon bawa cangkul hanya buat jimat, hanya menggiring gadis desa " cerita Didik.
Zha memandang Leon dengan tatapa membunuh.
" He he he, kak Leon kan tidak bisa nyangkul sedang kak Leon harus bisa menafkahimu ?" kata Leon sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Makanya kamu jangan boros Zha, kan sudah ibu siapkan uang sayuran di meja, tapi tidak pernah kamu pakai sedang usaha kamu masih merintis Zha suami kamu juga penghasilanya tidak menentu" kata Rima jadi omeli Zha, karena tidak tahu penghasilan menantunya. sedang Zha semakin naik darah.
" Jadi pekerjaan bapak, sama ibu ringan, biasanya sepuluh hari belum selesai, sekarang baru seminggu sudah santai " jelas Didik.
" Kau genit ya kak pada setiap gadis, ingat kak ada istri di rumah yang mengandung anakmu !" kata Zha marah.
" Tidak Zha, kak Leon hanya. . !" kata Leon terputus.
" Hanya membantu pekerjaan bapak, hanya ingin cari hiburan, ya sekarang hiburan sebentar lagi nyoba, tidak ketahuan, semakin handal !" omel Zha yang sudah tersulut emosi.
' Gunung merapi meletus lagi ' gumam Leon masih di dengar Zha.
" Apa kak ?" tanya Zha menjelaskan.
" Bagai mana ini pak, anakmu kalau marah seram tahu !?" bisik Rima pada Didik yang menyesal.
" Kak Leon tidak menanggapi sayang, tapi mereka yang mau sendiri, dan malah semakin sering datang " teriak Leon sambil memegang tangan Zha, tapi Zha menepisnya dengan kasar.
" Bohong, pantas saja kak Leon betah kalau di sawah " kata Zha.
__ADS_1
Leon masih berusaha memegang Zha, tapi selalu di tolak.
" Jangan sentuh Zha, Zha males sama buaya " kata Zha.