
Zha hamil
...****************...
Keesokan paginya Zha mual, dan muntah - muntah, membuat Leon curiga, dan diam - diam, Leon membeli alat tes kehamilan.
" Kenapa kamu Zha ?" tanya Leon setelah Zha keluar dari kamar mandi dalam keadaan pucat.
" Tidak tahu kak Leon, mungkin Zha masuk angin ?" jawab Zha.
" Apa kamu hamil Zha ?" tanya Leon penuh selidik.
" Jaga mulut kak Leon . . .! " bentak Zha dengan mata berkaca - kaca.
" Siapa tahu ?" kata Leon cuek.
" Selama kita menikah, apa pernah kak Leon menggauliku, menciumku, terus aku hamil dengan siapa ?" tanya Zha dengan air mata bercucuran.
" Arief. ya dengan Arief, kalau kamu ngaku hamil dengan Arief, aku tidak akan menceraikanmu, bagai manapun juga Arief adalah adik kandungku, seperti anak dalam kandunganmu, adalah tanggunganku !" jawab Leon tegas.
" jaga mulutmu kak, . . . ! serendah itu kamu menilaiku, bukan hanya nenilaiku, tapi menilai adik kandungnu sendiri " jawab Zha.
" Tidak perlu kuatir Zha, aku akan menutupinya dengan jadi ayah biologisnya !" jawab Leon.
" Apa buktinya kalau aku hamil, aku tidak suci lagi ? " ungkap Zha.
" Apa kurang jelas, waktu akan keberangkatan Arief ke Swish, kau tidur sekamar dengan Arief, walau aku tidak memergoki secara langsung. ada darah di sprai Arief, apa itu kurang jelas buktinya, kalau kamu hamil atau tidak ini visa memvuktikan " kata Leon sambil melempar tes pak ke arah Zha.
Zha masih menangis, tidak bisa menjawab, ternyata ada kesalah pahaman.
Saat Zha akan menjelaskan.
" Sudahlah, aku akan ke kantor, jaga baik - baik anak Arief aku akan pulang siang, kita ke dokter ?" kata Leon sambil berlalu pergi.
Zha lemas, dan terduduk di lantai sambil meremas alat tes kehamilan yang di beri Leon , rasa mual yang dari pagi berganti rasa sakit hati serasa di tusuk seribu duri.
" Kau jauh berbeda dengan Arief kak, Arief selalu msndengarkan penjelasan, beda dirimu yang langsung menuduh " kata Zha dalam kesendirianya.
" Arief. . . . aku rindu tutur sapamu yang lembut padaku . . .!" teriak Zha dalam kepedihan.
Zha tertidur dalam tangisan air matanya masih menetes.
Leon pulang siang, mendapati Zha masih tertidur pulas dengan wajah pusat dan memeluk foto Arief.
' Kenapa kau tidak bisa membuka hatimu untuku Zha, aku rela berkorban demi Arief untuk jadi ayah biolagisnya agar kau membuka hati untuku ' kata Leon di dalam hati.
__ADS_1
Leon memandang bibir Zha dan ada sedikit gairah. Leon mendekatkan bibirnya pada bibir Zha, dan sedikit **********.
" Ahhh Arief. . !" ******* Zha, membuat Leon menghentikan aksinya.
Saat sedikit membuka mata, Zha melihat Leon ada di dekatnya.
" kak Leon ?" kata Zha.
" Kita kedokter yok ? kita periksa ?" kata Leon lembut.
" Tidak kak Leon, Zha bilang tidak ya tidak !" bentak Zha.
" Apa kamu tidak kasihan psda dirimu sendiri ?" tanya Leon.
" Kalau kamu sakit, Arief bakalan sedih di sana, dan bilang kalau aku tidak peduli " kata Leon masih berusaha merayu Zha.
" Aku ingin menyusul Arief. kak Leon " kata Zha membuat Leon membelalakan matanya.
" Tidak usah seperti itu ?" kata Leon.
" Apa kamu tidak ingin kuliah ?" tanya Leon.
" Tapi kata Arief !" Zha terjeda.
" Ini Leon, bukan Arief. . !" bentak Leon.
Leon yang melihatnya langsung memeluk tubuh mungil Zha,
" maafkan kak Leon, bukan kakak cenburu sama Arief, tapi kak Leon kamu mengungkit Arief lagi yang membuat air matamu jatuh lagi " kata Leon.
Tangis Zha tambah pecah karena kecewa
" Jangan nangis lagi, kamu tinggal pilih, univeraitas mana yang akan kamu masuki ?" kata Leon.
" Dan masalah biaya kamu bisa pakai black card, kartu kredit tanpa limited dari kantor " jelas Leon.
Zha belum bisa menjawab.
Ahirnya mereka pergi ke dokter, tapi Zha tidak mau ke dokter kandungan, Leon hanya bisa mengalah.
" Suami nyonya Zha " panggil dokter pada Leon.
" Iya aaya sendiri pak ?" kata Leon.
" Istri anda menderita magh kronis akut, dan mengalami stres berat, tolong jangan bicara kasar, dan jaga pola makanya, dan satu lagi jangan sampai melakukan suatu hal yang membuat dia teauma mendalam " jelas dokter.
__ADS_1
" Baik dok " kata Leon.
" Ini resepnya " kata dokter.
Leon berpikir, mungkin tidak usah bicara kehamilan lagi, itu bisa membuat Zha stres.
Ahirnya mereka pulang, Zha langsung ke kamar. Leon memesan makanan pakai aplikasi online dan menyuapi Zha.
" Jaga pola makanmu, kau mengalami magh, besok harus sembuh ?" kata Leon sambil mengacak rambut Zha dan menciup kepalanya.
Zha hanya mengangguk.
Saat Leon akan beranjak pergi.
" Apa kak Leon sudah makan ?" tanya Zha.
" Sudah, saat kamu tertidur tadi, ku pikir akan lama menunggumu bangun, jadi kak Leon makan duluan. " jawab Leon.
Saat Leon masuk ke kamar.
" Zha mau kak kuliah !" kata Zha menjawab pertanyaanya Leon siang tadi.
' Emmm " jawab Leon yang masih berkutat di laptopnya..
" Aku ingin kuliag di kampusnya Arief dulu bareng dengan Mita dan Adi " lanjut Zha.
Leon nenutup laptopnya.
" Ya sudah, lusa kalau sudah sempat kita bikin black card, atas namamu untuk sementara pakai ini dulu " kata Leon sambil mengulurkan black card miliknya.
" Aku maunya, ATM saja kak, jadi terserah kak Leon, memberi aku berapa saja, Zha tidak mau black card, nanti malah Zha menggunakan seenaknya " kata Leon.
" Uangku uangmu, semua kebutuhanmu adalah tugasku " kata Leon..
" Besok pakai ini dulu, Lusa kita bikin ATM atas namamu " kata Leon
" Makasih kak Leon ?" kata Zha.
" Tapi ingat, jangan pernah ikut tawuran kayak Arief ?" jelas Leon.
" Oke kak Leon " kata Zha sambil memeluk pinggang Leon.
" Sudah, waktunya tidur, besok harus mengantarmu kuliah " kata Leon.
Leon tidur dengan memeluk Zha sebagai guling.
__ADS_1
' Aku suka kau sudah mulai senyum, aku akan menunggumu sampai kau buka hati untuku ' kata Leon di dalam hati sambil menyingkirkan rambut Zha yang menutupi wajahnya.
' Dan menunggu, anak Arief keluar, kita rawat bersama Zha ' lanjut Leon sambil mengelus perut Zha yang datar.