
Aekana dan Aksara
...****************...
Di sela - sela keceriaan, Angga dan Dahlia datang. Dahlia mencium kening Zha, tapi Zha cuek.
" Boleh mami gendong cucu mami ?" tanya Dahlia.
Zha cuek memberinya, Dahlia merasa ada yang beda pada menantunya.
Leon menarik maminya yang masih menggendong babynya, membawanya ke kamar.
" Mami, kenapa mami tidak peduli dengan kami, untung saja Zha tidak baby blues, dia menanyakan mami dari kemarin " jelas Leon.
" Maafkan mami Leon, mami sibuk, papimu mengurus perusahaan yang hampir bangkrut, sedang pak Joko masih pulang kampung !" Alasan Dahlia.
" Hanya itu alasan mami, dari kecil Leon tidak di perhatikan sama mami tidak masalah, tapi ini cucu mami, Zha menantu mami !" kata Leon dengan sedikit meninggi, dan keluar.
" Kenapa kak ?" tanya Zha yang melihat wajah suaminya di tekuk.
Leon geleng kepala dan tersenyum pada Zha.
" Leon, !" panggil Angga.
Leon hanya melihat sedikit dan memalingkan muka pada Angga.
" Papi tahu, papi salah, papi telah menuduh istrimu, tolong maafkan papi " kata Angga.
" Papimu kini sudah percaya Leon, walaupun tanpa di DNA kalau itu putramu, karena tanda lahir, dan wajahnya, sama seperti dirimu !" kata Dahlia.
" Pulanglah, mamimu, sering sakit memikirkan kalian !" jelas Angga.
" Dan perusahaan kacau tanpamu, papi sudah tua untuk mengurus perusahaan, hidupi istrimu seperti dulu, dengan kemewahan !" mohon Angga.
" Pulang, gampang sekali, menyuruh kita pulang, setelah, anda tuduh istriku sebagai wanita tidak berharga, sekarang kau suruh pulang ?" kata Leon dengan nada mengejek.
" Papi sudah mengakui kesalahanya Leon " bela Dahlia.
" Aku bahagia walau hidup sederhana, di sini mengajarkanku, kalau berkumpul dengan keluarga lebih berharga dari pada banyak harta " jawab Leon membuat hati Dahlia teriris.
" Papi mohon Leon !" pinta Angga.
Leon matanya memerah menahan amarah tapi Zha mengelus pundaknya.
" Kak. . !" panggil Zha.
" Zha tolong bujuk Leon, kita pulang ya sayang !" pinta Dahlia sambil mengalirkan air mata.
" Tidak usah, mempengaruhi istriku !" bentak Leon dengan mata memerah.
Zha yang takut lansung memeluk suaminya.
" Jangan keluarkan kata keras kak, Zha takut. . !" kata Zha.
__ADS_1
" Maafkan aku sayang !" kata Leon sambil menciumi pucuk kepala Zha yang Leon takutkan istrinya baby blues.
" Aku pikirkan dulu, tapi tidak bisa sekarang !" jawab Leon.
" Aku tunggu jawabanmu " kata Angga.
" Siapa nama cucu mami ?" tanya Dahlia.
" Arkana leonardo, dan Aksara leonardo mi !" jawab Zha.
" Arkana yang artinya pemimpin, dia seorang kakak dan aksara Gigih mi, tidak musnah dan tidak terpengaruh, sedangkan Leonardo, dia menyandang nama ayahnya " jelas Zha.
" Kenapa tidak pakai nama Agga reksa Leon ?" tanya Angga.
" Dia putraku, bukan putra papi . . ! Leon juga ingin punya putra menyandang nama Leon !" bentak Leon lagi.
" Pi, yang sabar. . !" kata Dahlia sambil mengelus dada suaminya.
Setelah semuanya sudah dingin, Angga dan Dahlia pulang.
Setelah acara selesai, mbok Darmo yang sebagai dukun, merawat baby, dan tubuh Zha pamit.
" Le, aku leh ne ngurusi bojomu uwes rampong " Leon yang tidak tahu artinya langsung memanggil Rima, Rima tersenyum
" Nak, aku kalau mengurus istrimu sudah selesai " jelas Rima.
" Mbok jangan bilang bahasa jawa, Leon tidak bisa " kata Leon.
Leon lalu masuk kamar, Zha yang selesai mandi, langsung ikut Leon keluar menemui mbok Darmo.
" Ini mbok, tanda terima kasih Leon " kata Leon sambil menyerahkan amplop coklat pada mbok Darmo.
Mbok Darmo menyambutnya dengan gemetar.
" Ini terlalu banyak nak !" kata mbok Darmo.
" Mbok, kak Leon, tidak suka penolakan, makanya jangan di tolak, nanti dia marah " kata Zha sedikit berbisik di telinga mbok Darmo.
" Mbok baru kali ini ndok, memegang uang sebanyak ini " kata mbok Darmo.
Mbok Darmo, pulang dengan sumringah, besoknya dia datang lagi.
" Katanya sudah tidak kesini mbok ?" tanya Rima.
" Izinkan mbok merawatmu dan bayimu sampai selapan ya, mbok malu di kasih uang sebanyak itu, tapi tidak tuntas ?" tanya mbok Darmo pada Zha yang masih duduk.
Zha mengangguk setuju.
" Lalu Ima mbok ?" tanya Zha.
" Ima kan oprasi, jadi hanya anaknya yang mbok urus !" kata mbok Darmo.
Serelah ngobrol.
__ADS_1
" Sayang, kak Leon pergi dulu ya ?" kata Leon sambil mencium kening istrinya, Zha menanggapi dengan senyum
Setelah kejadian waktu Angga datang ke rumah, Leon kini berpikir, Leon menemui Roy.
" Roy, apa papi tahu semua usahaku ?" tanya Leon.
" Sepertinya ada yang membocorkan tuan, tapi sudah saya cegah !" kata Roy.
" Jaga rahasia kita , jangan sampai Angga tahu " kata Leon.
" Tapi nasib perusahaan miris tuan " kata Roy.
" Aku akan kembali, setelah istriku pulih, siapkan body guard dan baby sister yang bisa di percaya !" kata Leon tegas.
" Baik tuan . .!" jawab Roy.
" Zha kalau ibu boleh tanya, apa sih pekerjaan suami kamu kok dia bisa banyak menghasilkan uang ?" tanya Rima yang curiga.
" Dia bisnis bu !" jawab Zha singkat.
" Awas Zha nanti bisnis barang haram !" Rima mengingatkan.
" Percayalah bu, menantumu bukan pelaku kriminal, bisnis dia ada di Bali bu " kata Zha.
" Ibu, menantu sendiri di curigai !" kata Didik yang baru datang.
" Tidak pak, ibu takut saja dia seorang mafia !" kata Rima.
" Uhuk uhuk uhuk. . . !" Zha yang masih minum langsung tersendat Didik langsung menghampiri dan memijat leher Zha.
" Ibu, pikiranya kok sampai situ ?" tanya Didik.
Zha hanya diam berfikir.
" Kata orang kemarin " Buk, hati - hati buk, cucu ibu punya tanda merah di siku kanan ?" katanya.
" Kenapa memang buk ?" tanya Rima.
" Dia bisa jadi pimpinan mafia, dan di carinya karena kuat dan cerdas " jelasnya.
" Gitu katanya pak !" jelas Rima.
" Sudah cukup bu, " kata Didik, saat Zha masuk kamar.
" Jangan bikin pikiran anakmu stres buk, dia habis melahirkan !" kata Didik.
Rima yang merasa bersalah hanya diam.
" Sayang, kalau sudah sehat kita kembali ke apartemen ya, ? kak Leon akan bantu papi ke perusahaan lagi !" kata Leon.
Zha memeluknya dari belakang dengan manja.
" Zha ingin rumah, Zha bosen hidup di apartemen " kata Zha membuat mata Leon melotot.
__ADS_1