ISTRI KECILKU KEKASIH ADIKKU

ISTRI KECILKU KEKASIH ADIKKU
BERTEMU CALON MERTUA


__ADS_3

Bertemu calon mertua


...****************...


Arief kembali kembali ke cafe tampat Zha berkumpul. dan tidak lupa pamit kepada Lepn dan Juga Koh.


" Arief duluan Koh, dan kak Leon " kata Arief sambil mengangkat tanganya danvmenunjukan telapak tanganya.


" Ya hati - hati " kata Koh dan juga Leon.


" Semoga sukses " kata Leon sambil menepuk pundak Arief.


Arief hanya menjawab dengan bahasa israt. mengacungkan jempolnya ke atas.


Sesampainya di Cafe. Zha langsung di buat kaget oleh Arief, duduk di bawah, di depan Zha.


" Rif, jangan gitu, malu di pandang orang " kata Zha.


Adi dan Mita yang duduk satu meja juga heran dengan tingkah Arief.


" Zha. . " Arief menjeda omonganya " Aku tahu, aku bukan laki - laki sempurna untukmu, Aku tahu bukan laki - laki terbaik untukmu, dan aku tahu aku hanya seorang bajingan yang inginmendapatkan gadis baik sepertimu, tapi Izinkanlah aku untuk selalu mencintaimu dan Izinkanlah aku untuk bosa lebih dekat mengenalmu, Izinkan aku menjadi imamu, aku Arief angga reksa ingin meminangmu, terimalah ini jika kau menerima pinanganku, buanglah sejauh mungkin jika kau tidak ingin bersamaku ?" kata Arief sambil memberikan cincin, yang baru dia beli.


" Terima . . . !"


" Terima. . . !"


" Terima. . .!"


Teriak teman Zha yang ada di sekelilingnya.


Leon yang baru datang kaget, ternyata wanita yang di pinang Arief, adalah wanita yang akan dia pinang, hancur sudah harapan Leon untuk mendapatkan Zha, gadis pujaanya. Mungkin jika orang lain Leon tidak akan mundur, tapi ini Arief adik kandungnya sendiri yang dia berikan kasih sayang mencintai gadisnya, tidak mungkin Leon merebutnya. Remuk hati Leon bagaikan pecahan kaca, bertambah lagi Leon melihat wajah Zha sangat nencintai Arief.


Zha meneteskan air mata, tidak menyangka kalau Arief menepati janjinya, kalau Zha lulus akan melamarnya.


Zha mengangguk " Iya aku mau " Jawab Zha, membuat Arief berdiri dan memeluk Zha.


" Terima kasih sayang, kau telah menerimaku apa adanya " kata Arief sambil mencium pucuk kepala Zha. dan langsung memakaikan cin cin di jari manis Zha.

__ADS_1


poook


poook


poook


Semua teman Zha tepuk tangan, sedang Leon mundur perlahan, sebelum Arief menyadari kalau dia ada di antara kerumunan itu.


" Besok kamu harus siap ya, bertemu orang tuaku " kata Arief, yang belum bisa melepas tangan Zha.


Zha hanya mengangguk dengan senyum bahagia.


Leon di apartemenya, dia enggan pulang kerumah, takut keluarganya tahu akan kesedihanya.


...****************...


Zha yang telah siap di datangi Arief sudah rapih, kebetulan pagi ini hari minggu, jadi ayahnya libur tidak ke pabrik.


Brumm, brumm, bruum


" Kenapa kamu bawa mobil sport, milik majikan papimu ? ini kan hari minggu, apa tidak di pakai liburan ?" tanya Zha saat menyambut Arief di halaman rumahnya.


" Sudah mulai cerewet ini calon makmumku " kata Arief sambil mencubit hidung Zha, sedangkan Zha, mengerucutkan bibirnya sebel.


" Sebentar lagi aku jadi alarm mu !" teriak Zha yang sudah di tinggal Arief menuju pintu rumah Zha. sedangkan Arief hanya senyum melihat tingkah Zha.


Arief, mengucap salam dan orang tua Zha, menyambut Arif dengan senyum,


" Om sudah dengar cerita Zha, Apakah kamu serius nak, ingin meminang anak om ?" tanya Didik pada Arief.


" Iya om, aku sudah yakin sama Zha " jawab Arief.


" Apa kamu tidak menyesal, Zha itu masih anak kecil, apa kamu tidak kerepotan kalau bersama Zha ?" tanya Didik meyakinkan.


" Zha todak pernah merepotkanku om, malah justru aku yang sering merepotkanya " kata Arief.


" Om hanya mewakili isi hati Zha, Zha ingin mengenal lebih dekat dulu, dia masih ingin mandiri dulu " kata Didik.

__ADS_1


" Iya om, itu juga sudah pernah di bahas sama kita om, apapun keputusan Zha aku akan siap menunggu, sambil meneruskan kuliahku di luar negri " kata Arief.


" Ya sudah, kalau nak Arif sudah tahu " kata Didik.


Setelah puas berbincang-bincang Arief pamit undur diri membawa Zha ke rumahnya di perkenalkan Zha kepada orang tuanya.


Di dalam mobil Zha deg degan karena ini pertama kali bertemu dengan ibu Arief.


" Rif . . . " kata ha, tidak meneruskan omonganya.


" Kenapa sayang, kamu gerogi ua mau ketemu orang tuaku " tanya Arief menebak, Zha hanya mengangguk.


" Mamiku itu seperti nenek sihir, galak, serem lagi " goda Arief.


" Pasti aku bukan menantu pilihanya " kata Zha dengan wajah kuatir.


" Ha ha ha ha " tawa Arief.


" kenapa ketawa " tanya Zja kuatir.


" Aku hanya bercanda sayang, " sambil memegang tangan Zha yang sebelah, yang sebelahnya masih mengemudi. "Ibuku itu baik cantik, dan juga tamah " kata Arief menghibur Zha.


Perasaan Zha yang tidak karuan membuat dia selalu serba salah, Arief masih fokus menyetir dan tangan satunya menggenggam tangan Zha.


" Assalamualaikum ? " teriak Zha dan Arief bersamaan di depan rumah Arief dan di sambut bik Sumi.


Zha merasa heran di depan rumah besar dengan dua lantai halaman yang luas ada taman yang indah dan terurus, rapih kalau di bandingkan dari rumahnya mungkin sepuluh kali lipat.


' Siapa sebenarnta Arief, apakah orang tuanya kerja di sini juga ? tapi katanya kedua orang tuanya masih libur ' tanya Zha di dalam hati.


Bi sumi keluar menyambut Zha dan juga Arief.


" Ibu, ibunya Arief ya " tebak Zha sambil menyium tangan bi Sumi, Arief hanya tersenyum.


" Den Arief apa ini maksudnya ?" tanya bi Sumi penasaran sambil menarik tanganya dari Zha.


" Kok den ?" tanya Zha sambil memandang Arief dan bi Sumi.

__ADS_1


__ADS_2