
Jadi istri sultan
...****************...
" Kau yang membuangnya, kau juga yang menyesalinya! kau yang mencampakanya dan kau juga yang gila " kata Roy.
Roy ahirnya keluar dari apartemen itu dan pulang ke panti, sampai di panti Roy melihat Zha belum tidur.
" Dari mana Roy, kamu mabok ya, Kau bau alkohol Roy, Hoekk . . .!" tanya Zha bertubi - tubi dan ahirnya ke kamar mandi memuntahkan isi perutnya.
Roy segera cuci dan ganti baju dan menemui Zha.
" Aku tidak mabuk Zha, suamimu yang mabuk, tadi aku melihatnya di club malam, dia akan tidur dengan wanita malam, untung saja ada aku, kalau gitu nanti kamu barengan sama Ha ha ha !" belum selesai bocara Roy sudah tertawa membayangkanya.
" Dasar mesum ?" kata Zha
" Kan cuman ingatkan ha ha ha !" tawa Roy lagi, Zha hanya menanggapinya dengan senyum
" Tapi yang di panggil namamu, sepertinya dia sangat merindukanmu " cerita Leon.
" Ah tidak usah lebay Roy. ternyata kamu orangnya asik jiga ya, humoris ?!" kata Zha.
" Tapi kenapa kalau di depan Arief sama kak Leon kau orangnya sangar ?" tanya Zha.
" Kita lihat posisi Zha, di mana saat tugas di mana saatnya santai ?" jelas Roy.
" Ngomong - ngomong, apa sih yang kamu suka dari Leon, apa karena tampanya ?" tanya Roy yang di gelengin Zha.
" Biasanya kaum hawa mencintai, karena tampan dan kekayaanya !" kata Roy.
" Aku kan luar biasa Roy ha ha ha !" tawa Zha.
" Ha ha ha !" di sambut tawa Roy.
" Terus apanya ?" tanya Roy.
" Kejujuranya, karena kak Leon tidak pernah pasang wajah munafik, jika dia marah, dia tunjukan wajah garangnya, dan dia suka, dia tunjukan wajah imutnya, tidak seperti manusia pada umumnya. di depan kita dia baik, dibelakang dia membidik " jelas Zha.
Roy hangak memgangguk - angguk.
Sedang di tempat lain, Leon mengadu pada orang tuanya, tapi yang di rumah hanya ada Dahlia, bukanya dapat solusi, Dahlia, malah marah.
__ADS_1
" Kamu bodooh Leon, kau tahu, Bagaimana perjuangan Arief mendapatkan Zha, kau hanya beeusaha membuatnya jatuh cinta saja " kata Dahlia.
" Kau tampan, kau kaya, tapi tidak semua wanita mau menerimamu apa adanya dengan kondisi kamu yang seperti ini ?" tanya Dahlia.
" Maksud mami ?" tanya Leon penasaran.
" Kamu mandul kan, walaupun kau dan Zha merahasiakan, mami punya naluri seorang ibu Leon, dan saat kamu di rumah sakit, kau menjalani operasi kecil, di saat itu mami lihat ketulusan Zha dan ketelatenan Zha mengurusmu, apa mungkin dia berhianat ?. Mami menemukan ini di mobilmu " kata Dahlia menunjukan surat dari dokter Rudi.
" Kalau kamu sudah tidak suka dengan Zha, jangan kau usir, tapi kembalikan dia pada keluarganya, karena Zha masih punya orang tua bagaimana perasaan orang tua Zha? !" jelas Dahlia sambil duduk dan menangis.
" Leon masih mencintai Zha mi, tapi Zha menghianati Leon mi !" kata Leon.
" Apa kamu sudah membuktikan itu penghianatan, kamu hanya lihat dari pesan itu, tanpa mendengarkan penjelasan istrimu dahulu !" kata Dahlia masih mengeluarkan air mata.
" Cari Zha, Leon, mami sangat menyayanginya, walaupun kamu sudah tidak peduli, dia masih jadi anak mami !" pinta Dahlia mengiba.
Leon keluar rumah dalam keadaan gontai, benar juga yang di katakan Maminya.
Di panti pagi - pagi sudah ada keributan kecil.
" Roy, di mana alpukatku yang di kulkas ?" kamu makan ya, kalau mau beli sendiri !" omel Lusi pada Roy.
" Waw mulusnya. . . !" gmam Roy yang masih terdengar oleh Lusi yang ada di dekatnya.
" Jaga matamu Roy, dia istri orang " kata Lusi sambil mengusap wajah Roy.
Linda mengambil handuk dan menghampiri Zha dan melilitkan handuknya di pundak Zha yang masih menikmati perawatanya Zha yang kaget lalu bertanya.
" Ada apa mbak ?" tanya Zha penasaran.
" Ada buaya darat !" bisik Linda.
" Bukanya hanya ada kita bertiga yang di rumah ?" tanya Zha.
" Roy belum kerja " jawaban Linda mengagetkan Zha dan segera mencengkram erat handuk yang di kasih Linda, menutupi pahanya dan segera masuk ke kamar dan mandi.
Setelah selesai mandi Zha menemui Lusi, karena tidak enak tadi dia mengambil alpukatnya Lusi, membuat Lusi menyalahkan Roy.
" Lus, maaf ya aku tadi mengambil alpukatmu ? Zha janji, kalau Zha sudah kerja nanti Zha ganti !" kata Zha sambil mengankat tanganya berbentuk v.
" Kenapa harus ganti di sini bebas kok ?" kata Lusi.
__ADS_1
Roy meraih pundak Zha.
" Hai, kenapa harus ganti, kamu tahu semua fasilitas ini adalah milik kamu, ini semua hasilnya Arief dan atas nama kamu, kalau kamu bilang tidak, semua orang akan pergi dari sini !" jelas Roy.
" Maksud kamu ?" tanya Zha.
" Suatu hari nanti kamu pasti tahu " jelas Roy.
" Roy, besok antarkan aku ke tempat kak Leon ya ?" kata Zha.
" Kamu yakin ?" tanya Roy.
" Pasti yakin, semakin lama kita menghindar, masalah tidak akan kelar, masalah bukan di hindari, tapi di hadapi agar semua segera kelar !" jelas Zha.
" Aku suka komitmenmu !" kata Roy.
" Bagai mana kalau kita perawaran ke salon hari ini ?" tanya Lusi mengajak Zha.
" Tidak Lus, !" tolak Zha.
" Kenapa karena kamu tidak punya uang ! tenang saja aku yang bayarin, ini juga uangmu tahu " kata Lusi.
" Bukan itu aku tidak biasa perawatan di salon, paling, kalau maminya kak Leon yang ajak !" kata Zha.
" Kenapa, apa Leon pelit ?" tanya Lusi penasaran.
" Tidak, kak Leon selalu memberi jatah mingguan itu hanya untuk kebutuhan aku, walau aku di jatah mingguan, akukan sering perawatan sendiri di rumah, dia yang membelikan bahanya, masalah dapur juga dia yang belikan, kalau dia sempat, pasti mengajak Zha ke mall belanja isi kulkas, dan setiap pulang kerja selalu bawa cemilan, jadi Zha di perlakukan seperti anak kecil yanf masih sika jajan " cerita Zha sambil senyum.
" Emang berapa jatah mingguanmu ?" tanya Lusi penasaran.
" Kadang sepuluh, kadang dua belas juta " kata Zha dengan polos membuat Lusi melongo.
" Yang benar Zha, ? itumah gajihku dua bulan, terus biaya kuliah kamu sendiri ?" tanya Lusi mengintrogasi.
" Sudah di tanggung kak Leon, itu hanya uang jajan Zha, atau keperluan dan kekurangan Zha, tambah lagi kalau Zha mau tempat ibu, pasti di kasih uang kes, kadang dua sampai lima juta, karena di sana jauh ATM, alasan kak Leon " cerita Zha.
" Nikmat banget jadi istri sultan ya ?" Lusi membayangkan.
" Mungkin memang paling enak menilai kehidupan orang lain, tapi kau tidak berperan di dalamnya, kebahagiaan tidak di ukur dari materi " kata Zha.
" Kau benar Zha !" sambung linda.
__ADS_1