
Kembali ke Zha yang telah sampai di vila tengah hutan.
Dan di sambut, oleh banyak prngawal.
" Kau kira aku ini harimau apa, haris di tengah hutan ?" kata Leon pada Deon.
" Bukan, tapi bisa di bilang, kucing hutan !" kata Deon.
" Anak kucing, dan bapak kucing berantem lagi " kata Zha.
" Zha. . . !" Deon dan Leon kompak.
" Kalian boleh berantem, tapi ingat ya, jangan di depan anak - anaku " kata Zha sambil menutup pintu kamar, dengan ke dua putranya.
" Zha aku lapar. . " teriak Leon pada Zha.
" Kita pesan pitza saja, atau masakan padang ?" tanya Deon.
" Aku tidak terbiasa seperti anda, hidup tanpa istri !" kata Leon.
" Dasar. . !" kata Deon akan menonjok Leon, tapi Zha sudah ke buru keluar.
" Kalau bapak, sakiti kak Leon, sama saja menyakiti diri sendiri, kalau bapak, tidak suka dengan sikap kak Leon, sama saja tidak suka dengan sikapnya sendiri, karena kalian mempunyai karakter yang sama " kata Zha yang baru keluar dari kamar.
Deon merasa dongkol dengan anaknya sendiri, tapi yang di bilang Zha ada benarnya juga.
Zha pergi menuju dapur, dan hanya menemukan mi instan dan telor, sedang ada beras, tidak ada satu liter.
Zha punya akal, Zha masak mi dan telor saja, dan nasinya untuk ke dua putranya dan dia.
" Kak Leon. . !" panggil Zha.
" Sudah siap sayang ?" tanya Leon sambil mencium pipi istrinya. Zha mengangguk.
Saat Leon lihat " Kok cuman ini sayang ?" tanya Leon.
" Di lemari hanya ada ini kak, terima saja ya ?" kata Zha memelas.
" Katanya mafia kaya, tapi di lemari adanya hanya mi instan !" kata Leon sambil melirik Deon yang ikut masuk ke dapur.
" Kok cuman satu Zha, aku mana ?" tanya Deon.
" Ini pak. . !" kata Zha menyodorkan satu mangkuk.
" Kamu mana ?" tanya Deon.
" Zha nunggu nasi saja " kata Zha.
" Ada nasi kok kak Leon hanya di kasih mi ?" tanya Leon.
" Nasinya hanya sedikit kak, kedua putramu dan baby satu ini belum makan dari pagi !" kata Zha sambil mengelus perutnya.
" Maafkan aku sayang, aku sampai lupa, mengotrol makanmu ?" kata Leon mencium kening Zha.
__ADS_1
" Boleh nambah tidak ?" tanya Leon.
Zha mengangguk.
" Aku sekalian Zha !" kata Deon.
" Dia istriku, bukan pembantumu !" bentak Leon pada ayahnya.
Deon hanya tersenyum melihat tingkah posesif putranya.
setelah menyiapkan dua mangkuk lagi buat ayah dan anaknya, Zha memanggil ke dua putranya dan memberinya nasi dan telor dadar.
" Ayah, tidak ada susu ya ?" tanya Arka.
Leon langsung tersendak " Uhuk uhuk. . !"
" Maafkan ayah sayang, ayah tadi lupa !" kata Leon.
" Pantas bunda tadi lemas, belum makan dan telat susu " kata Aksa.
Leon baru sadar ternyata ke dua anaknya memikirkan bundanya.
" Sudah bunda tidak apa ?" kata Zha.
" Ayah carikan ayah. .Arka sama Aksa tidak nyusu tidak apa, yang penting bunda " pinta Arka.
" Tidak usah sayang, inikan sudah malam ?" kata Zha.
" Tenang ! kan ada kakek !" kata Leon sambil melirik Deon. Deon melotot tidak percaya.
Deon bingung mencari susu hamil, dan susu untuk cucunya, ahirnya tanya pada kasir.
Semua susu hamil yang mahal, dan susu anak berbagai merk, di ambil dan cemilan ke biasaan Zha.
Sesampainya di rumah, Deon langsung membuatkan susu untuk menantunya.
" Huek. . . !" Zha merasa mual membuat Leon emosi.
" Kau mau membunuh istriku ya ?" tanya Leon.
Leon lalu melihat merk dan rasa susunya, ternyata bukan yang di mau Zha.
Saat melihat ke dapur, susu berbagai merk, yang tidak cocok, lalu di sisihkan.
" Lalu mau buat apa Leon, kalau tidak di minum? " kata Deon.
" Buat nyusuin kucing hutan yang hamil !" kata Leon.
" Bagus juga ide kamu, kau selalu tahu, kalau mereka tidak pernah di belikan susu sama suaminya ha ha ha. . !" tawa Deon membuat Leon melongo, di kiranya akan marah.
" Crazy. . !" hanya itu yang keluar dari mulut Leon, sambil berlalu, membawa satu gelas susu untuk istrinya.
Ke esokan harinya, Wijaya dan Ira datang, Deon memperkenalkan pada ke dua cucunya, eyang dan tantenya.
__ADS_1
" Kau sehat cucuku ?" kata Wijaya sambil mencium kepala Zha, membuat Leon geram.
" Hai kakek genit, berani sekali, kau cium kepala istriku, tanpa komando !" bentak Leon.
" Sama kakeknya sendiri saja cemburu ?" kata Wijaya santai sambil duduk, dan menaikan satu kakinya di atas lutut.
" Maksudnya apa ini, kenapa banyak teka teki dalam hidupku ?" tanya Leon.
" Dia kakekmu, ayah mamimu, pemilik Wijaya corp " kata Deon.
" Aku yang di bunuh Angga, tapi bisa di selamatkan deddymu, sedang nenekmu harus meninggal " kata Wijaya.
" Dan dia, adikmu, yang kau janjikan akan kau jaga waktu baru lahir " kata Deon sambilvmenunjuk Ira.
Ira dengan santai memakan permen karet lalu memeluk Leon.
" Lepas " kata Leon sambil mendorong Ira.
" Aku tidak terbiasa di sentuh orang asing " kata Ira.
" Woy bodoh, aku ini adikmu, dari ayah yang sama dan ibu yang sama, tidak seperti tikus kecil itu, dia hanya orang asing " kata Ira sambil menunjuk Zha.
" Jaga mulutmu, dia istriku, bukan hanya satu darah, tapi dia separuh nyawaku !" bentak Leon.
" Cuih. . persetan dengan cinta. .. !" decak Ira.
Tidak ada hari tanpa perdebatan antara Leon dan keluarganya, karena Leon belim bisa menerima semua.
Saat santai pagi.
" Ku dengar, setelah kamu sembuh kau mau di gugat cerai Leon ?" tanya Wijaya.
" Bukan mau Zha kek, tapi kak Leon yang meminta " kata Zha.
" Srbenarnya kakek berat, kalau kau harus pisah dengan cucu kakek, siapa uang akan mengendalikan emosinya tapi mau gi mana lagi, bagai mana kalau kamu nikah saja sama daddynya ?" tanya Wijaya menggoda Leon.
Brakkkk. Leon menggedor meja dengan mata memerah.
" Tidak akan ada yang boleh menyentuh istriku, tanpa terkecuali kau, walaupun kau daddyku !!" bentak Leon sambil menodongkan pistol di kepala Deon.
" Walaupun kau menyelamatkan nyawaku ! "
" Sekarang Zha kau pilih aku atau dia ?" tanya Leon, membentak Zha sambil menodongkan pistolnya ke arah Deon.
" Dia. . !" sambil menunjuk Deon.
" Dasar cewek centil, aku tidak akan setuju, kalau punya mami tiri, tikus kecil !" kata Ira.
" Jawab sekali lagi Zha, akan aku porak porandakan otaknya !" teriak Leon.
" Dia " Leon siap menarik pelatuk pistolnya.
" Kau tahu kak, berpikir itu pakai, otak dan akal, bukan dengan nafsu dan emosi " kata Zha singkat sambil berjalan menuju kamar dan membalikan badan lagi.
__ADS_1
" Kedewasaan itu bukan di ukur dari umur, tapi dari otak dan pikiran, tidak hanya pakai logika, tapi dengan perasaan dan hati, jika aku wanita yang gampang terpengaruh, mungkin aku sudah menyerah menjadi istrimu, apa lagi saat aku tahu siapa dirimu !" kata Zha, berbalik menuju kamar, di mana ke dua putranya bermain.
" Kalian masih seperti Dahlia, ceroboh, dan berpikor, pakai dengkul, tidak pakai otak, yang kau bilang anak kecil saja bisa berpikir jernih !" kata Wijaya menyalahkan ke dua cucunya