
putra srorang mafia
...****************...
" Kau yakin Zha, Deon adalah ketua mafia yang sadis Zha !" kata Leon.
" Kau ingat kak, waktu Zha di jahati oleh Susi, Zha hampir ke guguran pak Deon lah yang menolongnya, saat tujuh bulanya hamilnya Arka dan Aksa dia yang menggendong Zha, yang merekomendasikan, restauran Zha itu juga dia, sepertinya dia dalam diam melindungi kita !" kata Zha.
" Tapi aku kuwatir, dan kau sedang mengandung anaku sayang !" kata Leon.
" Jika dia ayah kandungmu, tidak mungkin dia membunuhku, karena aku ibu dari cucu - cucunya !" kata Zha
" Yakinlah kak, percaya pada Zha !" kata Zha meyakinkan Leon.
Leon diam sejenak, berpikir keras.
" Baiklah, tapi kau harus bawa pengawal tangguh " kata Leon menyetujuinya.
" Berarti Ira adiku, apa benar dalam mimpiku itu nyata, kalau aku punya adik perempuan ?" kata Leon.
" Bisa jadi kak !" jawab Zha.
" Pantas dia bebas mencium dan memeliku, seperti tidak ada jarak " kata Leon.
" Tapi biarpun dia adikmu, tapi aku jiga cemburu kak !" bentak Zha.
" Ya sayang, maafkan kak Leon ya ?" kata Leon sambil mengusap kepala istringa dengan gemas.
Leon tidak bosa tidur, karena memikirkan istrinya yang akan pergi ke tempat Deon.
" Sayang, maafkan aku tidak bisa melindungimu ?" kata Leon sambil mengusap kepala istrinya.
" Kau wanita lemah, tapi kau cerdas kau bisa melindungiku dengan mengerahkan pikiranmu, terima kasih Arief, kau telah menitipkan malaikat kecil, dan manja untuku " kata Leon dalam kesedihan.
...****************...
" Kak, Zha berangkat dulu ya ? sekalian mengantar Arka dan Aksa sekolah ?" pamit Zha setelah memakaikan perlengkapan di tubuh Leon, supaya tidak mencurigakan kalau Leon lumpuh pura - pura.
" Kau hati - hati sayang, maafkan kak Leon, tidak bisa melindungimu, dan harus kau tahu, kak Leon sangat mencintaimu dan tidak ingin kehilanganmu " kata Leon.
" Kak Leon cukup do'akan Zha, semoga berhasil, dan segera menemukan siapa sebenarnya kak Leon, dan motif apa Angga menginginkan nyawa kak Leon " kata Zha.
__ADS_1
" Hati - hati sayang !" kata Leon, melihat Zha pergi.
Zha pergi menuju di mana markas mafia Red devil, Zha memasuki semak, dan terdapat sebuah gedung besar, yang sepertinya sudah lama tidak di tempati.
Zha masuk perlahan dengan ke dua anak buahnya, dan ternyata ada yang menyambutnya dan membawanya ke sebuah ruangan, ternyata di dalam gedung itu ada sebuah taman, terlihat ruangan mewah di dalamya.
" Jadi ini markas mafia, agar bisa mengelabuhi lawan, benar kata kak Leon " kata Zha dalam hati.
Seorang pengawal menunjukan ruangan Deon, tanpa ketuk pintu Zha langsung masuk.
" Sepertinya Zha sudah mengetahui siapa anda ded, dan sudah tahu kalau Angga menginginkan nyawa keluarga kecilnya. . !" kata Roy pada Deon.
" Biarkan saja, cepat atau lambat, mereka pasti tahu !" kata Deon.
"Aku bangga punya menantu seperti dia, dia punya komitmen, dan selalu percaya dengan suaminya, tidak seperti Dahlia" jelas Deon.
" Dia juga sanggup bertahan, dengan Leon yang keras !" kata Roy.
" Maksudmu ?" tanya Deon.
" Dia habis terkena tamparan lagi dari Leon, karena cemburu denganku !" kata Roy.
" Memang bodoh Leon. . !" kata Deon.
" Roy, ternyata kamu di sini, ternyata kau penghianat juga, kau bilang kau mengurus adik pantimu !?" kata Zha kecewa pada Roy.
Roy dan Deon kaget, melihat kedatangan Zha yang tiba - tiba.
" Zha dengarkan aku. . !" kata Roy, tapi Deon menyuruhnya diam.
" Ada apa kamu kemari Zha ?" tanya Deon.
" Aku ke sini mau bertanya ?" kata Zha.
" Bertanyalah kalau mau bertanya ?" kata Deon sambil melipat tanganya di dada.
Zha mengeluarkan beberapa foto, yang di ambil dari album kemarin.
" Apakah benar ini diri anda ?" tanya Zha tegas
" Ya ini saya, dari mana kau dapatkan ini ?" tanya Deon.
__ADS_1
" Anda tidak perlu tahu, berarti kau ayah kandung dari kak Leon ?" kata Zha dengan nafas naik turun menahan emosi.
" Ya. . !" jawab Deon singkat.
" Kau ayah kak Leon, ayah model apa anda ini, di mana hati nurani anda, di mana anda saat anak anda susah, di mana anda saat nyawa anak anda terancam, atau jangan - jangan ini semua korban dari anda, atas perbiatan anda ?" kata Zha, menahan air mata.
" Kau boleh menghinaku seperti apa saja, aku seperti ini juga karena aku ingin melindungi keluargaku " kata Deon.
" Melindungi bagai mana anda ?" tanya Zha.
" Sudah seharusnya kau tahu, Leon putra seorang mafia, aku tidak mau Angga tahu kalau aku masih hidup !" kata Deon.
" Maksudnya ?" tanya Zha.
" Sekitar dua puluh lima tahun yang lalu, Angga sahabatku, ku kira dia bisa aku percaya, ternyata tanpa sepengetahuanku dia mencintai istriku, sejak masih di bangku kuliah " Deon mulai cerita.
" Dia bersikap baik padaku, sampai aku rekomendasikan dia pada mertuaku, karena kita hidup dari kecil di panti asuhan yang sama, mertuaku juga percaya, aku yang merasa punya orang tua lagi merasa bahagia karena di sayang oleh kedua mertuaku "
" Ternyata dari itu semua tertanam niat jahat di diri Angga, dia tidak hanya ingin istriku, tapi ternyata dia ingin menguasai hartaku dan mertuaku "
" Lalu dia membunuh ke dua mertuaku, dan membuangnya ke jurang, hanya untuk berkedok memfitnahku tapi aku beruntung bisa menyelamatkan ayahku "
" Setelah itu, dia membunuhku, di depan Dahlia, dengan cara memfitnahku kalau aku telah membunuh ke dua orang tuanya, dan membuangku ke jurang, untuk menghilangkan jejak untung saja aku tersangkut di akar, sedang Dahlia, tidak ada perlawanan membelaku "
" Leon yang masih kecil, ia bikin lupa ingatan, dan anak ku yang ke dua, akan Angga bunuh beruntung aku bisa menyelamatkanya "
" Arief juga pernah ke sini agar aku tidak mengambil kakaknya, karena hanya Leon yang peduli denganya !"
" Kenapa kau menangis Zha ?" tanya Deon sambil mendekati Zha.
" Aku masih belum percaya apakah benar, kau ayah dari suamiku, apakan aku bermimpi ?" tanya Zha.
Deon membuka jasnya dan merobek baju putih yang di lenganya.
" Kau lihat ini Zha, apa Leon juga punya ini ?" tanya Deon menunjukan tanda lahirnya yang sama dengan Leon.
" Kau tidak mimpi Zha. . !" bentak Deon.
" Kenapa aku harus jadi menantu seorang ketua mafia. . . !" teriak Zha histeris.
" Jika tuhan, memberi jalan lain mungkin aku pilih jalan lain, aku sebenarnya juga tidak mau Zha hidup seperti ini, harus bermandikan darah setiap tugas " kata Deon.
__ADS_1
" Kau tahu Zha, aku ingin hidup keluarga yang lain, mengurus anak, membesarkan anak kita bersama, tapi semua itu kandas, karena jalan yang kuasa " kata Deon, memapah Zha yang menangis di lantai.
" Aku mau pulang, paling tidak aku sudah tahu siapa sebenarnya suamiku dan memberi tahu anda, putra dan cucumu dalam bahaya, aku hanya seorang perempuan, aku butuh bantuan anda, kalau anda benar - benar peduli dengan keluarga anda " kata Zha.