
Mau di peluk
...****************...
Ting. . Bunyi hp Zha.
Zha segera membuka notifikasinya ada nomor yang tidak di kenal.
" Ahhh" Zha terkejut.
" Kenapa Zha ?" tanya Mita, dan Zha menunjukan hpnya pada Mita.
" Tidak mungkin Zha " kata Mita tidak percaya melihat foto Arief di peluk wanita dari belakang, dengan raut wajah Arief sedang senyum
Walaupun Mita habis menjelekan Arief pada Zha, tapi dia yakin kalau Arief tidak seperti itu.
Tingg.
( " Kalau kau ingin tahu tentang foto itu temui aku di cafe Z " ) pesan dari nomor tadi.
Zha bingung, pasti dia tidak di izinin sama Arief. sedangkan sekarang dia sudah ada ikatan dengan Arief jadi tidak bisa bertemu orang atau pria sembarangan.
" Jangan kuatir, aku temani kamu " kata Mita dari belakang.
" Tapi Mit, aku takut, Arief tahu dan salah paham " kata Zha.
" Tenang saja, aku yang akan jadi saksinya, kalau tidak kamu pamit dulu dengan Arief " jelas Mita.
" Kalau aku pamit sama Arief, sama saja aku bunuh diri " kata Zha.
" Iya jugak ya ?" Mita berpikir " ya sudahlah, nanti aku antar " kata Mita.
Ahirnya Zha nurut saja, waktu jam makan siang Zha meminta izin pada Angga keluar sebentar,dan di izinkanya.
Sesampainya di cafe Z, Zha mencari keberadaan manusia yang mengirimi dia foto tadi, dan ada orang yang melambaikan tangan pada Zha ternyata kiting.
" Hai cantik ," dapa kiting pada Zha yang baru sampai dengan mata mesumnya.
" Tidak usah basa basi, siapa wanita itu ? dan apa maumu mau bertemu denganku ?" tanya Zha sadis.
" Sabar ngapa Zha, aku tahu kamu pasti emasi kan, baru tunangan kemarin, sudah di tinggal main belakang, Mending sama aku saja, aku yakin kamu pasti lebih bahagia " kata kiting sambil memegang tangan Zha, tapi di tepisnya.
Ternyata sudah ada yang memfoto dan mengirim ke Arief.
__ADS_1
" Aku lebih percaya dengan Arief, ketimbang kamu " bentak Zha.
Arief yang masih mengerjakan skripsinya langsung mencari kunci mobilnya, dan menuju cafe Z, di pintu, dia mendapati Mita dan Mita menceritakan kenapa Zha dan Mita bisa sampai di sini.
Arief langsung masuk dan.
Bruak, meja di depan Zha di gebrak Arief membuat Zha dan kiting terkejut. dan membuat mata pengunjung ke arah mereka.
" Hai kiting, mau sampai kapan kau akan mengganggu hubungan kita ?" kata Arief sambil mengepalkan tanganya menahan emosi.
" Hai bro hangan emasi, pacarmu sendiri yang ingin bertemi denganku ?" jawab kiting.
Arief melotot ke arah Zha. Zha hanya tertunfuk, dia tahu emosinya Arief pasti tidak mau mendengarkan penjelasanya, menunggu hingga Arief reda.
Tangan Arief yang masih mengepal ingin sekali meninju wajah kiting, tapi ini tempat umum.
" Zha, apa maumu, kenapa kamu diam saja ?" kata Arief sambil memcengkram pergelangan tangan Zha. Zha meringis sakit.
" Hai bung jangan kasar dengan wanita, apa lagi dia calon istrimu ?" kata kiting.
" Tidak usah ikut campur . . .!" bentak Arief pada kiting.
" Mau apa kamu . . !?" pandangan Arief pada Zha. membuat kiting senyum kemenangan.
Zha membalasnya dengan pelukan Arief, membuat Kiting yang baru di atas awan jatuh lagi.
Kiting pergi dengan rasa kecewa.
Arief menggandeng Zha menuju kantor.
" Zha kenapa kamu tidak marah sama aku melihat foto itu ?" tanya Ariefvpada Zha.
" Sebenarnya pengen marah sih, tapi percuma habisin tenaga aku saja ?" jawab Zha.
" Ehmmm " jawab Arief.
" Pasti jawaban kamu, aku bisa jelasin Zha ini tidak seperti dalam pikiran kamu aku sudah tebak seperti di sinetron " kata Zha.
" Kamu kok tahu sih isi hatiku, bikin gemas !" kata Arief sambil mencium kening Zha. Mita yang diduk belakang.
" Hargai penampakan dong di sini ?" kata Mita.
" Ha ha ha ha . . . . !" tawa Arief dan Zha.
__ADS_1
" Tapi kamu hutang penjelasan sama aku, siapa wanita itu dan apa hubunganya denganmu, kamu kira hati ini tahu apa yang yang bisa kamu olah sesuka hatimu ?" kata Zha.
" Okey aku jelasin, wanita itu salah satu staf di perusahaan kita, dia tidak sengaja kakinya terkilir tepat di belakangku dan memeluku diri belakang " Jelas Arief.
" Tapi kamu sepertinya bahagia banget di peluk dia sampai tertawa Ha ha ha. . !" kata Zha sambil mempraktekan gaya ketawa Arief membuat Arief semakin gemas.
" Ya allah Zha. Aku ketawa, karena aku sedang ngobrol dengan klien aku di depan, tapi tidak ikut ke foto " jelas Arief.
" Okey kali ini aku percaya, tapi kalau sampai ketahuan kamu main belakang, tidak akan aku maafkan, akan aku potong burungmu jadi tujuh " Ancam Zha, membuat Arief kaget, dan Mita tahan tawa.
" Ya allah Zha, baru di potong sekali belum aja di pake, sudah mau di potong lagi " kata Arief.
" Biarin, buat tambahan sayur bening " kata Zha.
Kata Zha membuat Arief merinding.
Sesapainya di kantor Arief langsung menuju ruangan Leon dengan membawa Zha.
Di ruangan Leon, ternyata kosong penghuninya masih metting.
Arief mengeluarkan laptopnya, menyiapkan bahan skripsinya saat Zha akan kembali ke mejanya Arief menahanya, suruh menemaninya bikin skripsi.
Ahirnya Zha mengalah. Zha merasa jenuh dan mengantuk kepalanya di sandarkan di pinggiran sofa dengan kedua tangan di tekuk di tarok pipi yang bersender di pinggir sofa dan kaki sedikit mendorong paha Arief, membuat Arief sedikit bergeser.
Arief tersenyum melihat tingkah Zha. Arief tahu Zha ingin di perhatikan. Lalu menarik tangan Zha supaya bangun dari tiduranya, dan menarok kepala Zha di pangkuanya.
Zha langsung saja nemplok dan mengarahkan wajahnya pada perut Arief dan memeluk pinggangnya menenggelamkan wajahnya di perut Arief kaos santai yang tipis membiat nafas Zha terasa masuk ke pusarnya, Arief sebagai pria normal sedikit terangsagg dengan menciumi pucuk kepala Zha terus menerus.
Tidak lama Zha sudah mendengkur halus. tangan yang tadinya memeluk pinggang Arief jatuh perlahan.
Leon yang sudah selesai Metting langsung masuk ke ruanganya melihat Arief ada di ruanganya yang masih berkutat dengan laptopnya, dan melihat Zha tertidur di pangkuan Arief.
Leon melihat baju bagian pinggang Zha sedikit terbuka, jadi terekpos kulit putih Zha. Leon membuka jasnya dan menutupinya.
Arief yang melihatnya tersenyum.
" Jaga tunanganmu, karena tubuh yang selalu tertutup rapat terbuka sedikit saja bisa membuka gairah pria, beda dengan yang selalu terbuka di telanjangi juga tidak berminat " tutur Leon pada adiknya.
" Sudah selesai apa skripsinya ?" Tanya Leon pada adiknya.
" Belum kak, mungkin dikit lagi " kata Arief.
" Kak. . .!" kata Arief terpututus.
__ADS_1
" Aku tahu kamu penasarankan sama kasih sayang aku sama Zha?" kata Leon tahu apa yang akan di tanyakan oleh Arief