Janda Satu Miliar

Janda Satu Miliar
Part 99


__ADS_3

Saat tiba di gedung  perkantoran itu, suasana sudah terlihat ramai. Para pegawai pun sudah banyak yang mulai berdatangan. Ada juga beberapa di antara mereka yang sedang sarapan di kantin dan melakukan aktivitas lain.


Jack berjalan melewati para karyawannya dan mereka yang berpapasan dengan bos mereka, menunduk hormat.


Pria itu berjalan dengan tenang dan langkah yegap menuju lift yang akan membawanya ke lantai di mana terdapat ruangan pribadinya. Setelah beberapa saat sampai di sana, Jack memutar gagang pintu dan masuk, lalu, melangkah perlahan menuju meja kerjanyaz dia duduk di kursi kebesarannya seraya menyandarkan tubuh ke sandaran kursi, sambil menghela nafas panjang.


Lelah mungkin yang di rasa Jack saat ini. Sebenarnya wajar kalau dia mengalami kelelahan, sebab tidak tertidur semalam dan sekarang harus di hadapkan dengan setumpuk pekerjaan yang menantikan sentuhan darinya dengan segera. Apa lagi masalah kesehatan sang istri, yang juga membuat tenaga dan pikirannya seperti di kuras.


Dia pun memijat kepalanya yang terasa berat sekali, sambil memejamkan mata, berharap apa yang dilakukannya bisa mengurangi rasa pusing yang ada di kepala.


Setelah kepalanya terasa sedikit ringan, dia mulai mengambil lembaran kertas yang tersusun rapi di hadapannya, untuk memeriksakan kembali semua itu dan menanda tangani berkas-berkas yang ada.


Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, pekerjaan yang menumpuk pun sudah sedikit demi sedikit sudah berkurang jika di kerjakan dengan perlahan.


Jam istirahat pun telah tiba, Jack menyudahi semua pekerjaan lalu, merentangkan tangannya, sekedar meregangkan otot-otot tubuhnya agar terasa lebih nyaman yang tadi terasa kaku.


Dia bangkit dari duduk dan berencana ingin merebahkan tubuhnya di ruangan pribadi yang ada di sebelah lemari besar tempat buku-buku berada. Namun, Belum sempat dirinya melangkah pintu ruangan itu di ketuk seseorang.


"Silakan masuk," Jack mempersilakan orang tersebut untuk masuk.


Orang itu pun berjalan masuk ke ruangan, lalu duduk di sofa tanpa harus di persilahkan. Pria yang datang tiba-tiba itu adalah Rico.


"Ada, apa?" Tanya Jack terhadap Rico.


"Jangan ganggu dulu... gua mau istirahat sebentar," Ucap Jack terhadap sahabatnya sekaligus orang yang sangat dia percayanya.


"Ini cuma sebentar, Ada hal penting yang mesti gua omongin sama elu," Kata Rico.


"Cepat katakan!" Perintah Jack.


"Jam dua siang nanti, Gua mau tinjau lokasi yang masih di kerjakan. Katanya sudah hampir tujuh puluh persen. Lu ikut kagak?" Tanya Rico terhadap pak Boss, sekaligus sahabatnya.


"Gua ikut, lah... tapi ini gua mau istirahat sebentar, Semalam nggak tidur, Ini udah berat bener rasanya mata gua.” Ucap Jack.


"Emangnya habis ngapain Lu, sampe nggak tidur?" Tanya Rico sambil menatap wajah sahabatnya itu, Yang terlihat sedikit kusam akibat kurang tidur.

__ADS_1


"Gara-gara Ferdy, tuh, dia habis kecelakaan terus ya, gua temenin dia ada di klinik," jawab Jack.


"Dia kenapa?" Tanya Rico dengan raut wajah cemas.


"Tidak apa-apa, Cuma kecelakaan sedikit dan sekarang sudah membaik, kok!" Jawab Jack.


"Sekarang gimana, apa dia masih di klinik?" Tanya Rico kembali.


"Sepertinya sih, iya, dia masih di sana," Ucap Jack.


"Sudah, Lu keluar udah sepet mata gua... Mau tidur!" Jack menyuruh Rico untuk keluar dari ruangannya.


"Baiklah, Gua ke luar tapi ingat nanti sore kita tinjau lokasi, ya?" Ucap Rico mengingatkan kembali.


"Iya, iya!" Jawab Jack sambil berlari lalu berjalan perlahan menuju ruang istirahat nya. Meninggalkan Rico yang masih duduk di sofa.


Setelah Jack masuk ke ruangan pribadi itu, Rico pun keluar dari sana.


Saat ini Jack sudah berada di ruang istirahat yang nyaman. Di dalamnya terdapat satu tempat tidur dan ada juga lemari pakaian yang ada beberapa pakaian ganti yang biasa di kenakan Jack jika dalam keadaan darurat dan tidak bisa pulang terlebih dahulu.


🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾


Sementara Itu Di Rumah Mira.


Kedua wanita paruh baya itu sedang sibuk mengemasi barang-barang, Mereka akan pulang ke Rumah mereka masing-masing. Sudah cukup lama bagi keduanya menginap di rumah anak mereka itu.


Walaupun, dalam hati kecil mereka, belum ingin pergi dari sana, karena mereka masih betah tinggal bersama. Namun, Apalah daya, bagi Bu Dellia, Mira belum bisa menerima kehadiran mamanya dengan ikhlas. Jika di ajak bicara pun hanya menjawabnya dengan singkat.


Mungkin saja Mira memang masih butuh waktu terlebih dahulu untuk beradaptasi dengan keadaan hingga bisa menerima kenyataan sebenarnya tentang ibunya yang baru bersamanya kembali setelah sekian lama, pikir Bu Dellia. Dan itu mungkin lebih baik.


Sebelum pulang dia ingin mengunjungi makam karina terlebih dahulu. Dia ingin sekali mengajak Mira untuk pergi ke sana, Dellia ingat pertama mereka bertemu yaitu pada saat dirinya berkunjung ke pemakaman.


Bu Merlin juga sebetulnya ingin menghabiskan sisa umurnya, Beserta anak menantu dan cucu. Tetapi Mira juga belum bisa ikut tinggal bersamanya, dia lebih memilih tinggal di rumah sederhana miliknya sendiri. Entah apa yang ada dalam pikiran Mira sehingga tidak mau menerima kemewahan yang di miliki sang suami. Sungguh wanita yang sangat aneh.


"Mau jam berapa ke pemakamannya?" Tanya Bu Merlin terhadap Bu Dellia.

__ADS_1


"Setelah ini langsung berangkat, Dan langsung pulang setelah selesai dari sana," Jawab Bu Dellia.


"Mira ikut tidak?" Tanya Bu Merlin.


"Belum tahu, Pas tadi pagi di ajak juga tidak menjawab," Ucap Dellia dengan raut wajah yang sendu.


"Ya, Sudah jangan menunjukkan wajah seperti itu, Kamu tahu sendiri, kan dengan kesehatan Mira sekarang, seperti apa? Jadi kita sebisa mungkin harus membuat dia terus merasa bahagia, dan jangan sampai merasa tertekan dengan semua keadaan," Kata Bu Merlin.


"Iya," Jawab Bu Dellia singkat, Sambil tersenyum tipis menatap ke arah besannya itu.


Kedua wanita itu keluar dari kamar yang di tempati mereka, Bu Dellia melangkah dengan membawa tas yang berisi barangnya tetapi Bu Merlin tidak. Bu Merlin akan pulang setelah Jack kembali dari kantor.


Bu Merlin pun memanggil Mira, Dia memberi tahu bahwa Mamanya akan pulang sekarang.


Setelah beberapa saat Mira pun datang.


"Ada apa, ma...?" Tanya Mira.


"Mama pamit pulang dulu... Nanti kapan-kapan pasti akan berkunjung lagi ke sini," Kata Bu Dellia.


"Ohhh," Hanya itu yang terlontar dari bibir Mira.


"Mama pamit ya...?" Ucap Bu Dellia berpamitan, Sambil melihat wajah sang anak yang terlihat datar.


Dellia pun keluar Rumah, di antar Bu Merlin dan juga Mira sampai di teras Rumah.


Mira mencium punggung tangan sang mama. Lalu, memeluknya hangat. Meskipun belum bisa berdamai dengan keadaan setidaknya, dia menghormati yang lebih tua. Hanya itu yang ada di pikiran Mira.


Mira pun melambaikan tangannya terhadap sang mama yang sudah berada di dalam mobil, dan perlahan mobil yang di tumpanginya menghilang dari pandangan.


Mira dan Bu Merlin pun masih berdiri di teras, Setelah itu bu merlin mengajak menantu nya untuk masuk.


 


 

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2