Janda Satu Miliar

Janda Satu Miliar
Part 189


__ADS_3

Anita, Rico dan juga Ferdy.


Mereka semua ada di klinik termasuk Zay juga di bawa, mereka semua berkumpul untuk menemani Jack, agar dia merasa bahwa semua orang sangat menyayangi Mira dan putri kecilnya.


Mereka semua ada di ruangan putri kecil nya Jack dan juga mira, di sisi lain mereka bahagia akan kehadiran anggota keluarga baru tapi di sisi lain ada Mira yang sedang berjuang melawan maut. Haruskah tertawa dan menangis di waktu yang bersamaan.


Semua yang ada di ruangan terdiam dan mereka sibuk dengan pikiran Masing-masing.


Tiba-tiba Anita berkata "Hai kakak Zay, kenapa wajah nya di tekuk seperti itu" tanya Anita terhadap Zay, dia perhatikan dari tadi bahwa Zay murung.


"Zay nggak apa-apa ko tante" jawab Zay sambil turun dari tempat duduk, dia berjalan mendekat ke arah box bayi.


Dia memandang sang adik yang masih merah itu, ingin rasanya dia menggendong nya tetapi belum bisa.


"Tante Zay mau gendong Dede bayi tapi belum bisa" ucap Zay sambil melihat ke arah Anita.

__ADS_1


"Owhh... kakak mau gendong Dede bayi, baiklah tante bantu" jawab Anita sambil mendekat ke arah box bayi, dia mengambil bayi kecil itu lalu di ambil dari dalam box. Anita pun membawa Bayi tersebut ke sofa lalu di ikuti Zay, dia pun duduk di atas sofa lalu Anita menaruh bayi tersebut di pangkuan Zay.


"Terimakasih tante" kata Zay, sambil tersenyum tipis.


"Sama-sama, Hati-hati pegang nya yah! " kata Anita dia juga masih duduk di samping Zay.


Jack dari semalam belum juga keluar dari ruangan Mira, dia tidak sedikit pun beranjak dari sisi sang istri. Jack tidak ingin jika Mira membuka matanya saat dirinya tak di samping Mira.


*****


Entah apa terjadi monitor perekaman detak jantung pun tiba-tiba berbunyi, dan hal itu membuat Jack kaget dan langsung memanggil dokter dan para perawat.


Dokter dan perawat pun sudah ada, dan mereka sedang memeriksa keadaan Mira.


Dokter Riyan pun terlihat panik, apalagi Jack sudah tidak bisa berkata apapun saat istrinya seperti itu.

__ADS_1


Tubuh Jack sudah gemetar bahkan bentuk berbicara pun sungguh tak mampu.


Dokter Riyan pun terus berupaya untuk merespon kembali detak jantung Mira, tapi sungguh sayang itu tidak terjadi.


Dia terus melakukan nya tetapi sama sekali tidak ada hasil yang baik.


"Sus, coba sekali lagi! " Perintah dokter Riyan terhadap salah satu perawat.


"Baik, dok" jawab perawat itu.


Perawat itu menempelkan alat pendeteksi detak jantung, untuk memastikan nya bahwa detak jantung nya masih ada atau tidak. Dokter Riyan pun terus melihat ke arah alat tersebut dan sungguh di sayang kan usaha nya selama ini untuk menjaga Mira dan bayinya harus berakhir seperti ini.


Setelah beberapa saat hasil nya pun sudah keluar, perawat itu menyerahkan selembar kertas kecil. Bahwa itu bukti print out hasil rekaman jantung Mira sudah berhenti berdetak dan di nyatakan meninggal.


Dunia terasa runtuh seketika saat mendengar dokter Riyan berbicara seperi itu terhadap beberapa perawat di sanah. Tetapi,bisa di dengar jelas oleh Jack. Kakinya sudah tak sanggup lagi menopang bobot tubuhnya,ambruk sudah Jack di lantai bahwa ini akhir dari segalanya. Kenangan indah bersama Mira pun menari-nari di kepala Jack, dan air mata sudah tak bisa di tahan lagi. Ini pertama kali Jack mengeluarkan air mata untuk seorang wanita yaitu istrinya yang telah melahirkan sang buah hati.

__ADS_1


Begitu pun dokter Riyan, sebetulnya dia juga merasakan hal yang sama seperti Jack.Tetapi dia berusaha untuk tidak menunjukkan nya di depan orang banyak padahal dalam hatinya pun ikut menangis.


__ADS_2