
Donor darah
...****************...
Angga yang pusing mencari Leon keseluruh rumah sakit, karena Dahlia sakit, mulai putus asa.
" Rumah sakit mana kalian !?" kata Angga, yang mulai putus asa, sedang ponsel Leon tidak aktif.
Karena Angga tahu dari tetangga kalau Zha lahiran.
Ahirnya Angga bertanya pada tetangga lagi, menanyakan rumah sakit terdekat.
Angga langsung mengabari Dahlia, Dahlia jadi terlihat sehat saat dengar kabar Zha telah melahirkan putra kembar Leon dengan selamat.
Dahlia langsung meminta di jemput dan ke rumah sakit Zha di rawat.
Leon masih di tahan oleh Aldo dan Adi, karena akan menerobos masuk keruangan Zha di tangani.
" Lepas. . . !" bentak Leon yang mulai menurun emosinya.
Saat Leon di lepas, dia seperti tidak peduli, dan langsung lari menuju ICU ruangan Zha di tangani, seperti orang gila.
Untung saja Adi, dan Didik cepat sigap, mereka menghadang Leon di bantu beberapa pria di sana.
" Sabar nak. . . ! ! !" kata pak Minto yang ikut menahan Leon.
" Lepas. . Zha istriku, dia butuh aku . . !" Amarah Leon dengan mata memerah.
" Sadar Leon, bukan kamu saja, yang bersedih, tapi bapak juga, ini kedua kalinya anak bapak, kritis karena melahirkan !" kata Didik.
Kaki Leon terasa lemas, dia terduduk dengan bersender di tembok.
Dia mulai berdiri, Adi dan Aldo mulai waspada.
" Aku suami payah. . seharusnya aku menunggumu berumur Zha untuk mengandung anaku . . .Ahhhh h h!" teriak Leon seperti kesetanan.
Bugh
bugh
Bugh. . . !
Leon meninju tembok, sampai tanganya berdarah karena frustasi.
" Sadar kak, sadar kak, jangan kau sakiti dirimu sendiri, ini sudah takdir !" bentak Adi sambil menahan tangan Leon.
Setelah Leon tenang, Adi menuntun Leon ke mushola masjid.
__ADS_1
Sedang Mita dan Rima menangis tiada henti di depan pintu ICU di ruangan Zha.
Sedang dokter di dalamnya mengerahkan seluruh jiwa dan pikiranya pada Zha.
" Bagai mana mas. . !" tanya Yuyun pada suaminya yang masih memasang beberapa alat di tubuh Zha.
" Susah, denyut nadinya mulai melemah !" teriak Geo.
Tiiiiiiiit tit . . ! garis hampir lurus di layar defibrillator tanda denyut jantung Zha semakin melemah.
" Ambilkan AED. . .! " teriak Geo dengan panik.
AED (automated external defibrillator) adalah sebuah alat medis yang dapat menganalisis irama jantung secara otomatis dan memberikan kejutan listrik untuk mengembalikan irama jantung jika dibutuhkan. Alat ini berfungsi untuk menolong orang yang mengalami henti jantung
Defibrilator adalah stimulator detak jantung yang menggunakan listrik dengan tegangan tinggi untuk memulihkan korban serangan jantung. Defibrilator eksternal otomatis dapat digunakan dengan cara diimplan atau ditanam dalam tubuh ataupun dapat juga digunakan sebagai alat eksternal biasa.
Yuyun dan Geo semakin panik, dan menempelkan berkali - kali, tapi tidak berhasil.
Tiiiiiiittttt. . . ! tanda Zha sudah tidak bernyawa lagi.
Yuyun putus asa.
" Urus jenazahnya, dan lalu bereskan semua barang kalian kita keluar dari rumah sakit ini " perintah Yuyun pada para perawat dengan mengeluarkan air mata.
" Apa maksudmu yun ?" tanya Geo.
" Kita pasti bisa mencari jalan keluar Yun, tidak gegabah seperti ini, kita bicara baik - baik denganya !" Geo masih membujuk istrinya.
" Leon adalah pria, keras kepala, tidak ada orang yang bisa nengalihkan keputusanya, hanya Zha, dan Zha sekarang telah menutup mata !" jelas Yuyun sambil membuka pintu.
Beberapa orang yang mendengar perkataan Yuyun langsung bertanya.
" Apa yang kamu bilang tadi Yun !? yang kau katakan tadi bonhongkan !" tangis Rima pecah.
" Maaf bu lek, kita sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi allah berkehendak lain " kata Yuyun membuat kaki Rima lemas, tapi Didik segera menopangnya.
" Sabar buk, , , !" kata Didik.
" Anak kita pak !" kata Rima.
" Kita harus kuat demi Leon !" kata Didik.
" Ini semua salah Yuyun, Yuyun tidak teliti, ternyata di rahim Zha masih ada gumpalan, Yuyun mengeluarkan sudah terlambat !" kata Yuyun sambil menunduk dan mengeluarkan air mata.
Adi yang tadinya sedang menunggu Leon di pintu mushola, langsung lari, saat melihat pintu ruangan Zha terbuka dan mendengar penjelasan Yuyun, tidak terasa air matanya menetes.
Leon saat di kurung di mushola sama Adi, berwudlu, dan berdoa untuk keselamatan istrinya.
__ADS_1
Tiiiiiit tit. . !
" Dokter Yuyun, jantungnya sedikit berdetak lagi !" panggil salah satu perawat, yang akan melepas selang infus daei tubuh Zha.
" Kita masih ada harapan !" kata Yuyun pada Geo.
Geo langsung memasang selang yang tadi sempat di lepas.
" Darahnya yang kurang, kita butuh donor darah " jelas Yuyun.
Yuyun langsung keluar, memberi kode pada keluarganya.
Leon sudah keluar dari musholanya.
" Ini mukjizat, tapi saat ini Zha butuh donor darah !?" kata Yuyun.
Semua tersenyum lega.
" Saya sanggup ! darahku sama dengan Zha !" jawab Adi sambil menunjukan tanganya.
" Aku juga bersedia !" jawab Jak.
" Baoak tidak bisa kak, karena bapak pernah menderita pernyakit " jawab Adi.
Leon hanya bisa diam.
' Kenapa di saat seperti ini aku tidak bisa membantu istriku, aku sungguh suami yang tidak berguna ' gumam Leon sambil mengacak rambutnya.
" Aku bisa " kata Dahlia yang baru datang.
" Aku juga bisa " kata Didik.
" Mami, papi. . !" kata Leon yang kaget dengan kehadiran Angga dan Dahlia.
" Untuk apa kalian kemari, mau menertawakan aku, karena aku tidak menuruti perintah kalian, dan mami bangga ingin segera memiliki cucu secepatnya, tanpa tahu resiko Zha " kata Leon dengan tatapan kebencian pada ke dua orang tuanya.
" Mami kangen kalian Leon, mami ingin kita seperti dulu, berkumpul bersama " kata Dahlia memegang pundak Leon. Tapi segera Leon tepis.
" Tidak perlu, Leon bukan anak kecil lagi, yang di kasih permen langsung mau ikut ?" kata Leon.
Rima mengelus pundak Dahlia, dan memberi pengertian, dan menceritakan yang terjadi pada Zha.
Dahlia mengerti, karena hanya Zha yang bisa membujuk Leon.
Setelah keadaan Zha mulai stabil, Yuyun memindahkan Zha di ruang rawat lagi, hanya terbatas yang menunggu, tidak boleh banyak orang, karena Zha masih di bilang koma.
Leon yang tidak bisa meninggalkan istrinya semenit pun, dia ingin mendampingi istrinya setiap waktu.
__ADS_1