
Kumel
...****************...
" Hanya membantu pekerjaan bapak, hanya ingin cari hiburan, ya sekarang hiburan sebentar lagi nyoba, tidak ketahuan, semakin handal !" omel Zha yang sudah tersulut emosi.
' Gunung merapi meletus lagi ' gumam Leon masih di dengar Zha.
" Apa kak ?" tanya Zha menjelaskan.
" Bagai mana ini pak, anakmu kalau marah seram tahu !?" bisik Rima pada Didik yang menyesal
" Kak Leon tidak menanggapi sayang, tapi mereka yang mau sendiri, dan malah semakin sering datang " teriak Leon sambil memegang tangan Zha, tapi Zha menepisnya dengan kasar.
" Bohong, pantas saja kak Leon betah kalau di sawah " kata Zha.
Leon masih berusaha memegang Zha, tapi selalu di tolak.
" Jangan sentuh Zha, Zha males sama buaya " kata Zha.
Zha langsung masuk kamar dan segera menutupnya, sedang Leon masih teriak - tariak di luar.
" Sayang, kak Leon hanya punya kamu !" kata Leon sambil terduduk di depan pintu kamarnya.
" Pak anakmu marah beneran !" kata Rima pada Didik.
" Biarin, mesalah besar saja bisa di selesaikan, hanya seperti ini gampang !" kata Didik menyemangati menantunya.
Zha yang di dalam kamar masih diam, masih menggerutu.
" Awas kak Leon, aku akan hajar kamu kalau ketahuan selingkuh " ancam Zha di dalam kamar, yang tidak terdengar oleh siapapun.
10 menit.
20 menit
30 menit,
Tidak terdengar suara Leon di luar, Zha mengintip dengan mengeluarkan sedikit kepalanya, menyapu pandangan ke seluruh ruangan tapi tidak di dapati Leon yang ada hanya Rima dan Didik sedang ngobrol, Zha lalu keluar.
" Buk, di mana kak Leon ?" tanya Zha pada Rima.
" Mungkin menemui gadis - gadisnya, pusing di rumah, istri sudah jelek, tukang marahan lagi " jawab Rima.
" Hiks hiks hiks !, apa Zha anak tiri ibu dan bapak,? sampai ibu dan bapak tega membiarkan menantunya selingkuh, apa Zha anak yang di temukan di jalan hiks hiks. . . !?" tangis Zha dengan keras di depan kamarnya seperti anak kecil. Sedang Didik dan Rima hanya tersenyum.
" Hai, jangan keras - keras, malu di dengar terangga, seperti di siksa saja !" kata Leon dari belakang Zha.
Zha mengelap air mata dan ingusnya dengan kasar, Leon yang melihat tingkah istrinya menahan tawa dan memeluk Leon.
" Kak Leon dari mana !?" bentak Zha.
__ADS_1
" Dari kamar mandi belakang !" jawab Leon.
" Benar. . ?" tanya Zha.
" Kalau tidak percaya, coba periksa sidik jari kak Leon !" kata Leon.
" Ngapain kamu nangis !?" tanya Leon.
" Kepengen,! sudah lama tidak nangis !" jawab Zha membuat Leon tertawa.
" Mau kemana kak ?" tanya Zha saat Leon melangkahkan kaki menuju keluar.
" Mau keluar, cari es doger ! mau ikut ?" jawab Leon iseng.
" Ikut. . !" kata Zha sambil lari.
" Ganti baju, cuci muka dulu !" kata Leon menyuruh Zha yang masih memakai kimono tidur.
" Baju Zha, tidak ada yang muat kak !" teriak Zha.
Rima yang melihatnya jadi kasihan.
" Pakai baju ibu saja ya ?, walau tidak mahal, paling tidak bisa kamu pakai sementara !?" kata Rima.
Zha mengangguk dan Rima memberikan daster selutut, walau tidak mewah, tapi pas dan cocok di tubuh Zha.
Setelah siap mereka keluar, seperti biasa, Zha yang hanya memakai sandal slop dengan rambut di ekor kuda.
Setelah, keluar, ntah apa yang di dapat mereka, pulang sampai sore jalan kaki.
" Buk mau tanya kediaman Leonardo di mana ya ?" tanya seorang kurir, yang kebetulan di tanya Ima.
" Oh, di sana pak, tapi kebetulan orangnya tidak ada, di titipin kesini juga bisa !" tawar Ima.
Setelah berpikir ahirnya kurir paket menyerahkan paketnya pada Ima, untung saja, ada ibu Lin yang lewat.
" Pak jangan sembarangan nitipin paket, lebih baik bapak ke sana sendiri " kata Lin dengan sinis pada Ima.
" Orang niat baik kok di tolak !" kata Ima.
" Iya ya. . . !" kataYen mendikung anaknya.
Lin merebut paket, lalu menyerahkan pada kurirnya.
" Itu no orangnya !" kata Lin sambil menunjuk Zha dan Leon yang sedang jalan mendekat pada mereka.
Lin memanggilnya, dan bicara pada kurir.
Leon menghampirinya dan mengambil paketnya pada sang kurir.
" Sudah hampir sebulan kok baru datang ?" tanya Leon sambil bertanda tangan tanda menerima.
__ADS_1
" Maaf pak, semua karyawan tidak bisa bahasa mandarin, jadi menunggu bos besar, karena baru kali ini menerima paket dari negri Sakura pasti isinya bukan sembarangan !" kata kurir.
" Hanya sebuah baju !" kata Leon.
" Pasti berkualitas, yang di Indonesia tidak ada " jelas kurir, dan di senyumi oleh Leon.
" ¥ 94. 939 itu berapa kak ?" tanya Zha saat melihat bandrolnya di luar plastik paket.
Ima yang kepo juga ikut melihat.
" Berkisar sepuluh juta sayang !" jawab Leon.
" Emang ini isinya apa kak ?" tanya Zha.
" Bajumu, mengganti yang kemarin, sekalian baju hamil, katanya sudah tidak ada yang muat dan pinjam lagi tempat ibu, kak Leon hanya takut salah meluk, kalau kamu gantian sama ibu !?" jelas Leon.
" Alangkah mahalnya kak ?" tanya Zha.
" Buat kamu, tidak ada yang tidak !" kata Leon.
" Makasih kak !" kata Zha sambil memeluk Leon di depan Ima.
Zha dan Leon lalu permisi dan segera pulang.
" Lihat Ma, walaupun dia pakai daster murah, tapi masih enak di pandang, jaga penampilan tidak seperti kamu, kumel " kata Lin sambil menunjuk Zha membandingkan Ima dan Zha.
" Hai mungkin bawaan bayi buk, anaknya Zha perempuan, anaknya Ima laki - laki !" jawab Yen.
" Tidak pengaruh, makanya Leon akan buta kalau kau goda mau, walaupun kau telanjang sekalipun !" hina Lin pada Ima, membuat Ima dan Lin semakin mendidih.
Rima yang akan pulang, bertemu dengan Yen di jalan, dan nenjelekan Zha.
" Aku heran Rima, sama anak kamu ? suami masih sulit cari uang, masih saja kemewahan !" kata Yen.
" Maksudnya ?" tanya Rima.
Ima menceritakan kejadian tadi dan semakin menjelekan Zha membuat telinganya panas.
Sesampainya di rumah Rima langsung memanggil Zha dengan emosi. Zha yang tidak tahu apa - apa langsung menuju tempat Rima.
" Zha, , , ,! Kau tidak tahu diri banget ya, suami sedang susah, masih saja kemewahan yang kau pikirkan, tidak ada syukurnya, suamimu sabar menghadapi tingkahmu !?" bentak Rima yang masih panas.
" Maksud ibu ?" tanya Zha.
" Semua orang kampung nembicarakan tingkahmu, yang tidak memikirkan keuangan suami kamu, malah memilih kemewahan seperti tidak di didik ?!" lanjut Rima.
" Dari Ima ya buk, buk sebenarnya, Zha atau Ima sih buk yang anak ibu?, dari dulu sampai sekarang, tanpa mendengarkan Zha dulu, ibu langsung membela Ima, apa ibu akan memukul Zha seperti saat Zha dengan Arief dulu ?" tanya Zha dengan air mata yang mengalir, Didik dan Leon yang mendengar pertengkaran langsung menuju sumber suara.
Zha yang akan lari, ternyata sudah terhadang dengan tubuh Leon, sehingga Zha memilih memeluk tubuh Leon dan nenangis sesenggukan di pelukanya, sampai tidak mengeluarkan suara.
" Ada apa ini buk ?" tanya Didik pada istrinya.
__ADS_1