
Leon kecelakaan
...****************...
Sesampainya di rumah, Zha mengirim pesan pada Roy.
[ Ada yang tidak beres, pada papi, kau harus gerak cepat, amankan cctv, di rumah papi, jangan sampai keduluan !] pesan dari Zha.
[ Okey👌 ] balasan dari Roy.
Badan Arka panas, membuat Zha tidak bisa tidur, dan membawanya ke luar kamar agar tidak mengganggu tidurnya Leon.
Saat pagi menjelang, Leon terbangun melihat Zha ketiduran di sofa dengan Arka.
" Kau semalaman tidak tidur sayang ? " bisik Leon pada Zha, dan mengangkatnya ke ranjang.
Leon mandi dan bersiap ke kantor, sebelum berangkat ke kantor, Leon membuka sedikit kancing baju Zha, dan menyedot Asinya.
" Yati, kalau Arkana bangun, ini Air susunya, jangan bangunkan nona ! " Sambil menyerahkan Air susu Zha dan Aksa pada baby sisternya.
" Ya tuan " jawab Yati sambil menunduk.
Leon lalu berangkat ke kantor, karena pagi ini ada metting.
Saat metting mulai, Leon mendapat telepon dari rumah.
" Tuan, nona badanya panas, memanggil nama tuan, dua putra tuan rewel semua " kata bi Ijah.
Leon langsung membatalkan mettingnya, Angga protes pada Leon.
" Kau seorang pemimpin, kenapa harus nurut dengan istrimu Leon, Zha membawa pengaruh buruk padamu " kata Angga.
" Mungkin anda menilai istriku seperti itu, tapi menurutku dia bidadari surga untuku, dan dia ibu dari anak - anaku, dan " kata Leon sambil berlalu pergi, mamun membalikan badan lagi.
" Dan asal papi tahu, istriku lebih berharga, dari semua apa yang aku punya " jelas Leon.
Leon segera pulang, para klien protes pada Angga. membuat Angga pusing di buat Leon.
Leon langsung pulang ke rumahnya dan melihat Zha masih terkulai lemas di kasur.
" Sayang. . . " panggil Leon Sesampainya di rumah, Zha mengirim pesan pada Roy.
" Kak Leon ?" kata Zha.
" Kita ke rumah sakit ya ?" tanya Leon.
Zha geleng kepala, dan ahirnya Leon menelpon dokter untuk datang memeriksa keadaan Zha.
" Tidak pa pa, buk Zha baik - baik saja kok, hanya banyak pikiran, makanya sampai panas " kata Dokter.
__ADS_1
" Ini saya beri resep obat, dan saya infus ya biar ada tenaga !" lanjut dokter.
setelah itu dokter pulang.
" Sayang apa yang kau pikirkan ?" tanya Leon.
" Kak, ada yang akan memisahkan kita, dan menginginkan anak kita mati " kata Zha.
" Tidak mungkin sayang, di sini ada kak Leon, tenangkan pikiranmu, kak Leon tidak akan meninggalkanmu" kata Leon sambil mengelus rambut Zha.
...****************...
Tidak terasa umur putra Leon sudah hampir dua tahun, cinta Leon pada Zha semakin kuat, tidak gampang terpengaruh lagi, membuat Angga geram, karena Zha selalu melindungi suami dan anaknya.
Suatu hari Leon pamit ke Bandung dengan Didik.
" Sayang, pagi ini kak Leon akan ke Bandung, jiarah ke makam nenek kak Leon, dan kedua orang tua bapak " kata Leon sambil sarapan.
" Menginap ?" tanya Zha.
" Tidak sayang, kak Leon tahu, kamu tidak bisa kalau di tinggal menginap " kata Leon.
Zha tersenyum, dan menyiapkan bekal untuk Leon berangkat.
Leon berangkat menyium kening Zha dahulu.
" Jaga bunda di rumah ya ?" kata Leon bicara pada kedua putranya.
" Kenapa kak, putra kita menangis saat kau tinggal biasanya tidak pernah " kata Zha.
" Mungkin dia kangen sama ayahnya " kata Leon.
" Besok ayah di rumah ya anak ayah " kata Leon sambil memeluk kedua putranya.
Leon beeangkat, di tempat pemakaman Leon bertemu dengan Deon, dan sedikit bercakap dan pulang.
Di saat di perjalanan pulang, Leon yang buru - buru, karena takut ke malaman di jalan, menginjak pedal gasnya dengan kecepatan lumayan.
Saat di lampu merah Leon menginjak pedal remnya tapi tidak berfungsi.
" Pak remnya blong !" kata Leon panik.
Didik pun ikut panik, dan.
Brughttt. . .
Aghhhhhht. .
Sebuah teuk datang pada arah samping dan menabrak mobil sport Leon, alhasil lansung terjun bwbas ke dalam jurang.
__ADS_1
Polisi menghubungi Zha, Zha merasa kakinya sudah tidak bertulang lagi, serasa lemas, dan segera menelpon Roy untuk menjemputnya dan menuju rumah sakit, di mana Leon dan Didik di bawa.
Zha berlari menuju kamar jenazah.
" Bapak. . . . !" teriak Zha saat melihat Didik di brankar kamar mayat.
Rima juga ikut teriak " Mas. . ! bangun mas, siapa yang akan menemani aku " tangis Rima di depan mayat Didik.
" Kak Leon, kak Leon mana !?" Zha langsung membuka satu persatu penutup mayat.
" Suami anda kritis di ruang ugd, sedang bapak anda meninggal di tempat " kata Polisi.
Zha berlari menuju ruang ugd, tapi Leon yang bersimbah darah di pindah ke riang picu, Zha mengikuti brankar Leon.
" Kak, dengarkan Zha, Zha sayang sama kak Leon, Zha cinta sama kak Leon, jangan pernah tinggalkan Zha dan anak - anak kak, kita butuh kak Leon !" teriakan Zha sambil menangis.
Leon masuk ke ruang ICU, tapi Zha tidak bisa mengikuti karena di larang para medis.
Dahlia datang, melihat Zha menangis di pintu masuk ruang pemeriksaan.
" Sabar sayang, Leon pria kuat, pasti dia bisa melewati semuanya " kata Dahlia menenangkan Zha, yang menangis histeris.
Zha tidak menghiraukan perkataan semua orang. Laki - laki hebat yang ada di sampingnya kini telah pergi meninggalkan dunia, dan yang satu harus terkulai lemas di brankar rumah sakit, sedang dokter belum bisa memastikan kapan Leon akan sadar.
Di pemakaman Didik, Zha tidak bisa ikut, dan Rima, yang mengikutinya, menangis tidak ada henti.
" Sudah mbak, kita harus kuat untuk Zha dan kedua anaknya " kata Jak pada kakak iparnya.
Seketika Rima diam " Kau benar, aku masih punya Zha, dan Leon masih ada harapan hidup dengan semangat Zha, aku harus bangkit demi putriku, dia lebih terpukul, karena dua pria hebatnya satunya telah tiada !" kata Rima yang bangkit dari duduknya.
Adi lalu memapah bu denya pulang, sedang Zha masih tetap di depan brankar, menanti Leon sadar.
Tiga bulan sudah Leon koma di rumah sakit, Zha masih setia menunggunya bersama kedua putranya.
" Bunda akan menjaga kalian, walau nyawa bunda taruhanya, ayahmu koma karena keteledoran bunda sayang, maafkan bunda " kata Zha sambil mengelus rambut kedua putranya yang tertidur di pangkuanya.
Aldo melihatnya dari jendela, memperhatikan Zha yang begitu peduli dengan suaminya, yang tidak berdaya.
" Hai, kau kenapa ? apa kau masih mencintainya" tanya Yuyun pada adiknya yang memperhatikan Zha, Aldo mengangguk.
" Kak Yuyun bantu Aldo ?" kata Aldo.
" Bantu apa ?" tanya Yuyun.
Aldo mengutarakan maksudnya dengan berbisik.
" Tidak Aldo, kak Yuyun bukan pembunuh, apa kau ingin kak Yuyun masuk penjara ?" tanya Yuyun.
" Ayolah kak Yuyun, Aldo janji akan membahagiakan Zha dan kedua putranya " Aldo memohon.
__ADS_1
Yuyun masih tetap menolak