
Pria lumpuh
...****************...
" Hai, kau kenapa ? apa kau masih mencintainya ?" tanya Yuyun pada adiknya yang memperhatikan Zha membersihkan tubuh Leon, Aldo mengangguk.
" Kak Yuyun bantu Aldo ?" kata Aldo.
" Bantu apa ?" tanya Yuyun.
Aldo mengutarakan maksudnya dengan berbisik.
" Tidak Aldo, kak Yuyun bukan pembunuh, apa kau ingin kak Yuyun masuk penjara ?" tanya Yuyun.
" Ayolah kak Yuyun, Aldo janji akan membahagiakan Zha dan kedua putranya " Aldo memohon.
Yuyun masih tetap menolak, Ahirnya Yuyun luluh juga dengan adiknya.
" Kenapa kamu dek, Leon pasienku kenapa kau ada di sini ?" tanya Geo pada istrinya.
Yuyun langsung menyembunyikan obat suntik di belakangnya.
" Ti ti tidak mas !" kata Yuyun gugup.
Geo langsung memeluk Yuyun mengambil obat yang di sembunyikan di belakangnya yang akan di suntikan di infus Leon.
" Apa apaan kamu Yuyun, kau akan membunuhnya, apa kau tidak tahu resikonya, kau ingin keluarga kita hidup susah atau mati !" teriak Geo.
" Maaf mas, Aku kasihan melihat Zha, Aldo janji akan membahagiakan Zha dan kedua putranya mas " kata Yuyun.
" Jadi ini karena Aldo !?" bentak Geo langsung menuju ke arah Aldo.
" Mas, mas. . . !" teriak Yuyun, yang berlari memburu Geo, tapi Geo semakin crpat.
Yuyyn ngos ngosan, dan tiba - tiba ada yang menariknya dari belakang.
" Kau ingin membunuh keluargamu Aldo, dengan berurusan nyawa dengan Leon ?" kata Geo menggertak Aldo.
" Maksud kakak ?" tayya Aldo.
" Yuyun akan membunuh Leon demi kamu !" kata Aldo.
Belum sampai selesai memarahi Aldo, Geo mendapatkan notif dari nomor tidak di kenal, dengan foto Yuyun yang terikat tali dengan di kelilingi orang besar tinggi semua dan seram.
[ Kau ingin istrimu selamat, temui aku di lantai tiga rumah sakit ] itu isi pesanya, Geo berusaha menghubunginya, tapi sudah tidak aktif.
Geo langsung berlari menuju lift, dan menuju lantai tiga rumah sakit.
Geo langsung masuk ke ruangan yang gelap seperti gudang.
" Yuyun. . . . !" panggil Geo.
__ADS_1
Tapi Yuyun tidak bisa menjawab karena mulutnya tersumpal lakban.
" Tolong jangan apa - apakan Yuyun, dia tidak tahu apa - apa " kata Geo.
" Dia membahayakan putraku, !" kata seorang di kegelapan.
Geo membujuk agar melepaskan Yuyun, dan terus memohon sampai akan mengganti nyawa Yuyun dengan nyawanya, bila terulang lagi.
" Baiklah, aku beri kesempatan satu kali lagi, kalau sampai kamu mengulangi lagi, tidak hanya kamu, tapi seluruh keluargamu akan aku bunuh di depanmu !" kata orang itu, dan di angguki Geo.
Ahirnya Yuyun di lepaskan, tapi Yuyun masih berpikir, bukankah ayah Leon Angga, bukan orang lain.
" Sekarang kau dengar sendiri kan, bagaimana berurusan dengan Leon ?" tanya Geo
" Maaf mas, tapi Yuyun penasaran itu tadi siapa ?" tanya Yuyun.
" Itu ayah kandung Leon, sedang Leon tidak tahu yang dia tahu Anggalah ayahnya, dan ternyata Anggalah yang ingin membunuh Leon dan ke dua putranya " kata Geo.
" Kau tahu dari mana mas ?" tanya Yuyun.
" Angga menemuiku kemarin, tapi aku masih memandang Zha " kata Geo.
Arka dan Aksa bermain di brankar Leon, tiba - tiba teriak.
" Unda. . . ! unda . . !" memanggil Zha masih dengan nada cedal.
Zha yang masih duduk dengan Rima langsung lari ke arah brankar Leon.
" Apa sayang ?" tanya Zha.
Zha melihat ke arah tangan, dan benar, Zha lalu berbisik di telinga Leon.
" Kak, kami menunggumu kau kembali !" kata Zha.
Leon sedikit membuka matanya, dan Zha segera memanggil Geo yang menangani Leon.
Geo segera datang dan memeriksa Leon, ternyata Leon sudah melewati masa komanya, Zha menangis bahagia.
" Penantianku selama empat bulan tidak sia - sia, karena Zha yakin kak Leon masih hidup, dan masih menyayangi Zha " kata Zha di depan Leon sambil menggenggam tangan Leon di ciuminya, dan Leon tersenyum.
Saat Leon akan mengangkat tangan kananya, ingin mengelus kepala Zha tapi tidak bisa.
" Sayang kenapa dengan tubuhku, kenapa semua tidak bisa di gerakan ?" tanya Leon.
Zha memandang Geo, Geo segera memeriksa.
" Pak Leon mengalami kelumpuhan, tapi masih bisa di terapi, karena tidak ada tulang yang patah, bisa jadi ini karena koma terlalu lama " jelas Geo.
Zha menciumi wajah Leon, Leon merasa putus asa.
" Kau pasti sembuh kak, Zha akan selalu mendampingimu !" kata Zha menyemangati Leon.
__ADS_1
" Aku tidak berguna Zha, aku hanya mayat hidup !" teriak Leon histeris, membuat para perawat masuk dengan membawa obat penenang.
" Kak, ini srmua gara - gara Zha, kalau saja Zha tidak ceroboh, dan selalu mengingatkan kak Leon, semua ini tidak terjadi hu hu hu, bapak juga tidak akan meninggal !" tangis Zha.
" Hentikan menyalahkan diri sendiri Zha, ini sudah takdir " kata Rima menenangkan anaknya.
Roy menemui Zha dan menyerahkan beberapa berkas.
" Terus apa rencanamu ?" tanya Roy.
" Tunggu sampai kak Leon pulih !" kata Zha.
" Kenapa, tidak kau laporkan ke polisi ?" tanya Roy
" Terlalu gampang Roy, jika harus langsung di penjara, melihat apa yang di perbuat olehnya pada keluargaku " kata Zha.
" Apa kau akan balas dendam ?" tanya Roy.
" Tidak. . . ! aku hanya akan memberinya ganjaran, setiap perbuatan pasti akan dapat balasanya " kata Zha.
" Dan tidak mudah juga bagiku untuk, berbicara langsung dengan kak Leon, bahwa dia yang menjahatinya, dan mungkin ada kejahatan lain yang masih dia sembunyikan " kata Zha.
" Aku bangga padamu. . ! Pikiranmu tidak banyak yang memiliki, kau kecil cabe rawit " kata Roy.
" Selidiki lagi Roy, cari rahu tentang kak Leon. . . !" kata Zha.
" Baik nona Leon. . !" kata Roy sambil hormat seolah komandan, Zha tersenyum.
" Nah begitu, sudah lama aku tidak lihat lesung pipimu " kata Roy.
Leon sudah boleh di bawa pulang, dan walaupun lumpuh tapi Zha tidak mau menyewa perawat untuk Leon, cukup dia sendiri yang merawat Leon.
Setiap pagi putranya, selalu menemui ayahnya sedang di terapi bundanya, hingga sampai ada ke majuan, selama hampir satu tahun terapi, tangan dan sedikit bagian tubuhnya sudah bisa di gerakan.
Rima, sering ke tempat Zha untuk membantunya, Rima enggan tinggal bersama Zha, karena masih sayang dengan rumah peninggalan Didik.
Saat Zha masih menerapi kakinya, Leon memegang kepala Zha.
" Kenapa kamu tidak bosan Zha, pada pria lumpuh sepertiku ?" tanya Leon.
" Kak Leon, adalah pria hebat yang pernah Zha miliki, Zha mau sehatnya kak Leon, Zha juga mau sakitnya kak Leon " kata Zha.
" Aku sendiri sudah bosan dengan diriku sendiri, tidak ada kemajuan selama satu tahun " kata Leon.
" Kita masih melewati proses " kata Zha.
Pagi yang cerah, Leon yang sudah rapih oleh Zha keluar dari kamar.
" Kita mau kemana sayang !?" tanya Leon.
" Kita mau antar anak - anak sekolah !" kata Zha.
__ADS_1
Dua putra Leon, Arka dan Aksa keluar dari kamar, memakai baju seragam sekolah.
" Ayah. . . !" panggil keduanya yang sudah berumur tiga tahun.