
Lebauku tidak merugikanmu
...****************...
" Kamu hanya menghiburku kan ?" tanya Zha sambil mendongak ke atas melihat wajah Arief.
Arief menggelengkan kepalanya dan mengecup bibir Zha.
" Kalau aku bohong, nanti kamu biasa ambil hatiku tanpa perasaan " kata Arief sambil menuntun tangan Zha ke dadanya.
" Jadi kak Leon hanya jadi sopir nih, baru kali ini ada CEO suruh jadi sopir ?" ledek Leon melihat adiknya.
" Cuman sekali kak ? lain kali tidak nyusahin kak Leon lagi deh ?" kata Arief.
Sesampainya di bandara mereka menunggu pesawat Arief take out. Zha duduk di dekat Arief masih memeluknya Leon masih sibuk mengurus semua.
Peringatan dari pragawan pesawat akan take out seperempat jam lagi. jadi mereka menuju pesawat.
" Kak Leon terimakasih, kau adalah kakak yang paling baik di dunia, mengajari aku banyak hal, kau rela lelah demi adikmu yang nakal ini, kau selalu menjaga kesayangan Arief maafkan Arief kak ?" kata Arief pada Leon sambil memeluk kakaknya menyeka air matanya hampir jatuh.
" Kamu bicara apa? kamu pergi untuk belajar, kalau libur masa kamu tidak ingin pulang lihat kekasihmu ? dan satu lagi, tugas kamu di sana belajar, bukan pacaran atau bermain ? " kata Leon sambil menunjuk Zha.
Arief langsung menarik Zha dalam pelukanya.
" Kau yang mengisi hari - hariku Zha, maafkan aku yang hanya bisa membuat kau menangis " kata Arief.
Zha tidak bisa menjawab, hanya sesenggukan di dalam pelukan Arief.
Setelah berpamitan Arief melambaikan tanganya. Saat Arief mendekati pesawatnya Zha lari dan memeluknya dari belakang dengan menangis sesenggukan sampai tidak ada suara. Lalu Arief membalikan badanya menempelkan keningnya ke Zha sambil bicara dan mengusap air matanya.
" Jangan menangis, kau membutku berat meninggalkanmu ?" kata Arief.
Lalu Arief menarik dan memeluk Zha. dan memberi isyarat Leon agar mendekat.
" Arief pergi belajar Zha, bukan nikah lagi Zha ?" kata Leon.
Ahirnya Zha mau pulang, setelah di bujuk Arief, pesawat Arief telah berangkat menuju Swish.
Di mobil.
" Kamu jangan duduk belakang Zha, . . ! nanti di kira aku sopir kamu " jelas Leon.
Zha menurut dan duduk di dekat Leon, tidak ada obrolan sedikitpun antara Leon dan Zha. hanya terdengar isak tangis Zha.
__ADS_1
" Kamu mau ke mana Zha ?" tanya Leon.
" Kalau kak Leon ?" Zha malah tanya balik.
" Ke kantor " jawab Leon.
" Zha juga ikut ke kantor " kata Zha.
" Hah. . . kamu tidak malu apa ikut ke kantor ?" tanya Leon.
" Kenapa harus malu ? bukanya baju Zha rapih, sopan ?" tanya Zha.
" Ya bajumu rapih, sopan, tapi lihat, wajah dan rambutmu tidak beraturan, karena banyak nangis " kata Leon, membuat Zha nangis lagi.
" Hiks hiks hiks " tangis Zha pecah.
" Kak Leon tidak pernah merasakan, perasaanku, betapa sedihnya di tinggal orang yang di cintai ?" kata Zha.
Leon merasa bersalah, dan menarik Zha di pelukanya.
" Kau seperti adiku sendiri, Aku pernah merasakan seperti dirimu saat di tinggal Rahma, dan saat itu aku harus tau kenyataan ternyata Arief juga mencintainya, aku sempat curiga dengan Arief telah melarikan Rahma, tapi ternyata aku salah telah mencurigainya, " kata Leon sambil mengatur nafasnya mengingat masa lalu.
" Tapi aku tidak selebay kamu ?" kata Leon sambil menjitak kepala Zha. " Arief itu pergi belajar, bukan berkencan atau mati, itu juga demi kebaikan kalian. . .! " kata Leon.
" Mungkin kalau dulu aku bersama Rahma, kau jadi adiku, tapi tidak kebayang kalau punya adik seperti kamu, lebaynya masa allah, kau beda dengan Rahma, Rahma itu dewasa m, pengertian !" kata Leon membandingkan Zha.
" Jadi Arief dulu suka juga sama kak Rahma ?" tanya Zha.
" Ya, aku tahu setelah tidak sengaja melihat diary Arief " kata Leon.
' Ya seperti aku padamu Zha, namun berbanding kebalik, kau lebih memilih Arief ' kata Leon di dalam hati
' Dulu Arief mengalah denganku demi kebahagiaan orang yang dia cintai, sekarang akupun harus bisa juga mengalah demi adik dan orang yang ku cintai ' pikir Leon.
" Kenapa kak Leon, sikapnya selalu dingin beda dengan Arief yang selalu humoris ?" kata Zha ganti membandingkan sambil menarik tubuhnya yang di peluk Leon.
" Ya ini sikapku. . . . !" bentak Leon tidak mau di bandingkan.
" Aku ya aku, Arief ya Arief tidak perlu membandingkan untuk memandang kesempurnaan seseorang . . ! " jawab Leon.
" Nah kata - kata itu juga berlaku sama kak Leon, kak Rahma dan aku adalah pribadi yang berbeda, walau dalam rahim yang sama, lagian juga, aku lebay juga hanya dengan orang yang ku cintai dan yang selalu memanjakan aku, aku juga tidak pernah nuntut kak Leon untuk menerima lebay ku ?" jawab Zha yang menohok hati Leon.
" Kita mau ke kantor apa debat ?" tanya Leon, karena sudah merasa kalah dengan Zha.
__ADS_1
" Berhenti i i i. . . . !" teriak Zha di depan mini market membuat Leon rem mendadak.
" Buka pintunya " pinta Zha pada Leon.
" Kamu marah, kalau marah jangan seperti anak kecil ?" tanya Leon dengan nada angkuhnya.
" Siapa yang marah kak Leon, kata kak Leon Zha berantakan, jadi Zha mau bersih - bersih dulu, karena Zha tidak biasa bawa sabun atau bedak apalagi lipstik, seperti cewek yang suka kecentilan jadi Zha mau numpang cuci muka di sini ?" jelas Zha.
" Oh kirain . . ! jawab Leon singkat.
" Nih kartunya ?" kata Leon sambil mengulurkan kartu kreditnya.
" Zha bawa duit kes kok kak ?" kata Zha.
" Tidak usah nolak, sekalian beli cemilan atau permen, biar tidak nangis lagi, capek aku dengarnya " kata Leon. Ahirnya Zha harus nurut sama es batu.
" Jangan lupa rokoknya ya ?" kata Leon.
' Bilang saja mau nitip ' gumam Zha, yang masih terdengar oleh Leon.
Leon geleng kepala ' pantas Arief mencintainya, ternyata dia pribadi yang ceria dan setia ' pikir Leon.
Setelah selesai Zha masuk mobil lagi dengan penampilan rapih.
" Kok kamu tahu rokok yang ku suka, padahal aku tidak ngomong ?" tanya Leon saat Zha mengulurkan pesananya.
" Ya tahulah, karena Arief dan kak Leon pribadi yang sama, tapi beda sikap " kata Zha cuek.
Di kantor Zha masih diam seribu bahasa, dengan berkas yang menumpuk di mejanya.
dreeet
Dreeet
Dreeet.
"Zha ponselmu bunyi . .!" kata Mita membangunkan lamunan Zha.
Zha kaget langsung mengangkat ponselnya, dan terpampang jelas terdapat nama Arief, senyum langsung merekah dari bibir Zha, tapi senyum itu pudar kala ponselnya lowbet.
" Kenapa dunia tidak berpihak kepadaku. . hu hu hu. !" teriak Zha dengan kesal sambil menangis, membuat semua karyawan penasaran dan melihat ke arah Zha.
" Zha malu di lihat semua !" kata Mita memperingatkan Zha.
__ADS_1
" Ya begitulah kalau lagi bucin " desus karyawan.