
Jangan ingatkan aku, aku masih sayang.
...****************...
Zha memesan menunya, dan mulai makan, Leon merasa risih dengan tempat dan cara penyajianya.
Zha susah memasukan nasi dan lauk ke dalam piringnya.
" Kak Leon, tidak makan ?" tanya Zha.
Leon hanya menggeleng.
" Tidak ridak kak kalau sakit, besarnya Zha dari kayak gini, dulu Arief juga waktu masih ngaku miskin kita sering makan kayak gini sepiring berdua dengan satu lauk " cerita Zha.
" Dari pada di resto, sudah mahal, makananya dikit lagi " jelas Zha.
" Berarti kamu sudah lama di ajak Arief sengsara ?" tanya Leon.
" Tidak, aku tidak bilang aku sengsara, dia yang membuat aku bahagia " balas Zha.
" Itu di ajak makan sepiring berdua dengan satu lauk ?" kata Leon.
" Harta bukanlah ukuran kebahagiaan, tapi cinta dan pengertian akan lebih kuat menuju ke bahagian tapi itu menurutku, tapi ntah kalau menurut kak Leon ?" jawab Zha.
" Karena dengan kebahagiaan tidak dominan dengan uang, kak Leon percaya tidak?" orang yang hidupnya hanya pemulung, rumah tangganya bisa abadi hingga maut menjemput, beda dengan orang kaya, dia biasa memanjakan istri dengan harta, tapi di saat dia bangkrut istri tidak mau hidup susah, selingkuh tuh sama orang kaya " jelas Zha sambil mempratekan tanganya seperti pesawat.
" Emmm, " hanya itu jawaban Leon.
' Dasar tidak bisa bahagiain hati istri, istei tikung yang lain baru tahu rasa ' gumam Zha yang masih terdengar oleh Leon.
" Apa kamu bilang ?" Kata Leon menatap tajam pada Zha.
" Ini lauknya enak banget " kata Zha, sambil mengambil nasi dengan tanganya, membuat Leon geleng kepala.
" Yakin kak Leon tidak makan, ? di rumah Zha tidak masak loh, !" sambung Zha.
" A a a a a a k " kata Zha menyuapi Leon pakai tanganya dan menahan pipi Leon agar buka mulut, ahirnya Leon makan.
Zha masih setia menyuap Leon seperti anak kecil hingga kenyang, Leon yang tadinya menolak, sekarang menikmati suap demi suapan Zha, tanpa sendok.
" Sudah kak Leon yang bayar ?" kata Zha.
Leon mengulurkan black card pada penjual nasi padang.
" Maaf tuan, uang kes saja " kata penjual nasi padang.
__ADS_1
" Maaf tidak bawa, adanya hanya ini ?" kata Leon sambil mengulurkan uang dua ratus ribu.
" Maaf tuan ini terlalu banyak " sahut penjual.
" Emang berapa ?" tanya Leon.
" tiga puluh delapan ribu saja " jawabnya.
" Hah, tidak salah, dia makanya banyak loh pak ?" kata Leon sambil menunjuk Zha.
Yang di tunjuk menahan tawa.
" Kita hanya menghitung lauknya tuan " jawabnya.
" Maaf pak, suami saya polos, mending ini saja, kembalianya ambil saja " kata Zha sambil mengulurkan uang seratus ribu.
" Tapi nona " kata penjualnya.
" Anggap saja ini rezeki bapak, buka pagi hari " lanjut Zha.
" Makasih tuan, nona !?" kata penjual.
" Sama - sama pak ?" kata Zha.
Di perjalanan Zha dan Leon melihat pemulung tua dengan baju lusuh, membuat hati Zha ternyuh ingin membantu.
" kan sudah ku bilang, kak Leon tidak bawa uang kes, mending kamu ke link itu ?" tunjuk Leon pada Linh tang varu di buka pemiliknya.
" Ya sudah sini " kata Zha sambil menarik kartu Leon.
Dan mengambil uang di link itu, setelah mengambil uang cash, Zha mendekati pemulung itu dan nemberikanya, awalnya si pemulung menolak, tapi Zha cari alasan, kalau dia ulang tahun. Leon mendekati Zha, dan pemulung itu mendoakan mereka.
" Terima kasih nak semoga rumah tangga kalian langgeng " kata sang pemulung.
" Amiin. . . !" jawab Zha dan Leon.
Leon berpikir, di balik sikap ceria Zha, ternyata dia jowa penolong.
" Kak Leon iklaskan aku kasih uang untuk orang susah ?" tanya Zha.
" Ya !" jawaban Leon.
" kalau kita iklas beramal kata pak ustad akan di kembalikan dua kali lipat kak sedekah jufa membersihkan harta kita yang kotor !" ceramah Zha
" Iya buk ustad " kata Leon mengacak rambut Zha.
__ADS_1
" Kak gendong lagi " pinta Zha sambil merentangkan tanganya.
" Malas, kamu habis makan banyak, jadi tambah berat " kata Leon.
Zha hanya sebel sama Leon, dia tidak peka sepeeti Arief.
Sesampainya di rumah mereka mandi, selesai Leon mandi, langsung mengambil laptopnya. dan Zha merasa jenuh duduk di sofa di dekat Leon.
" Makan sudah, mandi sudah, olah raga juga sudah mau ngapain ya kuliah tidak ?" kata Zha sambil mikir.
Leon sesekali melirik ke arah Zha.
" Punya patner kayak batu, !" kata Zha menyidir Leon tapi yang di sindir masih fokus pada laptopnya. " Aha aku punya ide . . .!" kata Zha sambil memegang otaknya.
" Kak ayok main tempat mami kita sudah lama tid. . !" ajak Zha tapi terputus karena jari Leon menutup mulutnya.
" Ayok, dari pada bikin kendang telingaku rusak " kata Leon.
" kak Leon pikir Zha speker masjid " jawab Zha.
" Pikir sendiri " kata Leon.
" Kalau gitu pulangin saja aku ke rumahku, kalau kak Leon tidak nyaman " kata Zha yang tersinggung.
" Kita bahas nanti, katanya mau tempat mami " kata Leon.
" Ayok, lets go " kata Zha sambil berdiri.
Leon menatap Zha, seperti patung, melihat celana pendek yang sepaha menunjukan paha mulusnya, sampai susah menelan salivanya.
' Kuatkan aku tuhan, biarkan dia mencintai aku dulu ' kata Leon dalam hati.
" Boxer siapa yang kamu pakai ?" tanya Leon sambil menatap celananya.
Zha menggaruk kepala yang tidak gatal.
" Maaf kak Leon Zha kesini tidak bawa celana pendek, jadi Zha nemuin boxer kak Leon, Zha pakek !" kata Zha.
" Apa kamu mau tempat mami pakai boxer itu ?" tanya Leon dan di angguki Zha.
" Ganti, kamu itu istri Leon angga reksa, jadi tidak ada yang boleh lihat lekuk tubuhmu sedikitpun " teriak Leon.
Saat Zha akan berangkat ke kamarnya.
" Dan satu lagi belajarlah jadi cewek feminim mulai dari sekarang " kata Leon.
__ADS_1
" Susah benar ya jadi istri CEO ?" kata Zha.