
Mak lampir
...****************...
Sesampainya di rumah, Zha menyiapkan sayuranya, supaya enak nanti kalau siap masak.
Leon memeluknya dari belakang, dan membalikan tubuh Zha, menggendongnya, mendudukanya di meja masak.
" Sayang. . !" kata Leon.
Rima dan Didik yang baru datang tidak jadi masuk karena melihat anaknya sedang asik.
" Jangan ganggu mereka, biar mereka betah di sini " kata Didik.
Rima hanya mengangguk.
Leon mengeluarkan lidahnya, memainkan bibir Zha.
Zha masih tidak mau membuka, tangan Leon menelusup di paha Zha, membuat Zha menggeliat dan.
" Ahh. . . ! " dessah Zha saat jari Leon membobol lubang surganya.
Leon mencari kesempatan memasukan lidahnya dalam mulut Zha.
Zha yang tadinya pasrah sekarang menikmatinya.
Leon menggendong Zha ke kamar dan meluncurkan aksinya.
Rima dan Didik, baru masuk.
Setelah selesai di kamar, dan merilekan kaki habis berhubungan, Zha mengambil handuk dan lari ke kamar mandi dekat dapur, Leon menyusul dari belakang, di kamar mandi dua sejoli yang sudah resmi suami istri bercanda tertawa menguasai ruangan kamar mandi.
Leon yang belum puas, menuntaskanya lagi, membuat Zha mendessah lagi.
Zha yang sudah lemas, segera di tangkap Leon, dan di dudukan, Leon memandikan Zha dengan telaten, seperti memandikan anak kecil.
" Kan Zha sudah bilang, Zha tidak kuat kalau berdiri " kata Zha.
" Sudah, yang penting sudah pias semua sayang " kata Leon sambil mengeramasi rambut Zha.
Leon meraih handuk Zha, dan melilitkan di tubuh Zha.
Leon juga segera meraih handuknya dan melilit sampai pinggang.
Leon menggendong Zha keluar kamar mandi, Rima yang tadinya mau pergi dari dapur, tidak keburu, keburu Zha dan Leon keluar.
Leon sangat malu, saat Bertemu Rima. Leon semakin erat mendekap Zha.
" Ibuk. . . !" kata Leon.
Zha langsung menoleh ke arah ibunya.
" Lepasin Zha kak ?" bisik Zha.
" Kalau kamu ku lepaskan aku tambah malu, dekap tubuhku yang erat ??" balas bisik Leon.
" Leon, Zha, kamar mandi kalian sudah bisa di pakai " panggil Didik sambil senyum.
__ADS_1
" Iya pak " jawab Leon.
Leon segera masuk ke kamar, dan menaruh Zha ke kasur.
" Kak, Zha ngantuk " kata Zha yang masih terlilit handuk.
" Boleh ngantuk, tapi tutupi lubang surgamu, aku tidak mau orang lihat punyaku ?" kata Leon sambil menunjuk milik Zha.
" Tapi masih keluar cairanya kak Leon " protes Zha.
Leon mengambil tisu.
" Mau apa kak ?" tanya Zha.
" Mau kak Leon bersihkan?" jelas Leon.
Zha hanya menurut saat Leon membersihkan miliknya, setelah selesai Leon mencium Zha, ternyata Zha sudah tertidur.
Leon hanya bisa geleng kepala, menyelimutinya.
" Sayang, kak Leon pergi dulu " pamit Leon sambil mencium kening Zha lagi.
Leon lalu pergi mengendarai motor sportnya.
...****************...
Besoknya Adi datang dengan membawa sayuran panenanya sendiri.
" Sayuran tidak usah beli, di rumah banyak " jelas Adi.
Leon datang dari sawah bersama Rima dan Didik dengan bawa cangkul. dan sampai di dekat Zha langsung mencium kening Zha lalu pamit mandi dulu.
" Alien kota apa bisa nyangkul Zha ?" bisik Adi pada Zha.
" Yang penting berusaha untuk menafkahiku ?" kata Zha.
Setelah Leon mandi, langsung ikut gabung dengan Zha dan Adi. Sambil menyeruput kopi buatan istrinya.
Mita datang dengan senyum sumringah.
" Zha aku mau investasi di usahamu ?" kata Mita yang baru saja datang.
" Berapa ?" tanya Zha langsung serius menanggapinya.
" Sepuluh juta " kata Mita.
" Ha ha ha. . . buat sewa pojok restoranya saja kurang Mit !?" kata Zha di senyumi Adi dan Leon
" Kan lumayan buat beli garamnya Zha !" kata Mita memelas.
" Benar kata Mita sayang, !" kata Leon.
" Itu kan suamimu saja mendukung, dan kabar baik lagi, aku akan mebantu di tokomu " kata Mita.
" Kenapa ?" tanya Adi.
" Aku Risain, di kantor ada pengurangan karyawan, karena Reksa group ada masalah, dan di ambang bangkrut " kata Mita.
__ADS_1
" Dan satu lagi kabar, Arya, suami Ima dia juga jadi korban pengurangan karyawan ?" lanjut Mita.
" Berarti kamu di pecat !" kata Adi.
" No no no, aku tidak mau di pecat terahir, nanti tidak dapat uang pesangon " kata Mita.
" Papi sebenarnya dari dulu, tidak bisa bisnis " kata Leon.
" Tapi kenapa bisa punya perusahaan sebesar itu ? dan yang membiayai kak Leon kuliah ?" tanya Zha.
" Aku dapat biaya siswa, dan yang mengajariku bisnis, Deon andreas, kita akrab karena nama belakang kita sama, dan pesan beliau, jangan mudah percaya dengan siapapun "
" Walaupun dengan dia yang telah mengajarkanku bisnis, dia memintaku merahasiakan identitasnya, makanya aku tidak menyangka kalau dia seorang mafia, kalau masalah perusahaan, aku juga heran, mungkin dari orang tua papi " cerita Leon.
" Tapi kenapa kak Leon percaya padaku ?" tanya Zha.
" Karena kamu, aku yakin, dengan perjuanganmu, dan cintaku lebih kuat padamu, !" kata Leon sambil menarik Zha dalam pelukanya dan menciumnya.
" Apa beliau tidak punya anak istri ?" tanya Zha lagi.
" Tidak tahu, dia tertutup tentang keluarganya, tapi yang aku heran, anaknya, punya tanda lahir sepertiku " kata Leon.
" Tidak usah bahas itu, kita kembali ke pembahasan awal " kata Leon.
" Ya sudah, Adi kamu mau investasi apa ?" tanya Zha pada Adi.
" Aku investasi tenaga saja Zha, karena aku tidak punya uang " kata Adi.
" Ya sudah besok kita atur " kata Zha.
" Baik buk bos " jawab Adi dan Mita bersamaan.
" Sayang besok, kak Leon tidak bisa mengikutimu !" kata Leon.
" Kenapa ?" tanya Zha yang penasaran.
" Kak Leon, ada bisnis lain, waktunya kamu tunjukan skilmu, tidak selamanya kak Leon bisa menghidupimu, ada waktunya kau menghidupiku, makanya tunjukan kemampuanmu !" jelas Leon.
" Tapi tenang, besok kak Leon bisa antar dan jemput kamu " kata Leon.
" Tapi janji ya, ?" kata Zha.
Leon mengangguk.
Adi mendekati Mita yang sedang bermain ponsel.
" Mit. . . !" panggil Adi.
" Emmm. . . !" jawab Mita yang masih fokus pada ponselnya.
" Maukah kamu jadi pacarku ?" tanya Adi.
" Tidak usah bercanda ?" kata Mita yang masih fokus pada ponsel.
" Aku serius ?" kata Adi merebut ponsel Mita.
" Di, kau mau pacaran sama mak lampir ?" tanya Mita.
__ADS_1