
Kesetiaan
...****************...
" Tapi sempatkan kak Leon, pada keluarga ya, kami butuh kak Leon juga, karena terpenting kak Leon, bukan uang yang banyak " kata Zha.
" Kak Leon akan berusaha untuk kalian, yang terbaik untuk kalian " kata Leon.
" Besok kita survai rumah baru kita, tinggal beberapa furnitur katanya yang belum ada !" kata Leon.
" Anak - anak di bawa ?" tanya Zha dengan sumringah.
Leon mengangguk dengan tersenyum.
Zha tersenyum, dan memeluk Leon, " Sekalian belanja bulanan ?" kata Zha.
" Kita isi yang di rumah kita, minggu depan kita sudah pindah sayang !" kata Leon.
Zha yang senang langsung duduk di pangkuan Leon, dan mengalungkan tanganya di leher Leon, dan menciumi bibir Leon, ketiga temanya hanya menyaksikanya.
" Kau tidak malu dengan mereka ?" tanya Leon saat Zha menghentikan aksinya.
Zha reflek langsung turun dari pangkuan Leon, dan ketiganya masih melongo.
" Sudah biasa . . !" kata Adi, Zha hanya tersenyum malu.
Singkat cerita keesokanya, Angga menemui Leon.
" Kenapa tidak di rayakan saja, pernikahanmu Leon, biar semua media dan semua orang tahu kalau Leon angga reksa sudah memiliki istri dan anak !" kata Angga.
" Istri kamu terlihat polos dan menarik, walaupun sedikit hitam tapi manis makanya banyak yang naksir " kata Angga.
" Tidak perlu pi, karena kecantikan Zha hanya milik Leon !" jawab Leon.
" Dasar kamu ini ! kau posesif, tapi tidak mau memperlihatkan istrimu sendiri pada publik " kata Angga sambil berlalu karena sedikit emosi dengan putranya.
...****************...
Zha dan Leon sudah pindah ke rumah barunya, di sana Leon langsung laporan ke pada ketua pamong setempat sebagai warga baru.
Zha belanja sayur di depan rumah, karena di perkampungan yang cukup ramai, dan bermasyarakat, Leon tidak mau di komplek, karena sempit, dan biasanya tidak bermasyarakat, jadi Leon memilih di perkampungan yang masih nuansa alam, dan Zha juga ingin memiliki taman dan kolam renang sendiri dan ada juga kolam renang untuk anak - anak.
Jadi rumah Leon walaupun rumahnya tidak besar, tapi tempatnya luas, dan paling rapih di kampung itu.
Zha yang tadinya dari kampung langsung bisa beebaur dengan ibu - ibu yang lain.
" Mau beli apa neng ?" tanya tukang sayur.
" Ada daging sapinya mang ?" tanya Zha.
__ADS_1
" Tidak ada neng, kalau tidak pesan !" kata mang sayurnya.
" Besok bawakan ya mang, satu kilo setiap hari, nanti kalau libir Zha bilang, tapi yang segar, karena suami saya tidak mau yang frizeran nanti kalau tidak aku, yang ambil Art ku ya mang ?" jelas Zha.
" Beres neng . . !" kata mang sayur.
" Sudah punya suami dek ?" tanya seorang ibu.
" Iya buk. . . ! kebetulan saya warga baru di sini, kenalkan buk, nama saya Zha. . !" kata Zha sambil mengulurkan tanganya.
" Indah panggilanya buk tyo karena anak pertama tyo !" jelasnya di senyumi Zha
" Warti "
" Jami "
" Surti "
Para ibu mengenalkan masing - masing.
" Jadi kamu yang membangun rumah elit itu !?" tanya Indah.
" Iya buk !" jawab Zha.
" Hamil duluan ya dek, masih kecil kok sudah nikah ? apa istri muda atau simpenan ?" tanya Warti.
" Kan wajar para istri, kuwatir, takutnya dia simpanan dan menggoda suami kita " jawab Warti blak - blakan " Dan aku lihat berkali - kali banyak mobil mewah keluar masuk ".
" Bukan buk, aku suami sah, kebetulan suamiku juga masih muda dan tampan kok, pengisaha lagi, jadi ibu tidak usah kuatir, kapan - kapan main ya buk !? " kata Zha santai, sedang ibu yang bernama Warti mengelus dada merasa aman.
" Kamu juga, main tempat kita !" kata Indah.
" Ya buk !" kata Zha.
" Kenapa memilih di perkampungan dek ?" tanya Surti.
" Kebetulan di sini dekat dengan kantornya, dan sedikit dekat juga dengan kampung ibu saya " jelas Zha.
" Dan suami saya memilih perkampungan, karena suasananya masih asri " kata Zha.
Seorang cowok lewat melihat Zha tanpa berkedip dan bersiul, sampai menabrak tiang listrik di depanya, semua ibu tertawa karena tingkahnya.
" Zha duluan buk. . !" kata Zha, berpamitan.
" Orang kaya sepertinya, di lihat bajunya model sederhana tapi tidak murahan, itu bukan pasaran !" kata mang sayur.
" Hitam manis, punya lesung pipit lagi " kata Indah.
" Suaminya pembisnis dan punya ART, tapi sepertinya belum punya anak di lihat dari bodynya !" kata Indah.
__ADS_1
Zha paling senang, kalau melihat anak - anak kecil main ke rumahnya, karena membuatnya betah di rumah.
" Kak Zha. . adek suka main di sini, sudah kenyang, main sama adek ganteng, tambah lagi ada kolam renangnya lagi " kata anak sekitar lima tahunan.
" Ya, tapi pamit dulu sama orang tua ya ?, dan jangan ke lamaan main, nanti lupa belajar, kak Zha juga suka kalau kalian main ke sini ! " kata Zha pada anak sekitar sepuluh anak.
" Kak Zha cantik, dapat salam dari kakaku !" kata anak yang lain.
" Bilangin sama kakakmu, kak Zha sudah punya kak Leon yang tampan !" kata Zha sambil tersenyum.
" Sudah sana berenang,! kak Leon datang, tumben pulang siang !" suruh Zha.
" Setampan apa sih kak Leon ?" tanya seorang anak yang penasaran.
Semua mengintip dari balik pintu ke arah kolam renang.
" Wow, memang tampan, kak Leon !" kata seorang anak.
" Kalau aku besar aku ingin seperti kak Leon, tampan, pengusaha, pintar, banyak uang punya istri cantik lagi !" kata anak laki - laki.
Leon yang datang, langsung mencium, kening Zha, dan mendengar bisikan anak - anak.
" Kok, banyak anak sayang ?" tanya Leon heran.
" Anak tetangga, hampir setiap hari main ke sini, bisa buat hiburan Zha juga !" kata Zha sambil membuatkan kopi Leon.
Leon tersenyum dan melirik pada anak - anak. yang paling kecil sekitar umur lima tahun, dan paling besar sembilan tahun.
Anak - anak yang di lirik, langsung lari ke kolam renang, dan berenang.
" Burian mandinya, kak Leon punya sesuatu buat kalian !" teriak Zha pasa anak - anak.
Seketika anak - anak berhenti berenang, dan akan pulang, Leon memberikan bingkisan kecil untuk mereka yang isinya hanya boneka mungil dan cemilan.
Di kampung ini Zha merasa damai, Adi dan Mita pun sering bermain ke sana.
Saat Leon ke kantor, Zha bermain tempat RT setempat bersama anaknya dan satu baby sisternya, dan di sana bertemu buk RT.
" Oh nak Zha, kirain siapa ?" kata buk Rt.
" Iya buk, ingin keliling kampung !" kata Zha.
" Waw, putramu tampan - tampan sekali sekali, wajahnya seperti ayahnya " puji bu Rt. Zha hanya tersenyum.
Mereka saling cerita, berbagi pengalaman.
" Apa kamu tidak curiga Zha dengan suamimu, dia tampan, pintar bisnis, dan di sana banyak wanita penggoda " bu Rt.
" Kalau rasa itu kadang muncul sih buk, tapi Zha percaya, kalau kak Leon setia dengan Zha, dan kasih sayangnya pada kedua putranya tidak akan berubah !" jelas Zha.
__ADS_1