ISTRI KECILKU KEKASIH ADIKKU

ISTRI KECILKU KEKASIH ADIKKU
Terungkapnya semua


__ADS_3

" Kenapa harus perkenalan, telepon Roy, kita siapkan semua " kata Deon ponselnya di taroh sembarangan tanpa mematikan.


" Ira, kau bagian keamanan keponakanmu dan kakak iparmu !" kata Deon.


" Leon kau bersamaku, dan papi, cari tempat aman " perintah Deon.


" Ini sudah waktunya Angga tahu, kalau kita masih hidup !" lanjut Deon.


" Siapa itu Ira, apa dia anaku, apa dia anak mas Deon, dari wanita lain, " kata Dahlia, bertanya - tanya.


Angga yang masih intruksi di rumahnya, Dahlia diam - diam mengendap masuk ke mobil Angga bagian belakang, Dahlia penasaran dengan orang yang dia lihat di ponsel.


Angga berangkat menuju Gps, yang terdapat di ponselnya, melacak nomor telepon Zha, sesampainya di sana malam.


Roy, yang baru saja ke luar kantor, dan akan datang ke pernikahan Adi melihat ponselnya, terdapat banyak sekali notif dan panggilan tidak terjawab dari bosnya.


Roy langsung panik, dan mengerahkan beberapa anak buahnya saja.


Angga telah sampai di ke diaman Leon.


" Oh papi, silakan masuk pi !" kata Leon seolah - olah, tidak ada apa - apa.


Angga masuk " Bagai mana kabar kamu nak, ?, sudah tidak lumpuh lagi ?" tanya Angga.


" Seperti yang anda lihat " kata Leon sambil menaikan pundaknya.


Dorrrr !! anak buah Angga yang sudah mengintai dari tadi, mengarahkan pistolnya ke Leon, dan menarik pelatuknya, tapi Leon siap menghindar.


Dorrr. . . ! Deon mengincar dari arah lain.


" Aghhht. . . !" anak buah Angga tumbang satu.


" Ternyata kau tidak sendiri di sini, bajingan !" umpat Angga saat tahu ada yang menembak anak buahnya dari belakang.


" Apa kabar saudaraku, sudah lama kita tidak bertemu, apa kau tidak merindukanku ?" Deon muncul.


" Kau masih hidup ?" tanya Angga kaget.


" Seperti yang kamu lihat !" kata Deon santai.


" Bedebah, kau tidak lebih dari pecundang !" kata Angga.


" Mas Deon. . !" panggil Dahlia akan memeluknya.


Dorr. . ! Angga menembak Dahlia tapi dengan sigap Deon berlari dan mengajaknya jatuh, agar terhindar dari peluru itu.


Brught mereka berdua loncat ke sofa.


" Kenapa kamu ke sini ?" tanya Deon pada Dahlia.


" Aku rindu kalian !" kata Dahlia.


" Ini bukan saat yang tepat untuk merindu !" kata Deon.


Dahlia di dorong Deon mendekati Wijaya.


" Papi !" panggil Dahlia dengan mata berkaca - kaca.

__ADS_1


" Kau sudah bukan anaku lagi, sana kau bela lagi Angga " kata Wijaya.


" Papi ini tetap Dahlia, Dahlia wijaya putri papi !" kata Dahlia meyakinkan.


" Kak Leon. . . !" teriak Zha dari dalam kamar, ternyata anak buah Angga sudah ada yang menyusup ke kamar.


Dorrt. . dorrr dorrr


Ira dengan cepat mengarahkan pistolnya tepat di tubuh lawan dan terkapar.


Ira melempar pistol pada Zha, dan mengajaknya ke luar.


Arka dan Aksa ada di kaki Ira.


" Kau tahu dia Angga ? itu bayi mungil yang akan kau bunuh, di rumah sakit " kata Deon.


" *Bunuh bayi itu ? dia akan jadi penghalang hubungan kita !" kata Angga.


Lalu dua bodyguard datang dan mengambil bayi mungil itu.


" Jangan bunuh adiku. . . . .!"


" jangan bunuh adiku. . . . . !"


" Jangan bunuh adiku. . . . . !" teriak Leonardo anak kecil itu.


Tapi tidak ada yang menghiraukanya, mereka masih tetap membawa bayi mungil yang tidak berdosa itu tadi akan menaiki mobil.


" Urus anak kecil itu, bagai mana caranya agar anak itu tidak mengadu pada siapapun ?" tugas dari Angga sambil menunjuk Leon kecil.


" Lepaskan aku, lepaskan aku, aku yakin ayahku masih hidup, dan akan menyelamatkan dan menjaga kita kalian manusia biadab . . .!" celoteh Leon dengan beederai air mata.


Sesampainya di mobil Seorang pria, merebut bayi mungil dari dua body guard dan segera membawa pergi. para body guard Angga mengejarnya tapi tidak berhasil.


" Biarkan saja, yang penting kita sudah bisa menyingkrkanya !" Kata Angga*.


"Berarti dia anak kita mas ?" tanya Dahlia dan di angguki Deon.


" Ternyata, aku punya anak perempuan, " kata Dahlia terharu.


" Ini mami sayang, ini mami !" Dahlia akan memeluk tapi Ira menolaknya.


" Dan kau tahu dia Angga ?" tanya Deon lagi.


" Dia adalah putra satpam yang kau bunuh, dia anak kecil yang akan kau bunuh juga " kata Deon.


Seorang satpam mendengar percakapan Angga dengan anak buahnya.


" Kenapa, belum di temukan juga mayat Deon. . . !" bentak Angga.


" Maaf tuan !" kata seorang anak buah.


" Sudah setahun. Kalau dia masih hidup bisa mati, kita semua !" bentak Angga.


Seorang satpam yang sedang mengintip ketahuan, membuat Angga marah dan di tembak di tempat, seorang anak berumuran tiga tahun teriak.


" Bapak. . . !" teriak anak kecil, saat Angga akan membidiknya, ada sebuah tangan besar menarik anak kecil itu masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


" Kenapa kau bawa anak kecil ini lagi Deon ?" tanya Wijaya.


" Dia korban, kekejaman Angga juga " Kata Deon.


" Lalu apa rencanamu ?" Tanya Wijaya.


" Aku akan membiayainya hingga dewasa, dia pasti sudah ingat akan kejadian seperti ini !" Jelas Deon.


" Tapi aku akan menyerahkanya, di panti asuhan " Kata Deon.


" Terserah apa rencanamu Deon " Kata Wijaya yang hanya pasrah.


Roy datang, tanpa waspada, lenganya terkena tembak " Aghhht. . !" teriak Roy.


" Apa yang kamu mau Angga, istri dan harta sudah aku berikan semua, kenapa kau masih mengincar nyawa anaku ?" tanua Deon.


" Kau tahu Deon, karena kamu selalu di atasku, keturunanku mati, jadi semua keturunanmu juga harus musnah !" kata Angga.


" Hanya itu?, kau harus terima, karena otak kamu pas - pasan !" kata Deon mengejek.


" Kurang ajar. . !" kata Angga, menarik pelatuk pistolnya, tapi sudah tidak ada isinya.


" Kau sudah tidak bisa apa - apa tuan Angga reksa !" kata Zha.


" Lihat vidio ini, mungkin kau akan di eksekusi mati oleh polisi " kata Zha.


" Roy nyalakan !" kata Zha.


Roy mengeluarkan handicamnya, dan mengarah pada tembok, di situ tertera, dari Angga membunuh Wijaya dan istrinya,


*Ternyata kecurigaanya benar, terdengar suara tembakan dari dalam rumah mertuanya, Deon merasa ke colongan, Deon menelpon anak buahnya, tapi darah sudah bercecer di lantai mertuanya.


Dor. . . !" ternyata masih ada penyusup yang masih tertinggal, untung saja Deon bisa menghindar.


Ternyata dia orang yang di percaya oleh Wijaya sendiri, seketaris Lu.


" Ternyata kau seorang penghianat !?" bentak Deon.


Doooorrrr. . . . ! karena ke lihaian Deon Lu bisa tertembak, tepat di dadanya, dan mati di tempat.


Deon menghampiri ibu mertuanya dia masih hidup, dan papi mertuanya juga masih, saat akan mengangkatnya.


Tapi ternyata rumah itu telah di kepung oleh para penghiananat. Deon tidak bisa bergerak.


" Ber sem bu nyilah di bawah tanah, di bawah sofa itu " tunjuk Wijaya pada sebuah sofa, " selamatkan dirimu, jaga anak - anakmu !" lanjut Wijaya.


" Tapi pi ?" protes Deon.


" Cepat, jangan sampai kau ikut mati, sebelumnya arahkan tanganku pada penghianat itu !" bentak Wijaya, Deon hanya bisa menurut.


Wijaya pura - pura mati, dengan memegang pistol mengarah pada seketarisnya yang sudah jadi mayat, karena ulah Deon. Untuk menghilangkan jejak Deon.


Deon masih terdiam dan mendengar percakapan manusia yang ada di atasnya.


" Semuanya beres bos, dan kebetulan seketarisnya mati juga, jadi kita bisa menguasai hartanya tapi aku tidak menemukan Deon di sini.!" kata seorang pria pelaku pembunuhan.


" Baik bos. . !" katanya lagi setelah mendengar jawaban dari sebrang sana

__ADS_1


__ADS_2