
" Dia mirip kamu !" kata Deon.
" Apa kau masih marah denganku mas ?" tanya Dahlia, sambil menggendong cucunya.
" Tidak, masa lalu lupakan, sekarang yang aku pikirkan,hanyalah masa depan anak - anak kita " kata Deon.
" Tolong berikan ini pada Zha !" kata Dahlia sambil mengulurkan sebuah kertas.
" Huh hu hu hu. . !" Dahlia menangis sesenggukan, rasa yang dia tahan tidak bisa di tahan lagi, Deon mengambil baby dalam dekapanya, tapi malah di pegang erat.
" Maafkan oma sayang, ibumu menderita semua gara - gara oma hu hu hu. . !" kata Dahlia langsung mengejang.
Dahlia langsung membuka pelukanya pada cucunya, Deon panik, langsung memanggil dokter.
" Segera ambil tindakan, kita oprasi sore ini juga " teriak sang dokter pada perawatnya.
Di depan ruang oprasi, Adi mondar mandir, dan tidak sengaja menabrak Wijaya. Wijaya yang sedang melihat foto istrinya seketika kaget dan menjatuhkan dompetnya.
Adi kaget melihat foto itu.
" Bikanlah ini foto nenek, yang menunjukan jalan aku ke persumbunyian Zha !?" terang Adi.
" Dia sudah meninggal nak, dia istriku, yang di bunuh oleh Angga " jelas Wijaya sambil mengusap air matanya.
" Benar kek, tidak salah lagi, tapi setelah Adi tahu persembunyian Zha, Adi lupa dengan nenek itu " jelas Adi.
" Berarti dia memberi petunjuk, bahwa anak cucunya dalam bahaya !" kata Wijaya.
Operasi Leon dan Dahlia berjalan lancar, Leon sudah di pindah ke ruang rawat.
Dahlia akan di makamkan di Bandung, di dekat ibunya, saat Deon akan ikut di larang oleh Wijaya.
" Kau jangan ikut, tunggu, menantu dan anakmu, biar aku dan Ira yang mengurusnya, kau juga harus bisa ambil hati putramu " kata Wijaya.
" Deon, sepertinya tidak bisa pi !" kata Deon.
" Kau ingat kata Zha, sifat Leon sama dengan dirimu, kalau kau menyerah dengan Leon, sama saja kau menyerah dengan dirimu sendiri !?" kata Wijaya dan di angguki Deon.
Sedang ke dua putra Leon akan menerobos ke kamar Zha tapi di halangi beberapa suster.
" Kalian tidak punya hati ya, yang di dalam itu ibu kandungnya, sedang ayahnya masih koma " omel Adi pada suster.
" Tapi peraturan di sini anak kecil tidak boleh menemui pasien !" kata suster.
" Siapa tahu ada ke ajaiban dengan anaknya masuk, dia punya semangat, dan sadar " kata Roy.
" Bli bli. . !" panggil suster pada dokter muda. membuatnya mendekat.
__ADS_1
" Anak kecil ini, ingin menerobos masuk !" kata suster.
" Hai bro ! mau ngapain kamu masuk? " tanya dokter, pada kedua anak kembar itu.
" Kami kangen sama bunda bli, ingin lihat bunda !" Kata Arka.
" Baiklah, tapi jangan nakal ya ?" kata dokter yang menangani Zha dan di angguki Arka dan Aksa.
" Tapi tos dulu sambil kenalkan nama kalian. . !" pinta dokter itu melihat lucu kedua bocah itu.
plak " kak Arka " kata Arka langsung masuk.
plak " Adik Aksa, tapi sekarang sudah jadi bli !" kata Aksa, di senyumi oleh dokter muda.
" Jadi selamat untuk bli Aksa, dan bli Arka " kata dokter.
" Bla bli, bla bli, dari tadi apa sih ?" kata Adi penasaran.
" Dongok, bli itu artinya kakak !" kata Roy.
" Pantas saja, tadi ada cewek menyapa ku katanya bli, aku bilang tidak, pantas saja ceweknya tertawa ku kira menawari dagangan " kata Adi konyol.
" Ha ha ha. . kau memang dongok Di !" tawa Roy, yang baru kali ini di lihat Adi, sedang Adi menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil nyengir kuda.
Dokter muda geleng kepala, melihat tingkah kekonyolan Adi.
Arka dan Aksa masuk di iringi Adi dan Roy. dan naik ke brankar Zha.
" Dan ada kabar bahagia lagi, operasi ayah sukses, jadi ayah tinggal menunggu sadar, pasti dia menunggu bunda " kata Aksa.
Zha membukanya pelan - pelan.
" Kak Leon " panggil Zha.
Adi langsung memanggil dokter, saat dokter datang Zha sudah bermain dengan ke dua putranya, lalu dokter itu memeriksa Zha, semuanya sudah normal.
" Boleh aku bertemu dengan putriku dok ?" tanya Zha, dokter mengangguk.
Dan segera bayi mungil datang dan di peluk Zha.
" Bunda, dia mirip ayah, dan punya senyum manis seperti bunda, pandanganya seperti menciptakan ke damaian !" kata Arka.
" Kalau dia mirip ayah, berarti mirip kalian " kata Zha.
Deon masuk, melihat Zha dan mencium pucuk kepalanya.
" Bagai mana keadaan mami dad ?" tanya Zha.
__ADS_1
Deon menceritakan semuanya dan memberikan secarik kertas dari Dahlia, Zha membacanya dengan bercucuran air mata, Deon penasaran, lalu Zha berikan pada Deon oleh Zha.
" Dad, bisa antarkan Zha ke tempat kak Leon !?" kata Zha,
Deon mengangguk dan menggendong Zha ke kursi roda.
" Kak Leon bangun, tiga malaikat kecilmu menunggumu !" kata Zha mengelus pipi Leon.
" Ayah, bangun, kita ke datangan anggota baru, yang ayah inginkan " Kata Aksa.
" Ayah bangun putri ayah, telah launcing ke dunia " kata Arka.
Zha mencium wajah Leon, yang tertidur miring menghadap pada Zha.
Leon membuka matanya, yang dia pandang pertama adalah Zha.
" Sayang, kau sudah menunggu lama ?" tanya Leon, Zha geleng kepala.
Leon menggerakan badanya akan terlentang.
" Kak Leon jangan, luka jahitanya, bisa robek lagi " kata Zha sambil menahan tangan Leon.
" Ayah, apa ayah tidak ingin melihat malaikat kecil ayah ?" kata Aksa sambil mengelus pipi adik perempuanya yang di pangkuan Zha.
" Dia, lahir seperti cahaya, aku ingin dia membawa ke damaian, dan ini ahir dari penderitaan kita ayah !" kata Aksa sambil meneteskan air mata.
Adi, Roy, dan Deon ikut meneteskan air mata.
" Ayah juga berharap seperti itu Aksa, semoga ini ahir dari perjuangan kita dan kita akan hidup damai ?" kata Leon.
" Arka punya nama untuk adik " kata Arka.
" Siapa ?" tanya Zha.
" Cahaya !" kata Arka.
" Kenapa kau pilih nama itu ?" tanya Leon.
" Dia akan menghadirkan cahaya ke damaian, Cahaya kebahagian, dan Cahaya bagi kita ayah !" kata Arka.
" Ayah setuju, kita beri nama Cahaya leonardo " kata Leon.
" Ayah tidak pernah salah, memberi nama Arkana, karena kau bisa pemimpin yang bijaksana Arka bisa melindingi adikmu, dan kau Aksa, kau anak ayah yang hebat, hatimu lembut seperti bundamu, ayah percaya kalau kalian bisa menjaga Cahaya " kata Leon.
Deon keluar dengan menangis tersedu - sedu, melihat ke bahagiaan putranya.
" Kau kenapa Deon !?" tanya Wijaya yang baru datang, Deon menggeleng.
__ADS_1
Wijaya melihat ke romantisan keluarga Leon.
" Cukup sudah penderitaan yang aku ciptakan pada keluargaku papi " kata Deon.