
Mau matre sehari saja
...****************...
" Aku kangen, dan ingin mengajak kamu jalan, semenjak skripsi, wisuda sampai mau pergi kamu sibuk terus kamu jarang ada waktu untuku ?" kata Zha.
" Maaf sayang. . . !" kata Arief singkat.
" Apa kamu sudah bosan sama aku, ?" tanya Zha mengerucutkan bibirnya.
" Kamu ngomong apa sih ? ya tidak lah, kamu sendiri tidak pernah mintak aku ajak jalan kamu ?" kata Arief.
" Kamunya saja yang tidak peka " kata Zha menyalahkan Arief.
" Iya maaf ?" kata Arief menarik Zha dalam pelukanya.
Di luar.
" kenapa bik kok ada keributan tadi ?" tanya Dahlia.
" Nona Zha datang, ada di kamar den Arief " jawab bi Sumi.
Dahlia membelalakan matanya.
" Tumben amat, anak itu datang kemari, biasanya kalau tidak di jemput Arief mana mau datang sendiri " kata Dahlia.
Dua insan masih di dalam kamar.
" Emang mau jalan ke mana ?" tanya Arief.
" Aku pingin ke mall !" kata Zha.
" Ha ha ha ! cuman ke mall ?" tanya Arief.
" Iya, emang ngapa ?" tanya Zha.
" Apa sudah buka mall jam segini ?" tanya Arief balik.
" Ya nanti lah kalau sudah buka " kata Zha.
" Emang kamu mau apa sayang ke mall ?" tanya Arief.
" Mau BAB " jawab Zha menanggapi pertanyaan Arief yang seperti wartawan.
" Ya belanjalah, masa mau apa lagi kalau ke mall ?" lanjut Zha.
" Kirain benar mau BAB !? " jawab Arief.
" Aku mau jadi cewek matre sehari, aku mau bantuin habisin duit kamu aku pengen beli barang brendit " kata Zha pada Arief.
" Ha ha ha. . ! selamanya juga tidak papa Zha " jawab Arief.
" Saya juga mau jual ini, ini kesempitan tauk " kata Zha sambil menunjuk cincin yang di belikan Arief saat melamar dulu.
" Kanapa tidak ngomong dari dulu kalau kekecilan ?" tanya Arief.
" Ya gak enak lah, nanti di kira nolak rezeki ! " jawab Zha.
__ADS_1
" Tapi sebelumnya tolong bantuin lepasin dulu " kata Zha.
" Dasar wanita ribet bener . .! Sini saya bantuin " kata Arief.
Arief segera memegang jari Zha.
" Au Rif sakit tau pelan - pelan !" teriak Zha.
" Ini sudah pelan Zha .!" kata Arief.
" Au ahh kenapa susah Rif, sakit lah ?" kata Zha.
" Kalau tidak mau sakit jangan nantang ! " kata Arief.
" Mending kasih plumas Rif, biar Licin, biar gampang " kata Zha.
" Malas ah, harus beli oli ke bengkel " kata Arief.
" Pakai Hand body aja " kata Zha.
" Oh ya, sebentar kamu tunggu di sini, tetap dalam posisi seperti ini " kata Arief.
Ahirnya mereka masih berkutat di situ.
" Ahhh Zha ahirnya berhasil !" kata Arief langsung loncat - loncat di kasur.
" Tapi sakit tau ?" Bentak Zha.
kasur yang buat Arief loncat berdecit.
" Mami, papi," kata Arief yang masih berdiri di atas kasur dengan boxer dan kaos santai, sedang memegang cincin.
" Tidak, papa, ya sudah kamu mandi, di tunggu sarapan di bawah " Kata Dahlia menahan malu, ternyata anaknya tidak ngapa - ngapain, hanya melepas cincin.
Zha juga kaget hanya melongo.
Di meja makan. Arief memakan nasi goreng buatan Zha.
" Tumben ke sini pagi Zha, ?" tanya Dahlia.
" Tidak apa - apa mi, hanya ingin main saja ?" kata Zha.
" Emang hari ini kalian ingin main ke mana ?" tanya Dahlia.
" Mau main ke mall mi, Zha mau jadi cewek matre sehari mau bantuin Arief ngabisin duit. " jawab Arief membuat semua tertawa.
Zha sebel sama Arief, karena ngomong jujur pada orang tuanya. dan menginjak kaki Arief yang ada di sampingnya.
" Auu sakit, " teriak Arief. membuat senyum seisi meja makan.
" Ya baguslah kalau ada yang bantuin habisin duit Arief, biar semangat cari duit lagi " Jawab Angga.
Setelah selesai sarapan semua telah siap pada aktivitasnya masing - masing.
Arief dan Zha menuju mall, mumpung masih pagi belum sebegitu Ramai.
Tujuan utama mereka langsung menuju toko mas, dan menukar cincin. Arief memberi peluang untuk Zha memilih cincin sendiri.
__ADS_1
Tapi Zha memilih cincin tidak ada yang suka.
" Emang yang kamu mau gi mana sih Zha ?" kata Arief yang melihat Zha bingung nemilih.
Zha langsung mengeluarkan hpnya dan menunjukan foto satu set perhiasan berlian langka, tapi yang di tunjuk hanya cincinya.
" Aku ingin cincin seperti ini " kata Zha.
Arief langsung melongo. Bukan karena harganya, tapi selera tunanganya besar juga, mungkin Zha belum tahu harga satu set perhiasan itu sama dengan sebuah mobil lamborgini.
" Ada mbak ?" Tanya Zha.
" Mbak perhiasan ini belinya harus satu set, dan di dunia ini hanya ada delapan, makanya sulit mbak cari perhiasan itu, !" jelas karyawan toko emas.
" Jadi mahal banget ya mb, ya sudahlan aku pilih yang lain saja ?" kata Zha mengalah.
" Kenapa di toko ini tidak jual perhiasan itu ?" tanya Arief tiba - tiba.
" Ada tuan kemarin tapi sudah di ambil orang, tapi yang sedikit lebih rendah harganya dari itu " jelas tokonya.
" Oh kamu, " kata Koh pemilik toko mas.
Arief langsung menceritakan tujuanya kemari.
" Kalau tidak salah yang sama persis seperti itu ada di Swis nak tempat teman saya, kalau belum di lelang !" Cerita koh.
" Sudah koh, tidak usah, Zha pilih yang lain saja, lagian barang itu pasti mahal banget ya tidak Rif !?" kata Zha sambil memandang Arief.
" Tidak bisa, kamu harus bisa nendapatkanya bagai manapun caranya okey ?" kata Arief pada Zha.
" Kalau gitu hubungi teman koh, kita siap bayar, berapapun harganya ?" kata Arief.
" Tapi Rif, itu terlalu mahal. !" kata Zha menolak.
" Tidak ada yang mahal untuk kamu !" kata Arief.
Ahirnya koh menelpon temanya yang ada di Swis, menanyakan barang yang di pesan pelangganya.
Koh itu menghampiri Arief.
" Ada nak, tapi hampir saja di ambil pelanggan, tadi kalau telat satu menit saja sudah di ambil orang " jelasnya.
" Tapi barang itu tidak bisa di kirim, harus di ambil sendiri, takut di sabotase di jalan karena barang itu langka, tapi adanya yang yang nomor tiga, yang nomor satu sudah di ambil permaisuri Mesir tapi modelnya beda, kalau ini memang pantas untuk mas kawin atau wanita muda, tidak berkesan mewah. " jelas Koh.
" Kalau gitu, lusa aku ambil ke Swish koh ?" kata Arief.
" Oke akan segera aku hubungi lagi " kata koh.
" Berapa Koh ?" tanya Arief.
Setelah menyebutkan harganya Arief mengulurkan kartu kreditnya.
" Kenapa sayang ?" tanya Arief pada Zha yang sudah keluar toko mas. Zha yang masih termenung memikirkan harga perhiasan itu, dia jadi tidak enak hati pada Arief. dia hanya ingin menukar cincinya malah di belikan satu set.
" Tidak usah di pikirkan, karena itu tidak seberapa, di banding kau mendampingi aku " kata Arief sambil mencium keningnya.
" Tapi Rif " kata Zha terpotong.
__ADS_1