
Seluruh aset
...****************...
" Kenapa sayang ?" tanya Arief pada Zha yang sudah keluar toko mas. Zha yang masih termenung memikirkan harga perhiasan itu, dia jadi tidak enak hati pada Arief. dia hanya ingin menukar cincinya malah di belikan satu set.
" Tidak usah di pikirkan, karena itu tidak seberapa, di banding kau mendampingi aku " kata Arief sambil mencium keningnya.
" Tapi Rif " kata Zha terpotong.
" Kalau kamu merasa hutang, nanti bayar sampai rumah " kata Arief dengan senyum mesumnya.
" Kalau jadi cewek matre, jangan nanggung " kata Arief.
Di mall bertemu Mita.
" Mit kok di sini ?" kata Zha.
" Ya ini masih temenin nyokap belanja, tapi sudah pulang duluan " kata Mita.
" Kok harus ketemu Alien ini sih ?" gerutu Arief.
Ahirnya Mita di ajak gabung, ikut menghabiskan uang Arief. Arief mau tapi ada syarat kalau Mita ada batasnya beda dengan Zha.
" Iya aku juga tahu, agar tidak ada kesalah pahaman kan? " Kata Mita.
" Tuh kamu sudah pinter Alien " kata Arief.
" Dah mau beli apa lagi ?" tanya Arief.
" Mau beli Es krim " kata Zha sambil lari ke penjual es krim dan memesan tiga. setelah itu mereka ke pusat permainan sampai bosen.
Setelah selesai berbelanja, dengan tangan penuh paper back membuat Zha kualahan.
" Rif. . . !" panggil Zha pada Arief yang jalan duluan.
" Aku susah tau, di bilangin udah belanjanya, malah di terusin " kata Zha.
" Bilang kalau mintak bantuin ?" kata Arief sambil mengambil paper back di tangan Zha.
" Kamu saja yang gak pekaan " kata Zha.
Arief mencium kening Zha supaya tidak ngambek. Mita yang selalu melihat kemesraan Zha dan Arief hanya melengos.
" Hargai dong, ada Alien di sini, nanti pulang ke asalnya, karena gerah bukan karena panas matahari tapi gerah karena lihat kemesraan kalian " gerutu Mita.
" Hargai jiwa jomblo yang meronta Rif " kata Zha.
Bukanya Arief dengerin kata Zha, malah tersenyum sinis Arief menarik pinggang Zha dengan satu tangan dan mencium bibir Zha dengan lembut di depan Mita.
__ADS_1
" Dasar makluk Animasi, makanya tidak punya hati " gerutu Mita.
" Hai Zha " terdengar suara yang tak asing menyapa Zha.
Arief memutar bola matanya malas.
" Hai Ima, kamu di sini " kata Zha.
" Katanya tidak matre, tapi belanjaanya banyak banget ?" kata Ima menyindir Zha.
" Kenapa aku matre juga Arief punya, aku matre juga sama calon suamiku " kata Zha sambil memeluk pinggang Arief.
" Iri. . . ? Bilang bos ?" kata Mita mengejek dan berlalu pergi.
Ima yang di tinggalnya mengepalkan tangan.
Karena sudah lelah, mereka istirahat di cafe mall. memesan makanan dan minuman.
Hari sudah mulai sore, Arief mengantar Mita, dan langsung mengantar Zha.
Setelah sampai rumah Zha, Arief tidak langsung membukakan pintu untuk Zha.
" Aku mau menagih hutang Zha ?" kata Arief.
" Hutang apa Rif ?" Zha bingung. tapi setelah di ingat, Zha mulai ingat.
Arief tidak menjawab, Arief mengelus bibir Zha yang merah muda, membuat candunya sejak pagi tadi.
Cup
Arief mengecup bibir Zha, dan ********** sedikit demi sedikit, belum ada respon.
" Kalau tidak mau merespon, ku gigit bibirmu, dan permainan ini akan lebih lama " ancam Arief di bawah telinga Zha membuat Zha geli dan mendesah, ada desiran halus dal dirinya.
" Ahhh " desah Zha.
Arief tidak mau kehilangan kesempatan, langsung mengobrak abrik isi mulut Zha dengan lidahnya, sesekali berhenti untuk bernafas.
" Ah hum " desah Zha yang di tahan saat Arief bermain di leher jenjangnya.
Setelah puas, Zha mengambil tisu yang ada di depanya dan mengelap yang masih basah.
" Di ajari dua kali sudah mulai pintar " kata Arief sambil mengelus kepala Zha.
Zha hanya tersenyum kecut.
" Terima kash sayang, masuklah " kata Arief sambil membukakan pintu mobik untuk Zha.
...****************...
__ADS_1
Sesampainya di rumah Arief langsung masuk ke kamar Leon dan tidak sengaja melihat hp Leon,
Degg
Di sana ter pampang walpaper foto Zha dan Leon. saat masih sekolah, hati Arief hancur.
' Kenapa kita mencitai wanita yang sama lagi kak ?, dulu Rahma, aku yang mengalah, sekarang Zha, kak Leon yang mengalah ?' pikir Arief.
' Tapi aku yakin sama Zha kak, karena setiap wanita yang dekat denganku bila bertemu dirimu, selalu mengejarmu, beda dengan Zha, dia jauh, jadi dia di takdirkan untuku ' dalam perasaan Arief.
Leon baru keluar kamar mandi lalu menghampiri adiknya yang rebahan di kasur.
" Kenapa ?, ada masalah ? berantem ? atau kehabisan duit ?" tanya Leon melihat adiknya galau.
" Kak, aku boleh titip sesuatu tidak ?" tanya Arief pada Leon.
" Apa ?" pikir Leon bingung.
" Di sini hanya kak Leon yang bisa Arief percaya " kata Arief membuat Leon penasaran.
" Maksudmu ?" tanya Leon.
" Kak Leon tahu kan, kalau aku mencintai Zha, bukan hanya cinta tapi sangat " Cerita Arief.
" Aku titip ini " sambil mengulurkan black card pada Leon.
" Tolong jaga ini untuk Zha, kodenya hanya Zha dan aku yang tahu. di dalamnya penghasilanya adalah hasil usahaku di bali dan masalah aset perusaaanku semua atas nama Zha dan aku titipkan di bank, dan dengan kode yang sama " jelas Arief.
Leon sedikit berpikir. yang bukan - bukan pada Zha.
" Kenapa kamu bodoh Rif, memberi Asetmu atas nama kekasihmu ?" tanya Leon.
" Kak Leon tahu tidak kak ? yang kaya siapa kak, orang tua kita kan ? makanya Arief berpikir sejelek - jeleknya anak pasti akan di bela, sedangkan Zha hanya seorang menantu, jadi aku memilih Zha untuk pemilik asetku. dan tidak selamanya papi kaya terus kak, bumi masih berputar, aku takut kalau papu bangkrut pasrlti aset atas nama Reksa group pasti habis, makanya aku inisiatif buat atas nama Zha " alasan Arief.
" Dan aku yakin Zha perempuan baik, semenjak kita pacaran dia tidak pernah nuntut yang macam - macam di ajak makan di oonggir jalan juga tidak gengsi, lagian kalau aku tidak panjang umur, aku yakin kak Leon bisa menjaganya tolong nikahi dia, rubah hidup dia dan keluarganya " Leon kaget melotot matanya.
Serelah mereka berbincang serius.
Arief dan Leon keluar mendengar perbincangan kedua orang tuanya.
" Bagai mana pi dapat ?" tanya Dahli pada suaminya yang baru sampai.
" Tidak mi, telat lima menit " jawab Angga.
" Maksudnya pi ?" tanya Dahlia lagi.
" Waktu tanya yang ada di indonesoa, tadi pagi sudah ada yang mengambil, ada latanya yang di Swis, itu merk nomor tiga, saat di hubungi, baru saja di pesan dan langsung do bayar lunas " Cerita Angga.
" Kenapa tidak papi bayar dua kali lipat " tanya Dahlia.
__ADS_1
" Mana boleh mi, dia memegang amanat " kata Angga.
" Apa mi, pi ?"