
Satu kamar
...****************...
' Ini firasat Zha Rif, hubungan batinmu dan Zha sudah sangat dekat Rif ' kata Leon di dalam hati.
' Semoga kau masih hidup, kasihan kekasihmu kalau harus kehilangan kamu, baru di pamit sekolah sudah sesedih itu, apa lagi kalau dengae kabar kamu hilang, mungkin dia bakalan tidak sadarkan diri ' kata Leon di dalam hati.
Leon ahirnya berangkat, tanpa pikir panjang, sedang Zha masih asik bermain dengan Arief atau arwahnya.
Zha merasa bahagia tenang dan damai saat di pelukan Arief. dan setiap pagi selalu solat berjamaah dengan Arief. tapi setelah itu entah ke mana Ariefnya.
Tapi Zha masih penasaran dengan wajah Arief dengan wajah pucatnya, dan tanpa baju hanya kaos cangklong yang di pakai berenang tadi.
Saat Zha akan nonton tv, di larang oleh Didik, seluruh lantor juga sudah di kode tidak membicarakan tentang Arief di kantor,
Semua orang berduka. tapi tidak dengan Zha, Zha selalu cerita dengan Mita membuat Mita ingin menangis.
' Alangkah halunya Zha kalau Arief ke rumahnya '.
Karena itu Mita sudah tidak kuat lagi menahan seberapa menderitanya sahabatnya itu ahirnya bercerita.
Cerita itu bukanya di respon baik oleh Zha, malah di tuduh mengada - ngada, karena Mita pernah nemendam rasa cinta pada Arief.
Ahirnya Mita membawa Zha kekediaman Angga, memang semenjak kepergian Arief, Zha tidak pernah bermain ke sana.
Sedang Leon sudah tiga hari di sana belum berhasil menemukan Arief. padahal tim sar gabungan sudah di kerahkan, namun nihil.
Ahirnya Leon pulang ke Indonesia, dan keluarga Angga sudah mengiklaskan.
Empat belas hari sudah dalam keputus asaan ahirnya mendapat telepon dari pamanya kalau jasad Arief telah di temukan dalam keadaan utuh. tapi pigak pokisi juga harus mengikuti prosedur jadi harus nelakui otopsi.
Ahirnya Leon dan Angga memutuskan akan terbang pakai pesawat pribadi supaya cepat. baru buka pintu Zha sudah di depan pintu, belum ada air mata, tapi setelah mendengar pernyataan Leon tangis langsung pecah, saat pulang ke rumah dia pun merasa depresi masuk ke kamarnya penuh dengan kenangan Arief, dan di penuhi foto Arief dan dirinya.
" Kenapa, kenapa, dan kenapa ? kau tinggalkan aku sendiri ? Aku ingin ikut kamu, kita hadapi dunia bersama jenapa kau tinggalkan aku Arief. . . . !" teriak Zha.
Mita dan Adi masuk kamar menenangkan Zha.
" Zha ini cobaan, jangan kau kalut dalam kesedihan, iklaskan Arief ?" kata Mita sambil memeluk sahabatnya lagi.
" Lihat kasur itu Mita . . . ?" kata Zha sambil menunjuk kasurnya yang masih berantakan. " itu saksi kalau Arief nenemaniku empat belas malam ini ".
" Aku tahu aku sepupumu, tapi juga sahabatmu, dulu kita hadapi dunia berempat, kita hadapi bertiga, kita janji akan menjagamu, agar Arief bahagia di sana " kata Adi sambil memeluk Zha.
__ADS_1
Rima dan Didik, bersedih bukan cuman karena calon menantunya meninggal, tapi juga karena anaknya stres kehilangan Arief.
" Cinta pertamanya harus pergi dengan tragis pak ?" tangis Rima pecah dalam pelukan Didik.
" Kita harus kuat buk, kita harus menguatkan putri kita satu - satunya " kata Didik yang masih melihat Zha di peluk para sahabatnya.
Malam itu Adi dan Mita harus tidur menemani Zha, Zha masih terus menangis.
Setelah pagi Zha sudah siap mandi, padahal temanya masih tidur.
" Kamu mau kemana Zha?" tanya Mita yang sadar kalau temanya sudah rapih.
" Aku akan menyambut kedatangan Arief Mit ?" kata Zha dengan mata berkaca - kaca.
" Ini masih terlalu pagi " sahut Mita.
Setelah semua siap dan sarapan pagi, tapi Zha hanya mengaduk nasi gorengnya.
" Zha, kau harus makan, kau harus siapkan dirimu untuk menyambut Arief " kata Mita.
Zha nangis dengan keras " Hu hu hu hu !"
Setelah itu mereka berangkat ke kediaman Angga. Di sana masih harus menunggu kedatangan jasad Arief.
...****************...
Dan kalung yang di pesan Arief sudah di pakaikan pada Zha sama Leon.
" Sebutuh - butuhnya kamu, jangan pernah jual kalung ini, karena ini pemberian spesial terahir darinya lindungi ini dengan segenap jiwa dan ragamu, seperti orang yang memberikan ini untukmu " ucap Leon.
Zha tidak menjawab hanya memeluk Leon dengan menangis sesenggukan.
Sudah hampir sebulan mereka menjadi suami ostri, Leon yang dibgin, tapi perhatian, tapi Zha perhatian Leon di anggap Zha sebagai seorang kakak, atau menganggapnya sebagai adik.
Zha di ajak pindah ke apartemen, Leon takut Zha akan nekat kalau tetap tinggal di rumah utama, Angga dan Dahli sedikit keberatan, tapi tidak bisa berbuat apa - apa. ini adalah keputusan mereka.
" Kak, apa kak Leon tinggal di sini sendirian ?" tanya Zha.
" Sama kamu ?" jawab Leon singkat.
" Dulunya maksud Zha ?" tanya Zha.
" Ya, ! tapi apartemen ini cuman satu kamar jadi kita tidur sekamar !?" tanya Leon.
__ADS_1
Zha berfikir, ' ternyata dugaanku salah, kak Leon mau menikahiku karena cinta, tapi ternyata dia hanya menuruti wasiat Arief tidak lebih, betapa pedenya aku ingin di cintai kakak dan adik '.
" Zha. ..!?" panggil Leon nembangunkan lamunanya.
" Iya kak " jawab Zha.
" kalau kamu keberatan, kita bisa sewa tukang, untuk tambah kamar ? " kata Leon.
" Tidak usah kak, " jawab Zha.
" Di tempat mami juga kita tidur satu kamar " kata Zha.
Leon hanya nengangguk.
Leon menyuruh Zha membereskan pakaianya si kemari. mereka tidur sati kamar, dan setiap akan tidur Zha selalu menangis, membayangkan Arief, hanya Leon yang bisa menenangkan dengan pelukanya.
Tapi malan ini Leon sibuk, harus lembur di ruangan kerja di apartemenya membuat Zha tidur sendiri dalam tangisanya sambil memeluk foto Arief, yang dia curi atau bawa diam - diam dari rumah Angga.
" Arief seandainya kamu tahu, aku mau menikah denganmu waktu itu kalau aku tahu kau akan neninggalkanku selamanya "
" Dan kanu tahu, kak Leon perhatian sama aku karena dia menganggapku adik, dia sama sekali tidak mencintaiku " kata Zha
" Tapi aku akan berusaha kuat demi kamu ?" kata Zha dalam kesendirian.
Zha masih bicara sendiri dalam tangisnya dan tertidur sendiri, saat Leon masuk ke dalam kamar, dia selalu mencium kening Zha. melihat foto di pekuk Arief Leon buka.
" Kapan kamu akan melupakakanya, apa kamu tidak tahu, kalau aku sangat mencintai kamu ?" kata Leon.
Lalu Leon tertidur di dekat Zha dan selalu memandang wajah Zha.
Keesokan paginya Zha mual, dan muntah - muntah, membuat Leon curiga, dan diam - diam, Leon membeli alat tes kehamilan.
" Kenapa kamu Zha ?" tanya Leon setelah Zha keluar dari kamar mandi dalam keadaan pucat.
" Tidak tahu kak Leon, mungkin Zha masuk angin ?" jawab Zha.
" Apa kamu hamil Zha ?" tanya Leon penuh selidik.
" Jaga mulut kak Leon . . .! " bentak Zha dengan mata berkaca - kaca.
" Siapa tahu ?" kata Leon cuek.
" Selama kita menikah, apa pernah kak Leon menggauliku, menciumku, terus aku hamil dengan siapa ?" tanya Zha dengan air mata bercucuran.
__ADS_1
" Arief. ya dengan Arief, kalau kamu ngaku hamil dengan Arief, aku tidak akan menceraikanmu, bagai manapun juga Arief adalah adik kandungku, seperti anak dalam kandunganmu, adalah tanggunganku !" jawab Leon tegas.